Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Masalah Baru


__ADS_3

Carmen


" Untuk itulah aku cerita sama Mommy. Aku yakin, Mommy bisa membantu aku dan Mas Zaky untuk keluar dari masalah ini. Mas Zaky sudah berusaha untuk mendekati Abang Wira, selanjutnya giliran Abi. Kami berjuang bersama, My. Mommy mau 'kan mendukung kami berdua?" Aku menatap Mommy dengan tatapan penuh harap, biasanya cara ini akan sangat manjur bekerja pada Mommy dan Abi. Apakah kali ini akan berhasil juga?


Mommy kembali menahan nafas dalam, Mommy bahkan kehilangan selera untuk memasak sarapan pagi setelah mendengar cerita dariku. "Mommy tidak tahu. Mommy tidak bisa membantu banyak. Kamu tahu sendiri bagaimana marahnya Abi saat kalian bercerai dulu. Jika Mommy membujuk Abi di saat Abi sedang dalam keadaan emosi seperti itu, sama saja menggali lubang kubur untuk Mommy sendiri, Baby. Mommt tak berani. Lebih baik Zaky sendiri deh yang menghadapi Abi. Mommy takut."


"Ya ... aku pikir Mommy akan membantu aku. Ayo dong, My. Bantu aku sekali ini saja. Memangnya Mommy tidak mau melihat aku bahagia? Kamu tahu sendiri, sejak dulu hanya Mas Zaky yang aku cintai. Setelah tahu kalau cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, aku sangat bahagia, My. Aku berusaha tarik ulur tapi ternyata kebahagiaanku justru malah terlihat jelas di mata Mas Zaky. Apalagi saat aku tahu sekarang Mas Zaky begitu bucin sama aku. Aku semakin meleleh. Aku bisa berbuat apa? Mommy saja dulu tergila-gila dengan Abi bukan?" rengekku.


"Abi yang tergila-gila pada Mommy. Tolong garis-bawahi itu ya! Bukan Mommy, tapi Abi," kata Mommy yang sekuat hatu menjaga harga dirinya.


"Kata Abi, yang ngajak Abi nikah Mommy. Kalau bukan Mommy lalu siapa dong yang bener nih?" Sengaja makin kupanasi Mommy agar Mommy terkenang masa lalunya dan mau membantuku.


"Ya Mommy dong yang benar. Kamu nggak percaya sama Mommy?" kata Mommy dengan penuh harga diri, padahal semua tahu kalau Mommy yang mengajak Abi menikah duluan dan berhasil membuat Abi jatuh hati.


"Aku percaya sama Mommy, kalau Mommy mau membantu aku. Jadi Mommy akan membantu aku 'kan?" Akhirnya jebakan yang aku pasang dimakan juga oleh Mommy. Semoga saja Mommy mau membantuku.

__ADS_1


"Pintar sekali ya kamu membujuk Mommy. Sudah, lihat nanti saja! Mommy adi pusing nih mikirin masalah kamu. Kamu saja yang lanjutkan memasak, Mommy jadi malas!" Mommy lalu meninggalkan dapur dan masuk ke dalam kamarnya. Aku tidak bisa membujuk Mommy kalau beliau sudah dalam mode diam seperti itu. Abi saja menyerah, apalagi aku?


Akhirnya aku yang harus menyelesaikan acara memasak yang sudah dimulai oleh Mommy. Kukeluarkan ilmu memasakku dan berharap Mommy serta Abi menyukai makanan buatanku. Oh iya, Vino juga harus suka, karena sayur ini adalah sayur kesukaan Vino.


Selesai dengan semua masakan, aku mendengar suara Abi yang mengucapkan salam di pintu depan. Abi terlihat berkeringat sehabis latihan badminton. "Kok tumben putri cantik Abi yang memasak?" Abi ingin memelukku namun aku menghindar.


"Abi, nggak mau peluk ah! Abi basah sama keringat! Mandi dulu sana!" Aku terus menjauh dari Abi agar tidak kena pelukannya.


