Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Dasar Laki-laki Bucin!


__ADS_3

Carmen


Aku berusaha pulang dengan tenang meskipun dalam hati aku deg-degan. Mas Zaky mengantarku sampai Indo November lalu aku memesan aplikasi ojek online untuk pulang ke rumah. Gila sih, kami seperti main kucing-kucingan dan takut ketahuan oleh Abi.


Aku masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam. Mommy sedang di dapur sibuk memasak dan mencoba menu baru. Aku salim dengan Mommy lalu pamit mau ke kamar karena merasa sangat ngantuk. Mommy tak banyak pertanyaan. Yang aku takutkan, aku akan berpapasan dengan Abi. Untunglah Abi sedang pergi bermain badminton dengan teman-temannya di lapangan komplek.


Setelah mandi dan berganti pakaian aku membaca pesan yang Mas Zaky kirimkan ke ponselku. Layaknya orang yang tidak bertemu dalam waktu lama, Mas Zaky mengajukan banyak pertanyaan tentang keadaanku.


"Udah sampai rumah belum? Bagaimana dengan Abi? Kamu ditanyain enggak? Dicurigai enggak? Terus kita bisa ketemu lagi kapan? Besok mau aku antar kerja?"


Aku tersenyum membaca rentetan pertanyaan yang Mas Zaky kirimkan untukku. Walau sebenarnya aku sudah kalah dan malah terjatuh ke dalam perangkap Mas Zaky, setidaknya perangkat yang aku buat membuahkan hasil. Salah satu contohnya, Mas Zaky kini jauh lebih perhatian terhadapku.


Aku bisa melihat sendiri bagaimana ketulusan di dalam sorot matanya. Jangan lupakan kalau aku sudah mengenal Mas Zaky sejak aku kecil dan aku tahu bagaimana saat ia berbohong dan saat berkata jujur.


Aku membalas pesan yang Mas Zaky kirimkan. Aku katakan kalau segalanya baik-baik saja dan mengenai kapan kami akan bertemu lihat situasi dan kondisi nanti saja. Aku menaruh ponselku di atas nakas lalu merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.


Aku menatap langit-langit kamarku seraya berpikir keras. Bagaimana kalau sampai ketahuan Abi? Bagaimana kalau Abang juga tahu? Lalu bagaimana dengan rumah tanggaku dan Mas Zaky selanjutnya? Belum tiga bulan sejak putusan cerai kami dan semalam kami sudah rujuk.

__ADS_1


Aku akui, aku terlalu mudah mengambil keputusan untuk rujuk. Semudah aku tanpa pikir panjang melamar Mas Zaky di tempat umum. Ya, memang itulah kebodohanku. Aku orangnya terlalu terburu-buru dan baru menyesali perbuatanku setelah semuanya terjadi. Sekarang aku jadi berpikir, apakah benar Mas Zaky akan mendaftarkan lagi pernikahan kami?


Pertanyaan besar dalam benakku adalah kapan kami akan berkata jujur pada Abi? Tak mungkin kami terus-menerus kucing-kucingan seperti ini. Ah ... aku jadi pusing. Kembali ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Mas Zaky.


"Bagaimana kalau besok kita makan malam? Kalau tidak, mau makan siang di luar? Atau kamu mau aku datang pagi-pagi sambil mengantar sarapan untuk kamu?"


Mas Zaky benar-benar seperti seorang lelaki yang sedang bucin pada wanita yang sangat dicintainya. Aku senang membaca setiap pesan yang ia kirimkan, sekarang semuanya menggambarkan isi hati Mas Zaky yang sebenarnya.


"Aku harus pulang tepat waktu besok, Mas. Bagaimana kalau makan siang saja?" balasku.


Belum sempat aku menaruh ponselku, Mas Zaki sudah membalas lagi pesan yang kukirimkan. "Asyik! Kita mau pergi kemana lagi? Mau makan dimana? Bisa nggak aku memeluk kamu sebentar aja? Aku udah kangen nih!"


