
Zaky
Aku menuruti apa yang Abi bilang. Aku pergi ke dapur dan membuat kopi dari mesin kopi otomatis. Aku buat dua gelas, satu untukku dan satu untuk Abi.
Aku membawa kopi buatanku ke ruang tamu dan memperhatikan Abi mengurus kebunnya. Aku pelajari cara merawat tanaman hanya dengan melihatnya saja. Lain kali aku akan bisa melakukan yang Abi suruh, aku hanya belum tahu caranya saja.
"Kamu beneran duduk sambil ngopi?" tanya Abi sambil menepuk keningnya. "Ya Allah Zaky! Kebanyakan belajar, kenapa kamu jadi begini? Huft, ternyata perjuangan Baby selama ini berat sekali demi mendapatkan cinta kamu ya?"
Apa aku salah lagi ya? Kok Abi bicaranya begitu? Bukannya tadi aku disuruh ngopi? Apa salah? Aku kan hanya menuruti apa yang Abi perintahkan saja!
Abi sudah selesai dengan pekerjaannya dan kini mencuci tangan di bawah keran air. Abi mendekatiku dan mengambil kopi yang kubuatkan.
"Kamu beneran tidak tahu tadi maksud Abi menyuruh kamu membuat kopi itu apa?" Abi menaruh kembali kopi yang sudah disruputnya ke atas meja.
"Ya ... membuat kopi bukan? Memangnya apa, Bi?" tanyaku dengan polosnya.
"Kamu mengerti bahasa sindiran tidak? Abi tuh tadi nyindir kamu, karena kerja kamu tidak bener, lebih baik kamu duduk sambil ngopi. Kamu enggak merasa gitu disindir Abi?" tanya Abi lagi.
Aku menggelengkan kepalaku. "Papa bilang, dalam bisnis itu harus tegas. Iya ya iya, tidak ya tidak. Tak perlu pakai sindiran, bisa membuat penafsiran yang berbeda nantinya," kataku.
"Pantas saja pikiran kamu seperti itu. Ini kehidupan sehari-hari, bukan lingkungan bisnis yang perlu ketegasan. Terkadang untuk menjaga perasaan seseorang, kata-kata sindiran diperlukan." Abi kembali menyeruput kopi buatanku.
__ADS_1
"Abi lebih baik bilang terus terang saja. Baby selalu seperti itu sama aku. Tak perlu menjaga perasaanku. Aku kadang suka tidak peka, kata Baby sih begitu."
"Bukan terkadang itu mah, selalu kamu tidak peka. Yaudah, nanti Abi kalau ngomong langsung pada intinya saja. Tak perlu pakai sindiran," kata Abi dengan kesal.
"Iya, Bi. Maafin aku yang kurang peka ini ya, Bi," kataku sungguh-sungguh.
"Makanya jangan kebanyakan belajar bisnis. Kamu juga harus belajar tentang kehidupan. Tingkat peka kamu yang dangkal bisa membuat Baby sering makan hati. Beruntung Baby anaknya cuek, tapi kalau sudah baper, hati-hati saja. Baby ngambeknya lama," ujar Abi.
"Iya, Bi. Aku tahu. Karena itu aku tak mau membuat Baby marah," jawabku.
"Tidak begitu juga. Kalau Baby salah dan kamu benar, ya kamu juga boleh marah. Kamu tuh pemimpin rumah tangga. Yang menjadi imam dan nahkoda kemana rumah tangga kamu akan berlayar. Jangan hanya menuruti makmum kamu saja, dengarkan saran darinya, pilih yang baik dan kalau tidak baik ya cari jalan keluar terbaik bersama. Itu kunci langgengnya suatu hubungan," nasehat Abi.
"Iya, Bi. Aku akan ingat dan terapkan nasehat Abi."
