
Carmen
"Enak ya My, tinggal duduk manis di mobil dan ada yang nyupirin kita. Sering-sering aja kita diperlakukan begini," sindir Abi yang duduk di bangku belakang bersama Mommy. Tangan Abi merangkul pundak Mommy sambil melihat pemandangan dari jendela mobil.
"Abi bisa aja," jawab Mommy. "Zaky tuh baik loh, Bi. Kita yang ngajak jalan-jalan eh dia yang nyupirin. Menantu ideal banget buat Abi bukan?"
Abi memanyunkan bibirnya. "Biasa aja sih. Abang taksi online juga nyupirin Abi tapi enggak Abi akuin jadi menantu ideal tuh."
Aku tersenyum mendengar jawaban Abi. Kulirik Mas Zaky yang kini terlihat lebih santai dan ikut tersenyum. Sudah tidak terlihat lagi wajah tegangnya.
"Kita mau ke Mall mana sih, Bi?" tanyaku.
"Mall di Jakarta Pusat saja. Yang banyak menjual barang mahal. Jangan Mall pinggiran yang jualan kaos kaki 10 ribu dapat 5 pasang. Abi mau lihat gesper yang harganya sepuluh juta. Mau tau rasanya gimana," jawab Abi dengan santainya.
Aku kembali tersenyum mendengar jawaban Abi. Pura-pura enggak tau gesper mahal, padahal gesper miliknya mahal-mahal. Aku tahu pasti mau ngerjain Mas Zaky dan minta dibeliin ini itu deh. Tau ah, biarkan saja. Toh Mas Zaky kalau membelikan sesuatu tidak pernah perhitungan.
"Masih jauh 'kan? Aku ngantuk. Aku mau tidur dulu ah!" kataku. Semenjak hamil, aku mudah sekali merasa mengantuk. Bawaannya kena AC dan kasur dikit langsung mata mau merem.
"Pakai bantal ya, Sayang!" kata Mas Zaky. "Abi, maaf, bisa tolong ambilkan bantal di belakang? Tadi aku bawa dari dalam kamar Baby karena sudah menduga Baby akan mengantuk." tanya Mas Zaky.
"Iya." Abi mengambilkan bantal dan memberikannya padaku.
"Makasih, Bi," kata Mas Zaky.
"Makasih, Bi," kataku saat menerima bantal dari Abi.
Kusandarkan bantal ke jendela dan bersiap tidur. Namun Mas Zaky berbicara dan membuatku tak jadi tidur. "Sayang, kursinya mau dimundurin? Biar enak tidurnya."
"Boleh deh," jawabku.
Mas Zaky memberhentikan mobilnya saat lampu merah dan memundurkan tempat dudukku menjadi senyaman mungkin. "Mau pakai penutup mata juga biar tidak silau?" tanya Mas Zaky lagi.
"Tak perlu, Mas. Kaca mobilnya sudah lumayan gelap. Aku mau bobo aja. Ngantuk," tolakku.
__ADS_1
"Iya, tidurlah!" Mas Zaky mengusap kepalaku dengan penuh kasih lalu kembali mengemudikan mobilnya.
Rasa kantuk dengan cepat datang dan membuatku tidur dengan lelap. Aku terbangun saat mendengar suara Mas Zaky yang membangunkanku dengan lembut. "Sayang, kita sudah sampai."
Aku membuka mataku dengan malas dan mendapati kami sudah berada di parkiran Mall.
"Kamu ngantuk sekali, Baby. Mau pulang ke rumah lagi?" tanya Mommy yang terlihat begitu khawatir padaku.
Aku duduk tegak dan menggelengkan kepalaku. "Enggak usah, My. Aku sudah tidur sebentar."
Mas Zaky membukakan air mineral yang juga ia bawa tadi lalu memberikannya padaku. "Minum dulu, Sayang!"
Aku menurut dan membasahi tenggorokanku dengan air mineral. Kini aku lebih segar. Mas Zaky membukakan pintu untukku dan menggandeng tanganku selama di dalam Mall.
Kami berkeliling dari satu toko ke toko lain. Aku tak merasa ngantuk kalau keliling Mall seperti ini. Aku senang cuci mata, apalagi melihat Abi mencoba gesper dan melihat-lihat dompet mahal. Mas Zaky membelikan semua yang Abi suka.
