Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Teriakan di Roller Coaster


__ADS_3

Zaky


"Kamu tau itu enggak benar, Baby!" elakku. Mana mungkin aku seperti yang Baby katakan.


"Entah. Sudah lupa tuh," jawab Baby dengan cuek.


"Mau aku ingatkan lagi? Aku tuh tidak impoten! Masa sih aku harus teriak: Saya impoten? Bohong itu namanya, kamu sendiri sudah merasakan. Dicolek dikit aja aku langsung on, fitnah itu!" gerutuku panjang lebar.


"Ah berarti enggak berani!" tantang Baby.


Benar-benar ya anak ini. Zaky ditantangin, oke. Aku tantang balik.


"Berarti ada hadiahnya dong kalau aku berani?!" tantangku balik.


"Hadiah? Mm ... cokelat mau?" tanya Baby dengan polosnya. "Atau aku traktir bakso!"


Ya Allah Baby, aku disuruh teriak yang menjatuhkan harga diriku dan hanya dibayar cokelat atau bakso? Pabriknya saja aku mampu beli loh! Polos sekali anak itu!


"Enggak mau! Enak aja dibayar bakso atau cokelat. Ogah!" tolakku.


"Yaudah kalau enggak berani. Kirain nyalinya besar, ternyata omong kosong!" pancing Baby.


"Aku sih benar saja, tapi ada bayarannya! Kamu meminta seorang CEO perusahaan besar teriak kayak gitu, bisa membuat citra perusahaanku runtuh," negoku.


"Aku akan traktir bakso kok. Itu bayarannya," jawab Baby.


"Satu pabrik bakso juga bisa aku beli, Baby. Begini saja, bayarannya setiap kita kencan kami harus cium aku, bagaimana?" Aku memainkan kedua alisku untuk menggoda Baby.


"Ih enggak mau. Itu sih enak di kamu, rugi di aku!" jawab Baby sambil bersungut kesal.


"Aku pastikan kamu juga akan merasakan enak. Percaya deh sama aku!" kataku penuh percaya diri.


"Enggak mau!"


"Yaudah, 5 kali kencan."


"Enggak mau!"


"3 kali?"


"Enggak mau!" Baby tetap teguh dengan pendiriannya.


"Oke. Hanya kencan kali ini saja, bagaimana?" Aku mengalah pada akhirnya. Hanya Baby yang bisa membuat aku si keras kepala ini menyerah.


"Baiklah, tapi sebentar aja loh! Oh iya, di pipi saja!" jawab Baby setelah berpikir keras. Rupanya niat Baby mempermalukanku lebih besar dari yang aku kira. Tak apa. Asal Baby bahagia.

__ADS_1


"Oke. Kalau aku berhasil teriak dua kali, jadi lebih lama loh! Ayo cepat udah waktunya kita naik wahana roller coaster!" Aku tersenyum penuh strategi. Teriak-teriak di wahana sih kecil buatku.


"Tapi-" Baby mau membantahku namun karena antrian mulai ramai, ia terpaksa langsung buru-buru naik.


Kami duduk bersebelahan, Baby kembali hendak membantah namun roller coaster sudah mulai berjalan. "Siap ya?" kataku saat roller coaster mulai menanjak naik. Ketika roller coaster mulai turun aku pun teriak dengan kencang.


SAYA IMPOTEEEENNNNNN!!!!!


Sebanyak 2x.


Debaran jantungku bekerja lebih cepat lagi. Bukan hanya karena roller coaster yang melaju dengan cepat melainkan karena aku baru saja mempermalukan diriku sendiri. Saat roller coaster berhenti, aku bisa bernafas lega.


Kupaksa senyum di wajahku. "Bagaimana? Aku berhasil bukan?"


Baby memanyunkan bibirnya. "Aku belum bilang setuju," gerutunya.


"Aku tak peduli. Kamu sudah bilang iya di awal. Nanti saja aku menagihnya. Ayo kita main yang lain!" Aku menggenggam tangan Baby dan berjalan keluar dari area roller coaster.


Aku mendengar suara pengunjung lain membicarakan kelakuanku. "Eh tadi masa ada yang teriak kalo dirinya impoten. Aneh banget."


"Iya. Aku juga denger tuh. Kencang banget lagi!"


"Iya. Aneh. Aib kok diumbar-umbar!"


Kulirik Baby yang menahan tawa sampai wajahnya memerah. "Lucu ya? Lucu lihat suami kamu diketawain?"


