
Carmen
"Baby ... dan Zaky saling sayang," Kulemparkan bola dan ditangkap oleh Om Riko.
"Sayang ... lo jelek!" Om Riko melempar bola ke Om Sony.
"Jelek ... tapi berkualitas." Om Sony melemparkan bola pada Papa Damar.
"Berkualitan ... tuh anak gue!" Sempat-sempatnya Papa Damar pamer di depan yang lain. Papa Damar lalu melemparkan bolanya pada Abang Wira.
"Gue ... kuat di ranjang." Abang sama saja dengan Papa Damar. Malah pamer. Bola lalu dilemparkan ke Mama Tara.
"Ranjang ... gue selalu bergoyang." Mama Tara tertawa kencang, yang lain pun demikian. Mama Tara lalu melemparkan bola dan ternyata kena ke Abi Agas.
"Bergoyang ... lagi gempa?" sindir Abi Agas tanpa senyum. Bola lalu dioper lagi ke Om Bastian.
"Gempa ... lokal? Mau ...." Om Bastian melemparkan ke Kak Dewi.
"Mau .... punya banyak bisnis." Kalau Kak Dewi mah menyuarakan isi hati. Dasar otak bisnis. Sama saja dengan Abang. Kak Dewi melemparkan bolanya dan mengenai Mas Zaky.
"Bisnis ... itu mah kecil." Mas Zaky ikut-ikutan sombong juga ternyata. Bola lalu dilempar dan kembali ke Om Sony.
"Kecil? Punya gue sih gede!" kata Om Sony dengan bangganya. Semua menyoraki Om Sony, lagi. Om Sony lalu melempar bola dan mengenai Abi.
"Gede tapi lemah!" sindir Abi sambil tersenyum jahil. Dilemparkannya bola ke arah Abang Wira.
"Lemah tak bergairah." Abang melempar bola dan terkena Mommy.
"Bergairah kayak malam pertama?" Mommy melempar bola padaku.
"Pertama ... kali sih sakit," jawabku jujur. Mas Zaky menutup mulutku tiba-tiba. Kenapa sih? Ada yang salah. Lalu saat semuanya tertawa, aku sadar kalau aku keceplosan. Bola yang kupegang malah dipegang Mas Zaky. Berarti sekarang gilirang Mas Zaky.
"Sakit ya? Sakit tapi enak." Mas Zaky garuk-garuk kepala dan tersenyum malu.
"Huhhhh! Itu sih doyan!" sindir Om Riko.
"Buktinya langsung bunting!" sahut Om Sony. Keduanya pun tertawa puas.
__ADS_1
Mas Zaky melempar bola dan mengenai Papa Damar. "Enak dan bikin nagih." Papa Damar malah membuat suasana makin panas. Semua kini pikirannya traveling karena pilihan kata yang menjurus ke arah sana semua.
Bola lalu diberikan Papa Damar ke Mama Tara. "Nagih apalagi pakai gaya baru."
"Panas woy, panas!" celetuk Om Sony.
"Enggak ada lawannya woy!" sahut Om Riko.
Semua tertawa mendengar keluhan dua jomblo abadi tersebut. Tak ada yang kasihan, malah merasa senang dengan mereka yang terlihat nelangsa.
"Apa kita nanti pas sampai langsung berenang ya biar kisut?" tanya Om Sony pada Om Riko.
"Ogah! Lo aja sana. Gue sih tinggal telepon resepsionis aja!" jawab Om Riko.
"Gue juga deh," Om Sony malah ikutan dengan rencana Om Riko, membuat kami yang mendengarnya geleng-geleng kepala. Dasar jomblo!
"Tara, cepetan lempar! Jangan sampai dua orang ini makin ngaco!" ujar Om Bastian.
"Iya bener, Tan. Aku takut tergoda juga," sahut Abang Wira yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya oleh Kak Dewi.
"Emang enak enggak bebas lagi kayak kita?" ledek Om Riko dengan bangganya.
"Biarin yey, yang penting malamnya tinggal colek langsung bertempur. Enggak pesen dulu tapi yang dateng emak-emak tukang pijit ha ... ha ... ha ...." Abang balas menertawakan kedua Om jomblo itu. Semua ikut tertawa mendengar percakapan mereka yang absurd.
"Udah dong. Aku mau lempar bola nih!" protes Mama Tara.
