Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Terpisah Jarak


__ADS_3

Carmen


Mas Zaky terdiam setelah mendengar perkataanku. Orang bilang, bukan wajahku saja yang mirip Mommy, sifat dan perkataanku juga kalau sedang berbicara. Sekaran kukeluarkan unek-unek yang ada di dalam hatiku. Bosan dengan sikap keras kepala Abang.


"Bang, apa Abang mau selamanya aku seorang diri tanpa pendamping hidup?" tanyaku.


"Kamu pasti akan menemukan kekasih lain, Dek. Semua bisa saja asalkan kamu mau move on," jawab Abang tak mau menyerah.


"Apa itu yang Abang pikirkan saat Abang dan Kak Dewi hampir bercerai dulu? Abang akan menemukan wanita lain yang membuat Abang mencintainya?" tanyaku balik.


"Abang hanya mencintai Dewi, Dek. Mana bisa Abang mencintai wanita lain?" Polos sekali Abangku kalau menjawab.


"Aku pun sama seperti Abang. Sejak dulu laki-laki yang aku cintai hanya Mas Zaky. Sebesar apapun rasa kecewaku terhadapnya, tetap saja aku hanya mencintainya. Saat kita hanya mencintai satu orang, mau seribu orang yang lebih baik pun tak akan aku lirik. Aku hanya fokus pada satu orang saja, Bang."


Abang terlihat menggaruk rambutnya yang tak gatal tersebut. "Kalau Abi tahu bagaimana?"


"Biarlah itu urusanku dengan Mas Zaky. Abang doakan saja hati Abi akan tergerak dan merestui hubungan kami kembali," kataku.


"Abang selalu mendoakan kebaikan kamu Dek, tapi yang kamu lakukan sekarang bisa menyakiti hati kamu nanti. Abang tak mau melihat kamu sedih dan sakit hati lagi," kata Abang dengan serius.


"Bang, aku sudah rujuk kembali dengan Mas Zaky," kataku jujur.


"Hah? Rujuk? Semudah itu kamu mau rujuk sama Si Culun itu? Ya Allah Dek, bagaimana lagi cara Abang meyakinkan kamu agar kamu sadar Dek. Kamu tidak bosan apa disakitin terus sama Si Culun?"


Aku tersenyum malas. "Memang Abang juga tak bosan disakiti sama Kak Dewi? Bang, cinta sama benci tuh memang tipis bedanya. Kita enggak suka dengan apa yang dia lakukan namun rasa cinta yang lebih besar membuat kita memaklumi apa yang dia lakukan. Abang begitu juga bukan? Abang sebal kalau Kak Dewi sibuk dengan laundry dan menelantarkan Vino? Namun Abang memaafkan Kak Dewi karena sebelum Kak Dewi sibuk, dia sudah menyiapkan makan untuk Vino. Selalu ada kata 'maklum' Bang dalam berumahtangga. Aku saja mengerti, masa Abang tidak sih?"


Abang terdiam sesaat, seakan kena sentil oleh ucapanku yang pedas. Abang kini menatapku dengan lekat. "Kalau Zaky menyakiti kamu lagi bagaimana?"


"Itu resiko Bang dalam mencintai. Kita tidak bisa selamanya bahagia, ada kalanya kita benci dengan apa yang pasangan kita lakukan. Namun bagaimana cara kita menerima setiap permasalahan dengan kepala dingin. Aku telah belajar banyak dari perpisahan kami dan aku mau buktikan kalau kami akan menjadikan kesalahan tersebut sebagai pengalaman nantinya." Kutatap balik Abang yang kini nampak pasrah.

__ADS_1


"Terserah kamu deh, Dek. Abang hanya bisa menasehati. Kamu yang menjalani. Lakukan apa yang membuat kamu bahagia. Mengenai Abi, bicarakanlah baik-baik. Meski Si Culun akan kena bogem mentah, biar dia yang usaha. Kamu cukup melihat sejauh mana usahanya mempertahankan kamu di sisinya," nasehat Abang dengan bijak.


Aku memeluk dada bidang Abang. "Makasih, Bang. Aku sayang sama Abang."


