
Zaky
Masakan Mommy memang tiada duanya. Salah satu masakan lezat yang pernah kurasakan. Masakan Mama juga enak, tapi masakan Mommy lebih lezat. Makan malam hari ini semuanya Mommy yang masak. Ada pindang bandeng, sayur sop, ayam goreng dan juga sambal. Wah, kalau makan masakan Mommy sih aku suka khilaf.
"Sayang, kamu mau nambah lagi?" tanya Baby seakan tahu kalau aku masih lapar.
Aku mau menjawab iya namun malu mengatakannya. Mau bilang tidak tapi mau nambah. Bagaimana dong?
"Abi yang mau nambah. Abi masih lapar!" Abi menyodorkan piring kosongnya pada Mommy agar istri tercintanya menyendokkan lagi nasi beserta lauknya.
"Zaky, ayo nambah lagi!" ajak Mommy.
Aku hendak menganggukkan kepalaku ketika Abi menyeletuk, "Sudah, jangan dipaksa. Mungkin Zaky memang mengurangi makan malam agar lebih sehat. Iya 'kan Zak?"
Tidak mungkin dong aku menjawab tidak? Berarti aku tidak sepaham dengan Abi. Aku harus mencari muka sekarang. Aku harus baik-baikkin Abi agar hubunganku dan Baby mulus jadi bisa segera pindah ke rumah kami tanpa banyak drama.
"Iya, Bi. Aku sudah kenyang," jawabku sambil tersenyum.
Baby yang tak yakin, Baby kembali bertanya padaku. "Beneran kamu udah kenyang? Nanti malam enggak bisa tidur loh kalau lapar!"
"Sudah, Sayang. Aku sudah kenyang, nanti malah kalau kekenyangan aku nggak bisa tidur," kataku beralasan.
"Sudah, jangan dipaksa lagi. Kasihan Zaky," celetuk Abi sambil menikmati makan malamnya dengan nikmat. Ya Allah kok aku iri ya sama Abi? Bisa makan bebas tanpa mikir hal yang lain. Tak tahu kah Abi, aku ingin nambah lagi?
"Yaudah kalau Mas sudah kenyang." Baby mengambil apel dan hendak mengupasnya.
"Aku saja yang kupaskan untuk kamu!" Kuambil pisau dan apel yang Baby pegang lalu mengupaskan untuknya.
"Kayaknya apel kupas enak juga tuh!" sindir Abi.
"Abi mau? Aku kupasin ya sekalian?" tawarku.
"Biar Mommy saja yang mengupaskan untuk Abi," kata Mommy menawarkan diri.
"Mommy belum selesai makan. Mommy makan saja dulu," ujar Abi.
"Iya betul, My. Aku saja yang kupaskan. Sekalian," jawabku.
__ADS_1
Setelah mengupas apel untuk Baby, aku mengupaskan apel untuk Abi. Aku taruh di piring kecil yang sudah Mommy sediakan lalu memberikannya kepada Abi. "Ini, Bi."
"Makasih," Abi yang sudah menghabiskan makan malamnya kini memakan apel yang sudah aku kupas.
"Baby mau buah yang lain? Biar aku kupasin," tawarku.
Baby menggelengkan kepalanya. "Sudah, Mas. Sudah kenyang," tolak Baby.
"Enak ya apel yang kamu kupas." Tiba-tiba Abi berkomentar. "Terasa lebih manis."
"Abi suka? Mau aku kupasi yang lain?" tawarku lagi.
"Bosan apel terus. Kayaknya mangga enak deh!" jawab Abi.
"Mommy saja ya yang kupas untuk Abi? Mommy sudah selesai makan nih!" Mommy menawarkan diri.
"Yah, Zaky sudah duluan nawarin ke Abi. Kalau Abi tolak, nanti Abi tidak menghargai usaha Zaky dong?" jawab Abi.
"Aku saja, My. Tak apa. Aku suka kok mengupasi buah," kataku berbohong. Selama ini Mama yang selalu mengupasi buah yang aku ingin makan, sekarang malah aku yang bertugas mengupasi buah untuk mertuaku. Untung aku mengerti cara mengupasnya karena belajar dari Mama.
"Tuh, Zaky bilang tidak apa-apa. Biarkan saja. Nanti dia dapat pahala, My," kata Abi beralasan.