Semua pun diam. Tak saling mengejek. Mama Tara lalu melempar bola ke arah istrinya Om Bastian yang sejak tadi tak banyak bicara namun ikut tertawa setiap ada momen lucu.
"Tadi apa ya?" tanya istrinya Om Bastian.
"Baru, Sayang," jawab Om Bastian dengan lembut. Om Bastian ini memang paling beda di geng Abi. Paling lembut dan akhlaknya baik, beda dengan yang lain. Sayang, Om Bastian kalah ganteng dibanding Abi. Kalau tidak, pasti Om Bastian yang lebih terkenal dibanding Abi.
"Oh iya. Baru ... saja semalam," kata istrinya Om Bastian malu-malu.
"Wah dibongkar juga ha ... ha ... ha ...." celetuk Om Riko sambil tertawa. Yang lain pun demikian. Tak menyangka dibalik sikap kalemnya ternyata Tante Fanny bocor juga.
Bola kembali dilempar ke arahku. Mas Zaky sudah siap-siap. Takut aku berkata jujur lagi seperti tadi. "Semalam ... aku juga," kataku malu-malu.
__ADS_1
Mas Zaky tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Yah ... dia juga. Kita malah nonton bola, Ko!" kata Om Sony.
"Pada pamer. Males gue," sahut Om Riko.
"Udahan aja yuk! Kita nyanyi lagi!" Saat aku lengah, bola diambil Om Sony dan mereka kembali mengacaukan acara yang sedang seru-serunya.
"Yah ... curang!" celetuk Om Bastian.
"Iya nih ganggu aja!" sahut Abang.
"Biarin wek! Ayo kita nyanyi lagi!" Om Sony mulai memainkan gitar dan Om Riko bernyanyi. Pesta pun bubar.
Semua kembali duduk dan aku kembali mengatur bantalku agar nyaman untuk aku tidur. "Kamu kesal ya?" tanya Mas Zaky.
"Enggak terlalu sih. Kedua Om itu pasti panas mendengar semuanya pamer pasangan. Kasihan tapi mau bagaimana lagi? Lebih baik aku tidur. Kabari ya Mas kalau sudah sampai," pesanku pada Mas Zaky.
"Iya, Sayang. Ayo tidurlah." Mas Zaky mengusap rambutku seperti biasa dan membuatku langsung tertidur pulas. Aku tak peduli suara gitar dan suara sumbang Om Riko, tak mempengaruhi kualitas tidurku.
Aku terbangun karena merasa agak pegal. Kuregangkan tubuhku dan saat membuka mata sudah ada air mineral botol yang dibukakan oleh Mas Zaky. "Minum dulu. Ibu hamil harus banyak minum," pesan Mas Zaky yang sudah beribu-ribu kali aku dengar. Tak ada bosannya menasehatiku tentang pentingnya banyak minum air.
"Iya, Mas." Kuambil air mineral dari Mas Zaky dan membasahi tenggorokanku. Sekarang aku lebih segar.
Aku melihat ke sekitar. Tak ada lagi suara Om Sony dan Om Riko yang bernyanyi sambil bermain gitar. Keduanya tertidur pulas dengan suara mendengkur yang bersahutan.
"Dua bocah tua nakal sudah kecapekan. Meski berisik, namun tanpa mereka pasti kita akan sepi selama perjalanan." Aku menunjuk ke arah Om Riko dan Om Sony.
"Biarkan saja mereka mengisi baterai mereka dulu. Kamu mau apa? Mau cemilan?" tanya Mas Zaky yang selalu siaga dengan semua kebutuhanku.
Aku menggelengkan kepalaku. Aku merangkul tangan Mas Zaky dan menyandarkan kepalaku di bahunya. "Mas, apa Mas sudah tak punya keinginan agar kita pindah ke rumah kita lagi? Kok Mas tak pernah minta sama Abi agar kita bisa pindah rumah?"
Mas Zaky tersenyum. "Kata siapa tidak mau? Mau banget malah. Mas hanya takut."
"Takut? Takut kenapa?" tanyaku penasaran.
Kalian penasaran juga? Sama dong seperti aku saat membaca novel Warna Warni Dunia Sri, ceritanya bikin penasaran saja. Yuk intip FB Mizzly, ada giveaway di sana yang bikin kalian bisa baca gratis. Cuss sekarang, yuk!
****
__ADS_1