Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Kencan Kedua


__ADS_3

Carmen


Hari ini kayaknya keriput di wajahku bertambah deh. Mas Zaky kena aku omelin terus seharian ini. Habis garing banget sejak tadi. Ada saja yang ia lakukan dan membuat aku kesal. Sejak kapan sih jadi garing begini? Biasanya cool dan jaga image.


Kami masih bermain beberapa permainan sampai bajuku basah saat bermain arung jeram. Mas Zaky meminta aku mengganti baju dahulu, jangan sampai aku sakit. Begitu alasan yang ia katakan.


Mau tak mau kami menyudahi permainan kami dengan hati puas dan bahagia. Lelah dan suara agak serak karena kebanyakan teriak-teriak.


"Pegal tidak kaki kamu? Mau pakai Counterpain?" tanya Mas Zaky dengan penuh perhatian. Kalau melihat Mas Zaky sebaik ini aku jadi takut. Orang bilang hatiku mirip Abi. Terlihat galak dan kejam namun tak tega juga pada akhirnya. Aku takut akan jatuh cinta lagi dan tersakiti pada akhirnya.


"Malah bengong!" tegur Mas Zaky menyadarkanku dari lamunan.


"Tidak pegal. Aku mau ganti baju dulu!"


Mas Zaky membuka pintu mobil dan mengambil paperbag berisi baju ganti untukku. "Di sana ada toilet. Mau aku antar atau aku tunggu di sini saja?"


"Tunggu saja di sini. Aku berani kok." Kuambil paperbag yang Mas Zaky berikan lalu berjalan menuju toilet umum. Aku mengganti baju basahku dengan baju ganti. Baju pemberian Mas Zaky yang dulu sengaja aku tinggal.


Aku kembali ke parkiran mobil dan nampak Mas Zaky sudah mengganti bajunya yang basah. Ia sedang menatap ke arahku sambil tersenyum. Hangat sekali senyumnya, membuatku ingin menghambur ke pelukannya saja.


"Ayo kita pulang!" ajakku.


"Pulang? Sekarang? Enggak dong! Susah payah ngajak kamu jalan, masa sih jam segini udah aku pulangin? Kalau perlu aku balikkin kamu jam 12 kurang 1 menit. Sebelum kereta kencana kamu berubah labu kembali."


"Ya terus mau kemana?" tanyaku. Mas Zaky mengambil paperbag berisi baju basahku dan menaruhnya di jok belakang mobil.


"Ke hatiku," jawab Mas Zaky sambil mengulum senyum.


"Lebay lagi. Cepetan deh mau kemana!" omelku.

__ADS_1


"Ya sabar atuh, Sayang. Oh iya, kamu lihat bukan di sekitar sini ada penginapan yang bagus. Bagaimana kalau kita-"


Kupotong perkataan Mas Zaky sebelum ia berbicara makin ngaco. "Aku pulang sekarang saja?"


"Oh tentu tidak. Kalau kamu tak mau menginap, bagaimana kalau kita makan malam romantis?" tawar Mas Zaky.


"Hm ... boleh saja. Aku akan anggap sebagai kencan kedua," jawabku. Kenapa aku anggap kencan kedua? Aku harus menyiapkan alasan karena akan pulang malam padahal aku pergi sejak pagi. Abi pasti akan menginterogasiku panjang lebar. Jadi daripada aku kena omel, lebih baik aku pangkas dari 10 kali kencan kami.


"Yah, jangan gitu dong! Ini masih hari yang sama loh! Aku janji tak akan mengantar kamu terlalu malam!" kata Mas Zaky dengan memelas.


Aku kasihan sih sebenarnya. "Potong kencan. Mau atau enggak?" tantangku lagi.


"Ih kamu kejam banget sekarang. Aku diancam terus seharian ini. Dulu mana pernah kamu mengancam aku begini. Nurut aja," gerutu Mas Zaky.


"Justru karena aku terlalu nurut makanya Mas Zaky mencintai wanita lain!" kataku dengan ketus. "Mau atau tidak? Kalau enggak mau yaudah kita pulang saja!"


"Ini udah kesekian kalinya kamu ngancem aku loh hari ini. Aku tuh pemimpin perusahaan, kok bisa aku diancem?"