"Oh gitu ya? Sekarang udah mulai sombong nih anak Abi? Tak mau dipelul Abi lagi? Dulu, kalau Abi pulang olahraga langsung saja peluk dan cium Abi. Mau Abi bau ketek, bau keringat atau bau matahari tetap saja kamu peluk Abi. Sekarang, abi berkeringat seperti ini kamu langsung kabur!" Abi memasang wajah sedih namun tidak membuatku goyah.


"Iya, sudah menikah tapi gagal. Mana Mommy kamu? Kenapa kamu yang masak? Mommy kamu sakit?" Abi terlihat khawatir saat menanyakan keadaan Mommy.


"Mommy nggak kenapa-napa kok, Bi. Aku saja yang lagi dihukum sama Mommy untuk memasak. Mommy ada di kamar. Abi harus mandi dulu baru sarapan ya!"


"Ih lagaknya benar-benar seperti nyonya rumah! Ya sudah Abi mau mandi dulu. Oh iya, jangan lupa siapin minuman susu jahe buat Abi! Kayaknya badan Abi pegel-pegal nih sehabis bermain badminton." Abi lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya. Kusiapkan susu jahe kesukaannya dan menghidangkannya di meja makan

__ADS_1


15 menit kemudian Abi keluar dengan Mommy. Abi sudah selesai mandi dan Mommy yang masih menekuk wajahnya. Dari raut wajah Abi, sepertinya Abi belum tahu karena Mommy belum cerita. Untunglah. Aku tak siap menghadapi ini semua sendirian


"Wah sudah disediakan nih susu jahe buat Abi. Memang ya kalau ada anak perempuan di rumah itu lebih enak. Tinggal perintah, langsung dibuatin deh. Anaknya lebih penurut. Memangnya kayak kakak kamu tuh, Abi suruh juga belum tentu dikerjain!" gerutu Abi seraya menikmati susu jahe buatanku. "Enak nih. Manisnya pas!" Kembali aku menerima pujian dari Abi. Aku melirik ke arah Mommy yang masih terdiam dengan wajah ditekuk. Ya ampun, Mommy makin marah nih. Bagaimana ya dengan nasibku?


Mommy lalu menyendokkan nasi beserta lauk yang sudah aku buatkan. Abi pun melakukan hal yang sama. Kami makan dengan tenang sampai kemudian Mommy mulai protes. "Sayurnya kurang garam. Terlalu hambar. Mamu tadi kasih gula juga tidak? Pasti nggak deh. Rasanya tuh kurang enak!" Akhirnya aku mendapat protes dari Mommy.


"Enggak aku kasih, My. Aku nggak berani juga kasih garam banyak-banyak, takut keasinan," jawabku jujur.


"Enak kok. Baby itu baik tau My, dia nggak mau tensi darah kita semakin naik. Makanya Baby mengurangi konsumsi garam. Itu dilakukan dengan penuh cinta. Anak Abi gitu loh!" Karena aku mendapat pembelaan di depan Mommy, membuat wajah Mommy semakin masam saja.


Ternyata yang selama ini aku dan Mas Zaky pikir akan satu kubu ternyata juga harus kami lewati juga sebagai cobaan, ya Mommy ini. Kupikir selama ini Mommy mendukung hubunganku dengan Mas Zaky, ternyata sekarang Mommy tidak mau ikut campur dan malah memasang wajah jutek.


"Mammy lagi koreksi, Bi. Agar Baby hidupnya semakin benar," jawab Mommy.


"Loh, memangnya Baby hidupnya nggak bener? Apa hubungannya sih masakan sama hidup?" tanya balik Abi.

__ADS_1


"Ya ada hubungannya dong, Bi. Dalam memasak itu harus berani bumbu. Berani mencoba-coba. Bumbu ini pas atau tidak. Namun, setiap hal yang kita coba dalam hidup itu ada konsekuensinya. Contohnya, terlalu banyak memberi garam pasti akan asin. Terlalu banyak memberi gula, pasti akan terlalu manis. Jadi kita harus seimbang. Jangan terlalu banyak berharap pula pada sesuatu karena biasanya hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan," sindiran Mommy membuatku terdiam. Ada lagi masalah yang harus aku hadapi dalam dengan Mas Zaky. Huft ....


__ADS_2