"Nanti juga jadi suami lagi. Jodoh mah enggak akan kemana. Kalau kamu enggak mau digandeng, aku rangkul aja gimana? Di pinggang. Boleh?"


"Ih ogah!" cibir Baby.


"Ah ih ah ih aja dari tadi nih! Kayak begitu tuh pas lagi di kamar. Lagi bikin anak! Kamu masih hutang satu ciuman loh sama aku!" ancamku.


Baby menunjuk pipinya. "Yaudah nih aku bayar biar enggak bawel!"


"Tidak bisa itu. Aku teriak dua kali. Aku enggak mau di situ. Di tempat berbeda. Nanti saja. Sekarang aku mau main yang lain. Bagaimana kalau bom bom car?" tanyaku.


"Boleh aja. Siapa takut?!"


"Oke. Ayo!"


Kami berdua lalu mengantri di depan bom bom car. Berkat gelang sakti di tangan, kami bisa bermain tanpa harus menunggu lama. Kami bermain tabrakan mobil lalu dilanjutkan ke permainan lain. Kami bahkan naik komidi putar layaknya anak kecil.


"Kita makan dulu. Aku lapar!" kataku. Aku tak kuat jika harus terus menemani Baby bermain. Anak itu kalau sudah ke Dufan suka lupa segalanya. Tak ada takutnya. Semua dicoba. Naik histeria saja turunnya ketawa-tawa sementara perutku mual namun aku tahan.


"Boleh. Mau makan apa?" tanya Baby balik.

__ADS_1


"Bakso saja! Aku butuh yang hangat dan kehangatan," godaku. Aku menunjuk stand makanan tak jauh dari tempat kami berdiri.


"Duduknya di atas kompor, nanti hangat! Yaudah Bakso Afung saja ya? Aku mau pakai bakso urat yang banyak dan kwetiau," kata Baby.


"Boleh. Aku juga. Samakan saja menu kita. Apa yang kamu suka, pasti aku suka. Kamu suka aku, aku lebih suka lagi sama diriku sendiri," kataku sambil tersenyum.


"Ih situ oke? Yaudah sana cari tempat duduk. Biar aku yang antri dan bayar," kata Baby.


"Enggak usah. Aku saja." Aku bersiap mengantri namun Baby menahanku.


"Aku saja. Gantian. Mas sudah bayar tiket masuk. Kalau Mas tidak mau, aku pulang saja!" ancam Baby.


Huft ... kenapa anak ini jadi pintar mengancam ya?


"Baiklah. Aku cari tempat duduk!" Aku akhirnya mengalah. Aku cari tempat yang kosong dan duduk menunggu Baby datang.


Baby membawa dua mangkok bakso yang membuatku merasa semakin lapar saja. "Makasih, Sayang!" kataku saat Baby menghidangkan semangkuk bakso di depanku.


"Lebay!" Baby menuangkan saus dan sambal lalu mulai makan dengan nikmat.


"Kayaknya punya kamu lebih enak deh. Tuker dong!" Kumajukan mangkokku dan hendak menukar dengan bakso milik Baby namun Baby memukul tanganku pelan.


"Enggak mau, main tuker aja!" omel Baby.


"Yaudah suapin!" kataku dengan manja.


"Enggak mau! Udah cepetan makan, jangan bawel."


"Galak banget. Udah cocok nih jadi ibunya anak-anak. Nanti kamu mau punya anak berapa? Kalau 4 bagaimana? Kita buat ramai dunia keluarga Damar. Setiap dua tahun sekali kamu melahirkan. Nanti ada suster yang menjaga agar kita tetap bisa honeymoon dan-"


"Mau makan atau aku tinggal pulang?" ancam Baby.


"Iya, makan! Galak banget sih Nyonya Zaky ini!"


Baby melotot sambil mengangkat sendoknya.


"Iya. Aku diem. Aku makan. Selamat makan. Bismillah!" Aku tak berkata apa-apa lagi. Serem juga Baby kalau marah. Benar-benar mirip Abi Agas kalau begini, serem. Kalau nanti aku cium, Baby akan segalak ini tidak ya?


****


Wah 3 besar ya, aku siap-siap buat double up ya. Khusus hari ini aja oke? Oh iya, udah mampir belum di kisah Bu Sri? Yuk kepoin sosmed aku untuk tahu tentang Bu Sri.


IG: Mizzly_


Fb: Mizzly

__ADS_1


Tiktok: Mizzlyauthor


__ADS_2