Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Mengutarakan Maksud


__ADS_3

Zaky


Setelah turun dari mobil Baby, aku masuk ke dalam rumah dan mendapati Mama yang sedang mengambil air minum di dapur. "Loh kok kamu baru pulang sekarang? Kirain Mama kamu pulang ke rumah kamu loh!"


"Iya. Ada sesuatu yang harus aku lakukan. "Aku keluarkan oleh-oleh pesanan Mama." Ini, buat mama. Untuk Mommy Tari biar aku saja yang kasih."


"Kamu yang kasih? Memang kamu berani?" sindir Mama tak percaya. Mama mengambil oleh-oleh pemberianku dan langsung memotong bika ambon kesukaannya dengan pisau dan memakannya. Wajahnya terlihat senang sekali menikmati oleh-oleh yang sangat ia sukai tersebut.


"Ya harus berani dong. Kalau aku nggak berani, bagaimana nasib Baby nanti?" Aku hendak mendorong koperku ke kamar, namun Mama menghentikan langkahku.


"Tunggu sebentar! Kenapa dengan nasib Baby? Kok kamu seperti ada yang aneh ya? Duduk!" Perintah Mama dengan tegas.


"Aku capek, Mah. Enggak bisa besok aja apa? Lelah banget nih!" tolakku. Aku mau mengambil koperku lagi namun Mama menahannya.


"Duduk Mama bilang!" Mama kalau sudah bertitah seperti ini, meskipun aku capek sehabis main 3 ronde, aku harus menuruti apa permintaan Ibu Suriku satu ini.


"Iya, iya." Aku tinggalkan koper dan duduk di ruang keluarga. Untung tadi aku sudah mandi, hanya tinggal sholat isya dan tidur saja nanti.


"Katakan pada Mama, apa yang kamu sembunyikan!" desak Mama.


"Aku sembunyikan? Enggak ada yang aku sembunyikan dari awal. Mama saja yang terlalu sibuk dengan kegiatan Mama dan tak tahu apa yang kulakukan," jawabku tanpa dosa.


"Ya yang kamu lakukan saja. Apa yang kamu lakukan sampai kamu mau mengantar kue ke rumah Tari sendiri. Ada niat apa kamu? Mau meminta Baby rujuk?" tanya Mama.


"Itu udah tau, kenapa masih nanya sih?" tanyaku balik.


"Udah gila ya kamu! Kamu mau datang sendirian gitu? Enggak bisa! Mama enggak mau lihat kamu kena bogem mentah Agas lagi ya! Mama tuh enggak tega lihat kamu digituin. Dulu Papa kamu, sekarang kamu! Memangnya keluarga Mama tuh samsak tinju yang bisa dia beri bogem mentah seenaknya?" kata Mama dengan emosi.


"Ya kalau habis dikasih bogem mentah lalu aku dikasih rujuk sih aku siap saja, Ma. Yang terpenting bagi aku ya aku bisa rujuk lagi dengan Baby," jawabku tanpa ragu.


"Memangnya Baby mau rujuk sama kamu?" cibir Mama. "Kalau cuma modal nekat doang mah, gampang. Nanti kamu malu kalau ditolak Baby!"

__ADS_1


Aku tersenyum mendengar cibiran Mama. Belum tau saja Baby baru check in denganku beberapa jam lalu dan meneguk surga dunia bersama. "Tenang saja. Tidak akan Baby menolakku."


"Kamu jangan besar kepala, kalau seandainya-" Belum selesai Mama berbicara, aku memotong ucapannya.


"Kami sudah sepakat rujuk. Sudah sebulan lebih sedikit. Karena itu aku mau minta ijin Abi agar kami bisa berumah tangga dengan nyaman."


Mendengar jawabanku, Mama terbelalak kaget. "Kenapa kamu tidak beritahu Mama? Tunggu, waktu kalian kebanjiran sudah rujuk?"


"Itu baru proses, Ma. Setelah itu kami rujuk," jawabku dengan tersenyum bahagia.


"Semudah itu?" tanya Mama tak percaya.


"Ya enggaklah. Mama kira mudah mendekati Baby? Aku sudah mendekatinya sejak kami diputus cerai. Aku mau dalam waktu 3 bulan kami sudah rujuk kembali. Setiap hari aku selalu mendekati Baby, awalnya aku selalu mendapat penolakan. Namun saat banjir, Baby akhirnya memberiku kesempatan untuk mendekatinya. Akhirnya kami rujuk secara agama dan aku sedang mengurus di KUA. Besok, aku mau ke rumah Baby. Aku akan meminta Abi merestui kami kembali," kataku dengan penuh keyakinan.