"Mau deh. Apa sih yang tidak buat Baby?" Mas Zaky akhirnya mau merelakan kencan keduanya. Baguslah. Aku mulai membuat sisi egoisnya menghilang.


"Nah gitu dong. Enggak usah kebanyakan nego! Ayo, kita mau kemana?"


"Yang dekat saja. Kasihan kamu kalau kemalaman. Pasti bingung kasih alasan ke Abi." Mas Zaky membukakan pintu mobil untukku dan memakaikan seat belt. Jarak kami begitu dekat. Perhatiannya, wangi parfumnya dan melihat ketampanannya dalam waktu dekat membuat imanku sedikit tergoda.


"Aku ganteng ya?" tanya Mas Zaky yang kini menatapku dengan lekat. Jarak kami terlalu dekat, tolong. Aku takut degupan jantungku yang kencang sampai ia dengar.


"Kenapa? Deg-degan ya? Sama dong! Boleh cium sekarang?" tanya Mas Zaky yang kini menatap bibirku.


Aku harus sadar. Jangan masuk ke dalam perangkapnya. "Enggak! Udah cepetan, aku lapar!" kataku dengan ketus.

__ADS_1


Mas Zaky tersenyum. "Biasa aja kali, enggak usah merah begitu mukanya!" Mas Zaky menutup pintu lalu pergi ke pintu satu lagi.


Aku menenangkan debaran jantungku yang semakin kencang saja. Aku harus tenang sebelum Mas Zaky kembali menggodaku. Aku harus memasang tembok yang tinggi dan menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya. Harus.


Maa Zaky masuk sambil bersiul kecil. Ia memakai seat belt dan mulai mengemudikan mobil keluar dari area Ancol. Ternyata aku diajak ke sebuah restoran mewah, dadakan.


"Enggak salah kita ke sini?" tanyaku saat mobil Mas Zaky masuk ke dalam tempat parkir restoran.


"Memangnya kenapa?"


"Aku cuma pakai baju kayak begini dan muka aku kucel. Aku malu dong ke dalam begini!" protesku.


Setelah memarkirkan mobil, Mas Zaky malah mengambil paperbag lain dari belakang mobil. "Aku udah siapin make up yang biasa kamu pakai kok. Baru semua loh jadi aman. Pakai saja dulu. Aku tunggu!"


Aku membuka paper bag berisi bedak, lipstik dan blouse on. Semuanya yang biasa aku pakai. Ternyata Mas Zaky hebat loh bisa hafal. "Kok Mas tidak keluar? Aku malu nih make up diliatin!"


"Oke aku keluar. Oh iya, satu lagi!" Mas Zaky mengeluarkan sekotak sepatu dan memberikannya padaku. "Kayaknya sepatu ini lebih cocok dibanding sepatu kets yang kamu kenakan deh. Ini punya kamu yang sengaja aku bawa buat ganti kalau sepatu kamu basah. Aku tunggu di luar ya!"


Mas Zaky mengambil jaket kulit warna hitam miliknya yang tersampir di jok mobil lalu keluar. Ia terlihat berbicara sebentar dengan security lalu security tersebut meninggalkannya. Mungkin memberitahu kalau ia sedang menungguku yang ada di dalam mobil.


Cepat-cepat aku make up dan keluar dengan dandanan yang lebih baik dan wajah lebih segar. "Cantik banget sih!" Mas Zaky mengulurkan lengannya agar bisa aku gandeng. Aku menurut saja. Ini kencan kedua kami. Jalani saja tanpa ada beban.


Mas Zaky memesankan menu steak untuk kami berdua yang kutahu harga per porsinya di atas dua juta. Wow. Pasti lezat dan dagingnya empuk dan juicy.


"Kencan ketiga kita kemana? Ada tempat yang mau kamu tuju?" tanya Mas Zaky membuka percakapan.


"Terserah. Aku sih ikut saja," jawabku acuh. "Asal tempatnya bener. Jangan ngaco!" tambahku.


"Tau aja aku mau ngajak check in. Udah ketebak saja. Bagaimana kalau kita ke TMII? Kita naik gondola dan bebek-bebekan? Mau?"

__ADS_1


****


__ADS_2