"Itu saja cukup. Baik sekali Zaky sama Abi," puji Abi. Aku tahu pujian tersebut tidak tulus. Biarkan saja. Aku harus sabar dan menerima perlakuan Abi sebagai balasan atas kesalahanku di masa lalu.
Aku kembali mengupasi buah untuk Abi dan menghidangkannya di piring kecil. Abi makan dengan nikmat sementara Baby hanya geleng-geleng kepala dengan kelakukan Abinya.
Selesai makan malam, aku dan Baby kembali ke kamar. Kami sholat isya berjamaah lalu tidur. Senang rasanya bisa kembali tidur sambil memeluk Baby semalaman. Aku langsung tertidur pulas dan terbangun di subuh hari saat suara ketukan di pintu mengagetkanku.
"Zaky! Bangun! Ayo sholat subuh di masjid!" kata Abi membangunkanku.
Aku masih malas dan akan sholat di rumah saja, namun Abi tidak semudah itu membiarkanku hidup dengan mudah.
"Ayo cepat bangun! Keburu iqomat! Anak lelaki itu baiknya sholat di masjid!" omel Abi seraya mengetuk pintu kamar Baby.
"Iya, Bi. Hoam. Aku cuci muka dan wudhu dulu," jawabku sambil menguap.
"Oke. Abi tunggu di bawah! 5 menit ya!" Tak lama Abi pergi.
__ADS_1
Cepat-cepat aku bangun dan mengambil air wudhu. Gawat, aku tidak ada baju koko lagi! Semua ada di rumah Mama. Tak mungkin membangunkan Mama yang masih tertidur lelap. Sudahlah, pakai saja yang ada.
Aku mengambil kaos dan celana panjang. Aku membawa sajadah dan turun ke bawah. Baby masih tertidur pulas, nanti saja aku bangunkan saat aku pulang dari masjid.
"Kamu mau sholat pakai pakaian seperti itu?" tanya Abi saat aku sudah di bawah.
Aku mengangguk. "Baju aku di rumah Mama, Bi."
"Sarung dan peci juga tidak pakai! Kamu pikir mau ke Mall? Tunggu sebentar!" Abi masuk ke dalam kamar dan keluar dengan sarung, baju koko dan peci miliknya. "Pakai ini!"
Kuterima pemberian Abi dan memakainya. "Makasih, Bi."
Kami pun lalu berjalan bersama menuju masjid yang terletak di dalam komplek. Baru beberapa langkah keluar dari rumah, sudah ada yang memanggil Abi dari belakang.
"Agas!"
Aku dan Abi menoleh ke belakang dan ternyata Om Bastian yang memanggil. "Bareng dong!"
"Ayo!" jawab Abi.
Kami berjalan bertiga di udara dingin subuh hari. Untung saja aku memakai baju koko yang Abi berikan, kalau tidak aku pasti sudah kedinginan.
"Cie, sekarang kalau sholat subuh ada yang nemenin nih!" goda Om Bastian.
"Iya dong. Anak laki-laki itu sebaiknya sholat di masjid. Ikut meramaikan masjid. Kalau bukan kita, siapa nanti yang meramaikan masjid? Marbot? Masjid dibangun secara megah tapi tidak ada jamaahnya. Bukankah malu dengan masjid yang ada di pelosok daerah? Dibangun seadanya namun banyak jamaahnya?" ceramah Abi di subuh hari.
"Ceramah melulu lo, Gas. Masih pagi! Ajak tuh tiga temen lo! Sony sama Riko kerjaannya masih aja ke club. Terus besan lo masih molor karena sibuk ngurusin perusahaan," sindir Om Bastian.
"Suruh aja anaknya bangunin tiap pagi. Biar disiplin dan terbiasa sholat di masjid," sindir Abi padaku.
"Iya, Bi. Nanti aku bilang sama Papa."
Kami pun sampai di masjid. Hanya beberapa orang yang datang untuk sholat subuh berjamaah. Selesai sholat, kami mengobrol sambil berjalan pulang. Rupanya enak juga sholat subuh di masjid. Tubuh juga jadi lebih segar karena menghirup udara subuh yang masih bersih.
"Gas, kapan Zaky boleh bawa Baby pulang ke rumahnya?" tanya Om Bastian mewakiliku yang takut bertanya.
"Ntar, kalau Baby sudah ngelahirin anak kedua!" Abi pun berjalan masuk ke dalam rumah. Meninggalkanku yang tiba-tiba merasa putus asa.
__ADS_1
Masih lama dong pulang ke rumah? Huft ....
****