Mommy juga kebagian traktiran Mas Zaky. Sebuah tas mahal dan elegan diberikan oleh Mas Zaky untuk Mommy. Wajah bahagia terpancar dari Mommy yang begitu senang mendapat barang mahal.
"Kamu mau beli apa, Sayang?" tanya Mas Zaky seraya menarik pinggangku dan memelukku.
"Loh, kok malah nanya Mas. Mas sih gampang. Kamu dulu. Mau tas, dompet, jam tangan atau sepatu? Atau ada yang mau kamu beli yang lainnya gitu?" tanya Mas Zaky lagi.
"Apa ya Mas? Aku mau minum jus buah saja. Segar kayaknya minum jus buah," jawabku.
Mas Zaky mengenyitkan keningnya. "Jus buah? Enggak mau belanja yang lain? Kayaknya ada deh di bawah. Bilang sama Abi dan Mommy dulu yuk!"
Aku mengangguk. Aku menghampiri Abi dan mengajaknya ke lantai bawah untuk membeli jus. Abi dan Mommy setuju saja. Mereka memutuskan akan membeli yang mana dan Mas Zaky yang membayarnya.
Kami pun ke lantai bawah lalu membeli jus buah asli. Aku memilih jus buah dan kacang almond. Mas Zaky membelikan untuk Mommy dan Abi juga. Aku langsung meminumnya dan merasakan rasa segar. Aku suka sekali.
"Mas, mau lagi!" kataku.
Baru saja Mas Zaky membayar, ia kembali membelikan apa yang aku mau. "Mau yang mana saja? Ayo, pilihlah!"
__ADS_1
Aku dengan senang hati memilih aneka jus yang begitu menarik perhatianku. Mas Zaky membeli semua yang aku suka.
"Tak apa, Ky. Minum jus buah bagus untuk ibu hamil," kata Mommy.
"Iya, My. Aku juga suka Baby mengkonsumsi yang sehat-sehat. Oh iya, kita mau makan siang dimana?" tanya Mas Zaky.
"Terserah Mas saja," jawabku.
"Iya. Terserah kamu saja. Abi ikut saja," kata Abi yang tak enak macam-macam karena sudah memegang belanjaan yang dibelikan Mas Zaky.
"Kalau shabu-shabu bagaimana? Sehat untuk Baby yang sedang hamil," usul Mas Zaky.
"Boleh saja," jawab Abi.
"Iya, aku mau!" jawabku.
Kami pun pergi ke lantai atas dan masuk ke restauran shabu-shabu dan grill yang besar dan lengkap. "Kamu jangan makan daging yang dipanggang ya. Takut kurang matang. Tak bagus buat anak kita. Makan shabu-shabu saja oke?"
"Iya, Mas," jawabku meski aku ingin makan daging yang dipanggang. Sepertinya lezat, namun aku menurut apa yang dikatakan Mas Zaky.
"Baby jadi penurut ya kalau disuruh sama Zaky? Kalau Abi atau Mommy yang suruh pasti protes dulu deh," sindir Abi.
"Ish Abi nih, bagus dong kalau Baby jadi istri penurut. Lanjutkan, Sayang!" kata Mommy.
"Aku juga nurut kok sama Abi. Kenapa aku sekarang nurut sama Mas Zaky ya karena Mas Zaky adalah ayah dari janin dalam kandunganku. Mas Zaky pasti menginginkan yang terbaik untuk anak kami karena itu aku nurut saja apa yang Mas Zaky perintahkan," jawabku.
"Tuh dengar, Bi. Anak kita sekarang sudah dewasa. Sudah tahu apa yang menjadi kewajibannya sebagai seorang istri dan calon Ibu. Biarkan saja. Kita hanya perlu memantau dari jauh saja," nasehat Mommy.
"Iya, My," jawab Abi.
Tak lama ponsel Abi berbunyi. Ternyata Abang Wira yang menelepon. "Abi di Mall. Jangan ganggu kamu!" jawab Abi dengan ketus.
Abi terdiam dan mendengarkan apa yang Abang katakan dari ujung telepon sana. "Iya, Abi juga di Mall ini. Di lantai atas, lagi makan shabu-shabu. Sudah ya, ganggu Abi makan saja kamu!" Abi memutuskan sambungan teleponnya dan kembali makan dengan lahap.
__ADS_1
Tak lama suara menyebalkan itu terdengar. "Hai semua! Pas banget nih, aku sekeluarga juga lapar!"
****