Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Surat dalam Origami


__ADS_3

Carmen


Aku berjalan lurus dan mengacuhkan Mas Zaky yang sejak tadi mensejajari langkahku sambil mengoceh tak jelas. Ada saja yang ia katakan namun aku tak ambil pusing. Aku acuhkan dan langkahku berbelok di sebuah warung ayam bakar yang terletak di dalam gang.


"Kamu mau makan di sini? Aku juga deh. Kamu mau dada atau paha?" tanya Zaky.


Aku menghampiri Ibu penjual ayam bakar. "Bu, ayam bakar paha pakai nasi. Minumnya es teh manis," pesanku.


"Saya juga, Bu. Kami duduknya bareng!" sahut Mas Zaky.


Aku masuk ke dalam rumah yang biasa dijadikan tempat makan. Banyak karyawan lain yang makan di rumah makan ayam bakar ini saat jam istirahat. Aku mencuci tanganku dulu di washtafel sebelum duduk. Lagi-lagi Mas Zaky mengikuti langkahku.


Aku memilih tempat duduk kosong dengan meja di tengahnya. Duduk lesehan lebih enak dan makannya dengan tangan. Pasti terasa lebih lezat.


"Aku baru tahu ada rumah makan yang jual ayam bakar dan makannya di dalam rumah seperti ini. Kamu tahu dari mana, Baby?" tanya Mas Zaky padaku. Tentu saja tidak aku jawab. Aku mengacuhkan dirinya dan malah mengeluarkan Hp milikku dan membaca berita tentang artis yang sedang ramai dibicarakan..


"Kamu ikutin kasus artis itu juga? Nyebelin ya? Sudah bikin heboh satu negara eh sekarang berakhir dengan dihujat. Menurut kamu mereka settingan atau tidak?" Mas Zaky kembali bertanya padaku. Mengajakku untuk mengobrol dengannya.


Aku tetap mengacuhkannya. Ia kembali mengoceh tentang berita yang viral. Tak ada satupun yang aku tanggapi. Terserah dia mau melakukan apa, aku tak peduli.


Sampai makanan yang aku tunggu datang. "Terima kasih, Bu!" kataku saat menu yang kami pesan dihidangkan di meja makan.


"Wah kayaknya enak nih!" ujar Mas Zaky.


Aku baru saja hendak menyentuh tanganku ketika Mas Zaky melarang. "Stop! Tangan kamu habis pegang Hp. Pakai ini." Mas Zaky menyemprotkan hand sanitizenya ke tanganku. Mau tak mau aku mengusap tanganku sampai kering baru mulai makan.


"Ponsel kita itu adalah benda paling banyak kumannya. Jangan sampai kumat yang ada di ponsel tersebut nanti ikut termakan dan membuat kita sakit perut," nasehat Mas Zaky.


Kenapa sih dia bawel sekali?


"Hmm ... enak sekali ayam bakarnya! Kapan-kapan kita ke sini lagi ya? Kamu mau enggak?" tanya Mas Zaky.


Aku asyik saja makan tanpa menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Kok enggak dijawab sih? Aku mau dengar suara kamu tau, Baby. Assalamualaikum?" Lagi-lagi Mas Zaky menggunakan kemampuannya membuatku menjawab salam. Licik sekali dia.


"Waalaikumsalam," jawabku singkat.


"Wah suara kamu masih merdu ya Baby. Adem banget di telinga aku. Kamu tahu rumah makan ini dari siapa?"


Aku menghabiskan ayam bakarku tanpa sisa. Memang lezat sekali sih.


"Yah ... enggak dijawab lagi!" Mas Zaky mengeluh dengan suara kecewa padaku.


Selesai makan aku mencuci tanganku, Mas Zaky sudah duluan. Saat aku hendak membayar, Ibu penjual ayam bakar menolaknya. "Sudah dibayar Mbak sama suaminya." Ibu itu menunjuk Mas Zaky yang menunggu di depan.


Aku mengucapkan terima kasih pada Ibu penjual ayam bakar lalu berjalan keluar. Mas Zaky mengikuti dari belakang. Kali ini tak ada suara apapun. Ia hanya diam. Baguslah.