Mama menatapku tanpa berkedip. Lalu Mama tersadar dan memegang wajahku dengan tangannya yang halus. "Kalau kamu sampai dipukuli Agas gimana, Sayang? Mama tak mau melihat anak Mama satu-satunya terluka," kata Mama dengan sedih.


Aku baru saja hendak menghibur Mama ketika ada seseorang yang tiba-tiba bicara. "Papa akan ikut menemani kamu! Kita akan bicarakan baik-baik dan pikiran tenang. Papa yakin, Agas akan menerima kedatangan kita dengan baik."


"Sejak Mama ambil minum dan tidak kembali. Papa mendengar percakapan kalian dan Papa mendukung sikap dewasa Zaky. Dia memperjuangkan wanita yang dicintainya. Papa suka. Besok siang, kita ke rumah Agas!" jawab Papa.


Aku tersenyum pada kedua orang tuaku yang sudah mendukungku. Semangatku bertambah dan aku makin yakin dengan langkah yang kutempuh.


***


Keesokan harinya, aku bersama Mama dan Papa datang ke rumah Baby. Pintu gerbangnya tidak dikunci. Aku putuskan langsung masuk dan mengucap salam di pintu masuk saja. "Ayo Ma, Pa!" ajakku.


Mama dan Papa menurut. Mereka berjalan di belakangku. Aku menenteng kue yang kubeli di Medan berjalan duluan dan mengucap salam. "Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" jawab dari dalam rumah.


Aku melihat wajah Baby yang pucat dan menggelengkan kepalanya saat melihatku, seakan memberi kode kalau sekarang bukan saat yang tepat. Tenanglah, Baby. Aku tak akan mundur lagi.

__ADS_1


"Zaky? Ada apa kamu datang bersama Mama dan Papa kamu?" tanya Mommy Tari dengan ramah.


Abi yang berjalan lambat akhirnya sampai ke ruang tamu. Melihat kami bertiga dengan tatapan tidak bersahabat dan tangan dilipat di dada.


Baby hendak mengikuti Mommy menghampiriku namun tangan kekar Abi menahan tubuhnya. "Mau kemana kamu?" tanya Abi dengan suaranya yang berat dan menyeramkan.


"Ke ruang tamu. Ada Mama sama Papa," jawab Baby dengan santainya.


"Enggak bisa! Kamu tunggu di meja makan!" perintah Abi dengan tegas. Baby menurut namun bibirnya dimanyunkan.


"Silahkan duduk!" kata Abi dengan nada tidak bersahabat.


Kami bertiga pun duduk. Aku tak bisa melihat Baby kini. Abi duduk di sofa lalu terakhir Mommy duduk di samping Abi. "Ada tujuan apa kalian datang ke rumah saya?"


Aku memberikan oleh-oleh Kue Bolu Meranti dan Bika Ambon lalu menaruhnya di atas meja. "Buat Abi sekeluarga."


Abi hanya melirik apa yang kubawa tanpa berkata apa-apa. Aku pun mulai mengutarakan tujuanku.


"Maaf mengganggu waktu Abi sekeluarga. Mungkin sudah bisa Abi duga, aku datang ke sini bersama kedua orang tuaku bertujuan untuk mengajak Baby untuk rujuk-" Belum selesai aku bicara, Abi sudah memotong ucapanku.


"Saya tidak setuju dan tidak mau!" kata Abi dengan tegas.


"Bi, dengarkan dulu Zaky mau apa!" tegur Mommy.


"Enggak mau dengar! Pokoknya tidak mau!" kata Abi dengan keras kepala.


"Ehem!" Papa berdehem untuk mencairkan suasana. "Maaf, Gas. Coba didengarkan dulu tujuan dari Zaky. Maksud dia baik loh," bujuk Papa Damar.


"Menurut siapa baik? Menurut dia bukan? Menurut kami sih tidak. Jadi, sekali tidak tetap tidak! Silahkan kalian kembali ke rumah kalian lagi!" usir Abi tanpa kasihan sekalipun padaku.


Huft ... Belum menjelaskan saja sudah diusir apalagi kalau tau aku dan Baby sudah ....

__ADS_1


****


__ADS_2