
Carmen
"Boleh saja. Jangan sabtu ya. Aku mau pergi sama Bahri. Minggu mau pergi sama Abi dan Mommy kondangan. Bagaimana kalau kamis saja?" tanyaku.
"Bahri? Mau ngapain kamu pergi sama dia?" tanya Mas Zaky yang terlihat agak kesal.
"Itu urusanku," jawabku singkat. Enak sekali steak yang kumakan ini. Begitu lembut. Tak rela rasanya makan steak ini cepat-cepat.
"Aku berhak tau. Selama kita kencan berarti kamu pacar aku. Kalau kamu pergi dengan lelaki lain berarti kamu selingkuh dong?" Mas Zaky menaruh garpu dan pisaunya. Ia terlalu kesal sampai tak mau makan lagi.
Aku tak peduli. Aku tetap makan steak lezat ini. Tak kuindahkan wajah Mas Zaky yang memerah karena marah.
"Loh salahnya dimana? Waktu kita menikah dulu, kamu malah mencintai wanita lain. Bukankah itu malah lebih menyakitkan daripada selingkuh. Mm ... bisa dibilang itu selingkuh dalam hati. Lebih tertutup dan susah dicari buktinya," kataku dengan santai.
"Tuh dibahas lagi masalah kita waktu nikah dulu. Aku sudah mengakui kesalahanku. Aku juga sudah tobat. Kenapa masih dibahas sih?" protes Mas Zaky.
Aku tersenyum seraya mengiris daging steak dengan pelan. "Karena sebuah luka meski sekecil apapun akan tetap membekas. Sama seperti daging ini. Saat aku mengirisnya, selembut apapun gerakanku tetap saja daging ini akan terpotong dan meninggalkan bekas. Seperti hati. Kalau sudah teriris, akan meninggalkan bekas meski sudah dipotong sampai akarnya sekali pun."
Mas Zaky terdiam mendengar perkataanku. "Oke. Aku tahu kalau aku sudah meninggalkan bekas luka di hati kamu. Bagaimana caranya aku bisa menyembuhkan luka di hati kamu?" tanya Mas Zaky sungguh-sungguh.
Selesai sudah kuhabiskan steak mahal nan lezat ini. Kuambil tisu dan mengelap ujung bibirku agar tak kotor. "Caranya sama seperti yang kulakukan. Menghapus tanpa ada sisa."
"Akan aku lakukan. Akan kuhapus semua luka kamu!" kata Mas Zaky penuh semangat.
"Sayangnya, penghapusan mahal sekalipun terkadang masih meninggalkan bekas," kataku membuat Mas Zaky semakin kesal dengan jawabanku yang muter-muter dan tak jelas.
"Ya lalu aku harus apa?"
"Jangan lakukan apa-apa. Biarkan orang lain yang menyembuhkan dan menghapus luka yang kamu buat," kataku dingin.
"Bahri maksud kamu yang akan menghapus luka yang aku buat?" tanya Mas Zaky.
"Entah," kataku membuat Mas Zaky makin penasaran.
"Tak akan aku biarkan. Kamu tuh cuma punya aku. Jangan harap ada lelaki lain yang bisa merebut kamu dari aku!" Mas Zaky meminum air mineral di depannya. Meredam emosi yang sejak tadi aku mainkan.
Aku mengulum senyum. Kutatap wajah Mas Zaky yang merah padam karena emosi. "Aku bukan boneka atau mainan yang menjadi milik kamu seorang. Aku bebas. Aku janda sekarang kalau kamu lupa. Mau aku berhubungan dengan siapapun itu bukan urusan kamu." Kusiramkan lagi bensin untuk membuat Mas Zaky makin emosi. Kadang menjebak mangsa juga harus pakai cara agak kejam.
Kulihat Mas Zaky mengepalkan tangannya sampai buku jarinya memerah. Pasti ia sangat marah. Itu yang aku rasakan dulu, di saat aku berusaha menggapai cintanya namun di hati Mas Zaky hanya ada Kak Dewi seorang. Rasakan!
"Kok makannya tidak dihabiskan sih? Enggak rugi kencan kedua kita cuma begini saja? Makan tidak habis dan malah tambah kesal?!" sindirku.
"Aku tahu kamu sengaja membuatku marah. Aku bisa balas loh!" ancam Mas Zaky.
__ADS_1
"Oh ya? Takut ih aku!" ledekku lagi.
Tiba-tiba ponsel milikku berbunyi. Abi menelepon. Wah gawat, jam malamku berbunyi. Sudah waktunya pulang.
"Assalamualaikum, Bi." Kujawab telepon dari Abi.
"Kamu dimana?" tanya Abi dari ujung sana. Nada suaranya terlihat khawatir.
"Habis jalan-jalan ke Dufan, Bi. Pergi sama teman-teman kuliah dulu." Tidak sepenuhnya berbohong bukan?
Mas Zaky hendak menggangguku namun kepalan tanganku menjadi kode, kalau ia berbicara maka aku akan buat perhitungan. Mas Zaky tertawa tanpa suara.
