Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Perang Dingin


__ADS_3

Carmen


Benar saja Abi menghukum Mommy dan membuat kami semua kesiangan. Aku yang lelah sehabis check in kemarin ketiduran dengan lelap sampai bangun jam 10 lewat. Sementara Mommy ... hampir jam 12 baru mau mulai menyiapkan makan siang.


Aku dan Abang sih sudah biasa dengan kemesraan kedua orang tuaku. Tak risih dan malah bangga. Mereka berhasil mempertahankan rumah tangga di tengah banyaknya cewek centil yang menggoda Abi.


Anak jaman sekarang, enggak boleh lihat lelaki mapan, tampan dan masih gagah langsung saja dipanggil Sugar Daddy. Itu bukan Sugar Daddy, itu Bapak Gue! Sayangnya Abi sedang tidak bersahabat denganku.


"Baby mau sarapan apa?" tanya Mommy dengan suara serak yang hampir tak terdengar. Wow, bayangkan saya betapa spetakulernya hubungan suami istri mereka di dalam kamar yang sudah dipasang peredam suara sejak Abang beranjak dewasa tersebut.


"Apa aja. Mommy masih capek tidak? Mau aku saja yang buatkan?" tanyaku tak enak hati.


Sebenarnya aku juga tidak dalam keadaan baik-baik saja. Sepertinya karena kelelahan aku seperti masuk angin. Perutku rasanya tak enak. Mau muntah dan kepala juga agak pusing. Aku tahan saja. Lebih kasihan Mommy, melihat banyaknya kissmark di lehernya, aku bisa tahu keganasan Abi di ranjang. Dasar Mantan Duda Nackal gila!


Baru saja Mommy mau menjawab Abi sudah berdehem. Ini kode kalau Abi tak mau aku yang buatkan. "Tak apa. Mommy saja. Bagaimana kalau mie goreng Jawa saja?"


"Iya. Terserah Mommy saja. Aku bantu kupaskan bawang ya, My." Menghiraukan tatapan Abi yang tajam, aku mengambil bawang merah dan putih lalu mengupasnya.


Kami berdua masak dalam diam. Mommy sih baik-baik saja hanya terlihat agak kelelahan saja. Benar-benar Abi ini. Pantas Mommy takut kalau Abi marah. Ya karena kalau Abi marah bukan piring melayang, bukan kata-kata kasar tapi Abi akan kumat menjadi sosok legend dirinya.


"Maaf ya, My," bisikku.


"Tak apa. Sudah biasa," jawab Mommy.


Aku tersenyum. Sudah biasa? Mommy juga sama saja. Memang sama-sama suka jadi susah deh.


Acara memasak pun selesai. Aku membantu Mommy menghidangkan di meja. Saat hendak menaruh piring untuk Abi, mata Mommy memberi kode 'jangan'. Aku tak jadi melakukannya. Mommy yang akhirnya menaruh di depan Abi. "Untuk Abi tersayang," kata Mommy dengan senyum.


"Makasih Mommy yang cantik," balas Abi.


Tanpa sadar aku mencibirkan bibirku melihat ulah mereka berdua. "Bibir kondisikan!" tegur Abi.


Aku kaget dan langsung mingkem. Aku duduk di tempat dudukku dan bersiap makan. Kami makan dengan tenang. Aku tahu semua tidak setenang yang terlihat.


Tanpa mata, aku tahu kaki Abi sedang mengelitiki kaki Mommy. Masya Allah kedua orang tuaku ini! Bucin lihat-lihat tempat dong! Ini meja makan jadi goyang-goyang, ampun deh!

__ADS_1


Selesai makan, Mommy menghidangkan buah untuk Abi. "Silahkan Abi!" kata Mommy dengan manja.


Aku yang sedang disuruh cuci piring sama Abi jadi mual mendengarnya. Rasanya mau muntah beneran.


Ueeekkkk


Aku memuntahkan isi perutku di washtafel. Untung saja sudah selesai tugas mencuci piringku.


"Kamu kenapa Baby?" tanya Mommy dengan khawatir. Mommy meninggalkan Baby besarnya dan pergi mendekatiku. Menepuk punggungku meski kini aku tak muntah lagi.


"Masuk angin tuh! Kebanyakan pulang malam!" cibir Abi. "Mau ke dokter enggak?"


Aku menggelengkan kepalaku. "Aku cuma mual dengar obrolan kalian," kataku membalas cibiran Abi.