****


Zaky


Dengan malas aku menjalankan tugasku di Medan. Memeriksa dokumen yang diselewengkan dan melakukan investigasi bersama tim audit internal dan independen. Sudah bukan hal baru dalam sebuah perusahaan ada oknum yang bermain curang demi kepentingannya sendiri.


"Bagaimana bisa terjadi sih? Apa saja kerja kalian? Kenapa sampai kecolongan seperti ini? Ini bukan jumlah sedikit loh. Ini jumlah yang fantastis. Apa jangan-jangan ada kerjasama antara orang dalam dan pihak yang berkepentingan?" Aku memarahi anak buahku yang tidak becus kerjanya.


Semua terdiam dan menunduk saat kuomeli. Aku lalu teringat nasehat Baby. "Mas jangan terlalu galak ya sama anak buah, Mas. Tanya pada mereka baik-baik, kenapa masalahnya bisa terjadi? Aku yakin mereka juga tak mau merugikan perusahaan dan membuat perusahaan mereka bangkrut. Jangan karena ulah segelintir orang tak bertanggung jawab, yang lain kena getahnya. Mas harus usut sampai yang salah bertanggung jawab. Ingat, jangan hanya marah-marah saja!"


Aku mengusap dadaku seraya istighfar. Baby benar. Aku terlalu emosi karena kepergianku ke Medan tidak ikhlas. Bawaannya emosi terus, padahal tidak semua karyawanku salah.


Hari sudah malam saat aku kembali ke kamar hotel. Lelah rasanya tubuhku, namun aku mau menghubungi Baby dan menceritakan semuanya. Aku kangen sama Baby.


"Assalamualaikum, Mas," jawab Baby yang mengenakan baju tidur motif Doraemon tersebut. Imut sekali dan menggemaskan.


"Waalaikumsalam, Baby. Kamu sedang apa?" tanyaku.


"Lagi ngerjain laporan, Mas. Mas baru pulang? Sudah makan malam belum?" tanya Baby.


"Sudah saat di kantor tadi. Sekretarisku memesankan makan malam yang rasanya lumayan enak," jawabku.


"Lalu kenapa belum mandi?" tanya Baby.


"Loh, kok tau? Ngintip ya? Ayo, Baby aku ketahuan ngintip nanti aku hukum loh!" ledekku.

__ADS_1


Baby tertawa mendengar gurauanku. "Sudah sana cepat mandi! Nanti keburu malam!"


"Siap Baby! Tunggu ya!" Sengaja aku tetap hidupkan agar Baby bisa melihatku mondar mandir tanpa sehelai benang pub.


"Mas! Enggak bisa dimatikan dulu ya?" protes Baby yang kubalas dengan senyum mengejek.


Aku pun mandi dan saat selesai mandi, Baby tidak mematikan video call kami. Nurut sekali dia jadi istri. Benar-benar istri solehah idaman semua pria.


"Mas, ih malu tau! Pakai dulu bajunya baru kita video call lagi!" kata Baby sambil berbisik. Pasti ia takut ketahuan Abi dan Mommynya.


Aku kembali hanya tersenyum dan sesekali berjalan bak model di cat walk. "Keren tidak perut rata aku? Mau pegang tidak?"


"Jangan macam-macam ya, Mas. Awas saja kalau mataku sampai bintitan karena ulah Mas!" ancam Baby sambil memanyunkan bibirnya.


Aku selesai memakai baju yang santai lalu duduk di atas tempat tidur. "I miss you," kataku jujur.


"I miss you so much," balas Baby.


"Sudah 6 jam lebih kita tidak bertemu. Nanti saat kita akhirnya bertemu, aku mau kita semalaman berdua. Aku enggak mau tau gimana caranya. Pokoknya aku mau menghabiskan malam indah bersama kamu!"


"Ini titah dari Yang Mulia Raja Damar Corporation? Kalau pemilik perusahaan Bapak Agas marah bagaimana?"


"Ya ... gantian aku kirim ke Medan, agar Bapak Agas tau sulitnya menjaga rindu jika terhalang jarak. Sesulit menjaga adikku yang mau meet up dengan pawangnya." jawabku.


"Memang berani?" goda Baby.


"Enggak ha ... ha ... ha ...."


****

__ADS_1


__ADS_2