"Coba video call!" kata Abi.
"Video call? Malu ah, Bi. Nanti diledekkin temen-temenku. Aku kirim saja ya fotoku saat di Dufan."
"Iya. Kirimkan. Kamu sekarang dimana? Kenapa tidak pulang? Sudah malam!" omel Abi.
"Aku ... nginep di cafe kayaknya, Bi. Aku mau periksa laporan agar bisa selesai sebelum date line yang Abi berikan," kataku.
"Beneran di cafe?" tanya Abi lagi. Dari nada suaranya terdengar Abi tak percaya padaku.
"Aku masih di jalan, nanti saat di cafe aku foto ya buat bukti sama Abi," janjiku.
"Iya, Bi." Kututup panggilan telepon dari Abi dan menghela nafas lega.
Mas Zaky menertawaiku sampai puas. "Takut juga sama Abi? Ha ... ha ... ha ...."
"Kayak enggak takut aja!" jawabku. Kumasukkan kembali ponsel milikku dalam tas. Terpaksa deh malam ini nginep di cafe. Huft ....
"Berarti kita bisa menghabiskan malam ini berdua dong di cafe?" tanya Mas Zaky dengan senyum penuh maksud.
"Enggak," jawabku tegas.
"Memang kamu berani di cafe sendirian?"
"Berani. Memangnya aku Abang Wira yang penakut?" balasku.
"Oh iya ya. Kamu bukan Wira. Bagaimana kalau aku temani? Kamu kerja, aku tidur? Sejak pisah dari kamu, aku jadi insomnia. Susah tidur nyenyak dan baru tidur pulas di kamar kamu dulu. Boleh ya?" pinta Mas Zaky.
"Enggak mau!"
"Bagaimana kalau kita anggap malam ini kencan ketiga? Aku rela deh stok kencan kita berkurang lagi." Mas Zaky melakukan nego denganku.
__ADS_1
Hmm ... tawaran yang menarik. Lumayan, jatah pergi kencan dengan Mas Zaky berkurang lagi.
"Baiklah. Asal jangan ganggu aku bekerja!" ancamku.
"Oke! Ayo kita ke cafe sekarang!" ajak Mas Zaky.
"Iya."
Mas Zaky membayar makanan kami. Di dalam mobil Mas Zaky bersenandung riang sementara aku mengirimkan foto saat aku di Dufan pada Abi. Untunglah Abi percaya. Aku juga mengirim foto saat aku berada di salah satu cafe padahal aku akan pergi ke cafe yang lain dan Abi juga percaya.
Aku tersenyum puas. Jelas Abi percaya. Aku ini putri kesayangannya. Aku tak suka berbohong jadi Abi lebih mempercayai ucapanku.
"Bagaimana Abi? Beres?" tanya Mas Zaky.
"Iya. Abi tidak nanya lagi."
"Syukurlah." Mas Zaky kembali tersenyum.
Mobil yang dikendarai Mas Zaky memasuki area cafe yang aku minta. Saat Mas Zaky turun dari mobil, aku bicara dengan security yang bertugas agar jangan melapor pada Abi.
"Baik, Bu," kata security yang bertugas. Yang security tau, lelaki yang bersamaku adalah suamiku. Ia tak tahu kalau kami sudah bercerai. Syukurlah.
Aku membuka pintu cafe yang sudah tutup dan masuk ke dalam. Kunyalakan lampu tengah agar kesan seram hilang. Tak lupa kumatikan CCTV agar Abi tak bisa mengeceknya.
"Rupanya kamu memang mau mengajakku bermesraan ya?" tanya Mas Zaky dengan sorot mata berbeda.
Kayaknya situasinya tak bagus deh buatku. Bukankah Mas Zaky bilang tadi mau numpang tidur saja?
****
Promo novel Bu Sri. Info lengkap ada di sosial media aku.
Aku harus melepaskan mimpiku untuk menjadi seorang dokter saat aku mendapat berita:
"Sri, kamu menderita buta warna," ujar dokter yang memeriksaku.
Kata- kata itu terus terngiang di telingaku, bagaikan suara lonceng yang terus menggema, semakin lama semakin memekakkan telinga.
Semua menatapku iba dan kasihan.
Aku menggelengkan kepalaku, aku masih tak percaya dengan apa yang kudengar. Tak mungkin aku buta warna. Duniaku begitu berwarna. Aku bisa membedakan setiap warna. Aku tidak buta warna. Hasil tesnya pasti salah.
Lalu saat aku mengadu pada Ibu, Ibu berkata, "Bilang sama seluruh orang di dunia ini, kamu memang buta warna! Akui saja kalau kamu memang berbeda tanpa rasa malu. Lalu tunjukkan pada mereka yang menghina dan mengolok-olokmu kalau dunia kamu lebih indah! Dunia kamu lebih berwarna dari mereka! Dan dunia kamu lebih bahagia dari dunia mereka!"
__ADS_1
Makin penasaran? Yuk lihat postingan di sosial mediaku 🥰🥰🥰 dijamin berbeda dari novel lainnya ðŸ¤ðŸ¤