Ketika ada motor yang lewat dari belakang, lengan Mas Zaky dengan sigap melindungiku. "Awas, ada motor! Kamu kalau jalan lihat belakang juga. Jangan kebanyakan bengong!"


Motor tersebut lalu melewatiku. Aku kembali berjalan dan mengacuhkannya. Mas Zaky tetap mengikutiku dalam diam. Sampai kami tiba di dekat cafe dan ia berkata, "Aku tak akan kapok kamu cueki seperti ini. Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku menyesali perbuatanku dan akan membuktikannya lewat perbuatan."


Aku masuk ke ruanganku dan kembali menangis. Kenapa Mas Zaky melakukan ini padaku? Kenapa ia berbuat seenaknya sendiri? Membuat luka lalu kini ingin menghapusnya?


Kuhapus kasar air mataku. Aku ingin bekerja lagi. Aku harus melupakan Mas Zaky. Kami sudah bercerai. Percuma juga dia menghapus luka kalau dia tak akan pernah mencintaiku.


Aku menyibukkan diriku memeriksa laporan demi laporan sampai akhirnya leherku merasa pegal. Hari sudah malam. Aku rasa jalanan Jakarta sudah tak terlalu macet lagi. Aku merapihkan tas dan laptop lalu mematikan lampu ruang kerjaku dan siap pulang.


"Maaf, Bu. Ada pesan untuk Ibu," ujar kasir yang mencegatku sebelum keluar cafe.


"Pesan?" Aku menerima selembar kertas yang dibuat menyerupai origami. Kayaknya aku tahu siapa yang membuatnya. "Oke. Makasih. Saya pulang dulu."


Aku keluar cafe dan masuk ke dalam mobil. Rasa penasaran membuatku membuka isi surat yang diberikan oleh Mas Zaky. Kunyalakan lampu dalam mobil dan kubuka kertas origami.


Hi Cewek Cantik!


Perkenalkan nama aku Zaky

__ADS_1


Aku bekerja di kantor Papaku


Status aku sekarang seorang duda


Maukah kamu berkenalan denganku?*


Ps: Jika hubungan kita salah, maka aku akan memulainya dengan berkenalan yang benar. Mulai sekarang aku yang akan mengenal kamu lebih jauh. Salam sayang, mantan suami kamu.


Aku menutup mataku. Kubiarkan air mata membasahi wajah ini. Apa maunya Mas Zaky? Aku sudah memberinya kebebasan namun kenapa ingin lebih dekat denganku?


Tak mungkin semua ini karena ia mencintaiku. Karena cintanya hanya untuk Kak Dewi seorang. Kumasukkan origami pemberiannya ke dalam dashboard mobil lalu kulajukan mobilku pulang.


Aku memasukkan mobilku ke dalam garasi, namun saat aku hendak menutup pintu pagar aku melihat sebuah plastik dengan sebuah origami di dalamnya. Apakah Mas Zaky menggantungnya di pagar saat aku sibuk memarkirkan mobil?


"Kamu baru pulang, Baby?" Pertanyaan Abi membuatku terlonjok kaget. Aku menoleh ke belakang. Untung saja Mas Zaky sudah pergi, kalau tidak gawat. Abi bisa marah-marah dan melarangku keluar rumah lagi.


"Iya, Bi." Aku salim pada Abi lalu masuk ke dalam rumah.


"Cepat mandi, Abi dan Mommy tunggu di meja makan!" kata Abi sebelum mengunci pintu ruang tamu.


"Iya, Bi." Aku naik ke atas dan masuk ke dalam kamar. Kubuka isi plastik yang Mas Zaky berikan. Sebuah susu UHT rasa strawberry kesukaanku. Kubuka kertas origami yang pasti berisi pesan.


Hi gadis cantik!


Jangan lupa minum susu sebelum tidur.


Bagus untuk membuat tubuh yang lelah seharian bekerja lebih rileks.


Jangan lupa cuci muka dan bersihkan make up tanpa sisa. Jangan sampai jerawat bandel hinggap di wajah cantik kamu.


Salam sayang, duda depan rumahmu.


****

__ADS_1


__ADS_2