"Abi jangan berkata seperti itu. Sampai kapan pun hanya Baby yang aku cintai. Aku janji tak akan menyakiti hati Baby. Aku pernah menyakiti hatinya dan aku tak mau melakukan hal itu lagi. Abi tenang saja, aku yang akan menjaga Baby dan anak-anak kami kelak. Tugas Abi mendidik Baby sudah selesai, kini tugasku untuk membahagiakannya. Abi tenang saja ya!" kataku dengan sungguh-sungguh.
"Beneran ya? Awas saja kalau kamu sampai menyakiti hati Baby lagi! Abi akan cincang big gun kamu lalu Abi kasih makan lele dumbo yang ada di empang kampung sebelah!" ancam Abi.
"Iya, Bi. Iya. Kayaknya kalau dicincang agak susah deh, Bi. Soalnya alot dan squishy ha ... ha ... ha ...." Aku dan Abi tertawa bersama. Keakraban yang sudah lama tidak kurasakan. Semoga ini adalah awal membaiknya hubungan kami. Abi pasti sudah menyadari kalau aku sudah mencintai Baby dengan sepenuh hati.
Tak lama Mommy datang dan membawakan pisang goreng. "Ngopi kalau enggak ada cemilannya itu kurang nendang. Ayo sambil dimakan cemilannya. Maaf agak lama, Mommy membiarkan kalian ngomong dari hati ke hati dulu sebagai sesama pria. Sekarang sudah satu hati bukan? Bagaimana kalau kita ke Mall dan makan siang di Mall? Mommy malas masak nih. Sarapan saja Mommy cuma buat roti bakar saja."
__ADS_1
"Boleh juga rencana Mommy. Kita ke Mall. Sudah jam 9, ayo kita siap-siap. Mana istri kamu? Cepat bangunkan! Hamil kok kerjaannya tidur terus!" Abi memakan pisang goreng dan menghabiskan kopi miliknya. Aku pun melakukan hal yang sama lalu pamit ke kamar.
"Aku bangunin Baby dulu ya, Bi. Baby bilang, dia suka sekali tidur semenjak hamil. Tunggu sebentar ya, Bi!" Aku pergi ke kamar dan mendapati Baby tertidur lelap. Tak tahu saja dirinya kalau suaminya habis dikerjai oleh Abi-nya tersayang.
"Sayang! Bangun yuk! Kita ke Mall. Abi dan Mommy mau ikut juga. Kamu mau ikut tidak? Kamu mau sendirian di rumah?" Aku mengusap rambut Baby. Dengan malas Baby membuka matanya.
"Sekarang? Memang sudah jam berapa sih?" tanya Baby dengan suara khas bangun tidurnya.
"Jam 9 pagi. Ayo mandi, kita ke Mall. Mau mandi bareng enggak?" ajakku seraya memainkan kedua alisku.
"Boleh deh. Ayo!"
"Ayo! Siapa takut?" Kugendong Baby dan meluapkan kebahagiaan kami di dalam kamar mandi. Aku sekuat mungkin menahan hasratku yang ingin mengajak Baby melakukan hubungan berkali-kali. Istriku sedang hamil, bisa meet up dengannya saja seharusnya sudah kusyukuri.
Kami turun ke bawah sekitar jam 10 pagi. Abi sudah menunggu kamu drngan wajah kesalnya. "Lama banget sih!" omel Abi.
"Maklum Bi, aku habis mandi ber-" Aku tutup mulut Baby sebelum ia berbicara terlalu jujur pada kedua orang tuanya.
"Pantas saja lama! Ayo cepat ke Mall. Abi tadinya mau absen pertama di Mall, tapi karena kalian habis membuat film romantis sendiri, jadi telat deh! Kamu yang nyetir, Ky! Abi mau di belakang sama Mommy!" Abi melempar kunci mobilnya padaku, dengan sigap aku pun mengambilnya.
"Ayo, My! Sekarang gantian kita yang buat film romantis! Memangnya mereka saja yang bisa!" ajak Abi pada Mommy.
__ADS_1
"Ayo!"
****