"Bilang aja iri!" balas Abi. Dari nada suaranya Abi masih marah padaku. Caranya memperlakukanku seperti memperlakukan Abang. Judes.


"Kamu beneran enggak apa-apa, Baby?" tanya Mommy. Wajah khawatir Mommy membuatku tak tega. Mommy sudah berkorban banyak untukku.


Kupaksakan senyum di wajahku dan bersikap seolah baik-baik saja. "Enggak apa-apa kok, My. Nih lihat, aku baik-baik saja. Aku sebal sama Don Juan di belakang yang dari tadi pamer kebucinan dia terus. Nyebelin. Jadi aku muntah beneran deh," jawabku.


Kenapa yang Mommy tanyakan hampir benar semua kurasakan ya? Memangnya aku sakit apa? Kok Mommy bisa tahu apa penyakitku?


"Enggak apa-apa kok, My. Ini telat makan aja kok karena ada yang menahan Mommy di kamar jadi aku kesiangan dan lupa sarapan deh!" sindirku lagi pada Abi.


"Bodo amat. Di sini senang di sana susah. Di sini senang di sana iri." Abi malah membalasku sambil bernyanyi.


"Abi! Anaknya sakit juga malah masih saja main ledek-ledekkan!" tegur Mommy yang mulai sebal dengan ulah suaminya. Aku menjulurkan lidahku, meledek Abi yang kena omel Mommy.


"Sakit dari mana, My? Tuh dia masih meletin Abi!" adu Abi pada Mommy.


"Udah ah, Abi jangan kayak anak kecil! Ngambek sama anak kok lama banget!" omel Mommy lagi.


"Siapa suruh dia pulang malam tidak ijin? Kabur lagi bukannya bilang jujur!" sahut Abi.


"Siapa yang mau jujur kalau Abi interogasinya kayak interogasi penjahat?" omel Mommy.

__ADS_1


"Iya ... iya ... Abi salah. Yaudah baikkan!" Abi mendekatiku dan mengulurkan jari kelingkingnya.


"Abi enggak boleh galak-galak begitu lagi loh sama aku!" ancamku.


"Iya."


"Abi juga enggak boleh menghukum Mommy kayak semalam. Kasihan tuh Mommy suaranya serak dan kecapekan!" ancamku lagi.


"Kalau itu, Abi enggak janji. Lagian, Mommy kamu senang-senang aja tuh. Pas Abi pelanin speednya Mommy malah gak mau-" Belum selesai Abi bicara Mommy sudah memotongnya.


"Udah, Bi. Jangan kamu bongkar urusan kita di depan anak kita sendiri! Malu tau!" omel Mommy.


"Iya ... iya. Abi salah terus di depan kalian. Padahal Abi sebenarnya berada di pihak yang benar loh. Abi 'kan kepala keluarga nih, Abi berhak tau dong putri Abi kemana? Apalagi pulangnya malam. Abi khawatir dan nanya bukan bertanya-tanya kamu nanya. Kenapa Abi salah lagi ya?" tanya Abi.


"Udah sih enggak usah dibahas!" omel Mommy lagi. Kini Mommy membantuku duduk di meja makan kembali. "Mommy buatkan teh manis hangat buat kamu ya!"


"Abi juga mau!" sahut Abi cepat.


"Iya. Mommy buatkan. Jangan berantem lagi!"


"Iya," jawabku dan Abi kompak.


Abi menatapku dengan tatapan masih ingin tahu. "Abi mau nanya? Mau bertanya-tanya?" ledekku.


"Mommy timpuk ya kalau ada yang ngomong kayak begitu di rumah ini!" ancam Mommy.


Aku dan Abi menahan tawa kami. Sayangnya kebahagiaanku dan Abi yang baru saja akur tidak berlangsung lama. Baru saja Mommy menghidangkan teh dan kami menyeruput bersama, suara yang sangat kukenal tiba-tiba terdengar di depan rumah.


"Assalamualaikum!" salam Mas Zaky.


"Waalaikumsalam," jawab Abi dan Mommy. Aku hanya mampu menjawab dalam hati. Menelan teh yang sedang kuteguk saja rasanya susah.


"Siapa tuh, My?" tanya Abi.


Ya Allah, gagal ledakkin bom kecil eh rudalnya datang sendiri ke rumah. Tolong Baby ya Allah ....

__ADS_1


****


__ADS_2