"Aku besok mau ke cafe yang ada di daerah Jakarta Selatan Mas mau makan di mana? Kita bisa ketemuan di tempat tersebut. "


"Jakarta Selatan ya? Aku cari dulu ya tempat yang enak dan bisa bebas untuk memeluk kamu! "


Aku geleng-geleng kepala membaca balasan dari Mas Zaky. Kenapa juga harus mencari tempat makan yang bebas? Kita 'kan mau makan, bukan mau berbuat yang tidak-tidak. Dasar ya, laki-laki kalau ada maunya itu ada-ada saja. Segala hal pasti akan dilakuin.

__ADS_1


Aku masih menunggu jawaban dari Mas Zaky ketika pintu kamarku diketuk. Aku terkejut dan cepat-cepat menyembunyikan ponselku di bawah bantal, ternyata Abi. Kupersilahkan Abi masuk dan pria yang sangat menyayangiku tersebut menghampiriku dan duduk di tepi tempat tidurku. "Bagaimana kemarin jalan-jalannya? Kamu senang?"


Aku memaksakan senyum di wajahku meski hatiku merasa bersalah karena telah membohongi Abi. Bagaimana kalau Abi tahu kalau aku sudah rujuk dengan Mas Zaky? Pasti Abi akan kecewa sekali padaku. Maafkan aku Abi, aku tidak bisa menolak lelaki yang mencintaiku Aku memang bodoh. Aku juga terlalu bucin akan cintaku pada Mas Zaky.


"Seru sekali, Bi. Aku sampai naik arung jeram beberapa kali. Udah lama banget aku nggak ke Dufan." ceritaku pada Abi dengan penuh semangat, agar Abi tahu betapa bahagianya aku.


"Tidak biasanya kamu jalan dengan teman-teman kamu sampai pulang malam, Nak. Tak apa, kamu memang sesekali harus menghibur diri. Jangan hanya bekerja dan terus bekerja. Kamu masih muda. Ingat, kalau ada lelaki yang mencintai kamu dan juga kamu cintai, bahwa dia ke Abi. Abi mau kamu memulai hidup kamu lagi. Kamu jangan hanya terpaku pada duda depan rumah yang ngeselin itu!" nasehat Abi.


Bagaimana ini? Abi segitu bencinya dengan Mas Zaky. Kalau Abi sampai tahu kami sudah rujuk, bisa habis Mas Zaky oleh Abi.


"Belum ada kok, Abi. Aku masih mau bekerja dan menikmati hidupku. Abi tenang saja ya, aku pasti akan memperkenalkan laki-laki yang aku cintai sama Abi nanti. " Kayaknya lebih baik aku menenangkan Abi daripada berkata jujur dan malah membuat semuanya jadi kacau.


"Ya udah, kamu istirahat aja. Mau makan malam dulu atau mau langsung tidur setelah shalat Isya?" tanya Abi.


"Langsung tidur Bi. Aku nggak mau makan malam nanti gendut. Makasih ya Bi udah perhatian sama aku." kataku dengan tulus.


Abi mengusap lembut rambutku dan tersenyum dengan penuh kasih sayang. "Tentu dong. Abi harus perhatian pada putri Abi satu-satunya. Kamu yang harus Abi jaga sekarang. Jangan sampai ada laki-laki lain lagi yang menyakiti hati kamu. Akan Abi hajar sampai dia nggak bisa bangun kalau berani menyakiti kamu! "

__ADS_1


Kembali aku terpaksa memasang senyum di wajahku. Tak tahu saja Abi apa yang aku pikirkan saat ini. Aku cemas dan memikirkan masa depanku dengan Mas Zaky yang belum ada kejelasannya. Abi keluar dari kamarku dan aku baru ingat kalau tadi aku sedang berkirim pesan dengan Mas Zaky. Kulihat pesan yang masuk. Ya Allah, baru sebentar saja sudah lebih dari 20 pesan yang masuk. Dasar laki-laki bucin!


****


__ADS_2