
Zaky
Pulang sholat subuh aku membangunkan Baby yang masih tertidur lelap.
"Baby. Ayo bangun. Sholat subuh dulu!" kataku dengan lembut di telinga Baby.
"Masih ngantuk!" kata Baby dengan manja.
"Nanti bisa bobo lagi. Ayo bangun dulu. Mau aku gendong ke kamar mandinya?" godaku.
Baby membuka matanya dan menguap. Muka bangun tidurnya begitu imut dan menggemaskan. Semoga anakku nanti mirip dengan Baby.
"Enggak usah. Aku bisa sendiri." Baby lalu duduk dan aku bantu ia berjalan ke kamar mandi. Kugelar sajadah dan kutaruh mukena di atasnya. Tak lama Baby keluar dari kamar mandi dan sudah mengambil wudhu.
"Baik sekali sih kamu. Alat sholat aku sampai disiapkan," puji Baby.
"Iya dong. Ayo sholat dulu! Aku mau mandi dan bersiap-siap berangkat kerja!" Aku mengambil handuk mandi dan masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai mandi, gantian Baby yang menyiapkan baju kerjaku. Mengancingkan kemeja dan memakaikan dasi. Ah indahnya. Kenapa dulu aku begitu terbebani dengan perhatian yang Baby berikan ya? Sekarang aku baru mensyukuri punya istri perhatian seperti Baby.
"Nanti aku pulang kerja, kamu mau dibelikan apa?" tanyaku seraya merapikan anak rambut Baby yang menjuntai. Kuselipkan di belakang telinganya agar rapi.
"Apa ya? Belum kepikiran," jawab Baby.
"Yaudah, kabari saja ya kalau kamu mau sesuatu. Aku akan belikan buat istriku tersayang!" kataku.
"Tentu dong. Ayo kita turun ke bawah. Kita sarapan dan aku akan antar kamu sampai depan pintu." Baby mengambilkan tas kerjaku dan memberikannya padaku.
"Ayo. Senang deh ada yang mengantar aku berangkat kerja. Kamu tahu kalau aku sekarang tuh bahagia sekali. Aku senang kita kembali bersama. Aku harus membayar mahal untuk kebersamaan kita ini, jadi aku tak akan mengulangi kesalahanku lagi. Kamu tenang saja. Aku akan menjadi suami dan ayah yang baik buat kalian berdua!" Aku mengelus perut Baby yang masih datar dan mengecupnya dengan penuh kasih.
Baby menggandeng tanganku dan kami pun berjalan berdua ke bawah. Menuruni setiap anak tangga sambil mengobrol mesra.
__ADS_1
Di meja makan, sudah ada Abi yang sedang membaca berita dari portal berita online sambil menyeruput kopi hitam. Nikmat sekali hidup Abi. Begitu dinikmati dan tidak stress memikirkan perusahaan. Ini yang aku mau. Saat tua nanti hanya menikmati waktu bersama keluarga dan tidak perlu memikirkan perusahaan lagi.
"Pagi, My!" sapa Baby pada Mommy. "Pagi, Bi."
"Sudah sholat subuh belum kamu?" tanya Abi tanpa memalingkan pandangannya dari layar tab yang ia pegang.
"Udah dong, Bi. Suami aku yang membangunkan aku. Sudah disiapkan sejadah dan mukena pula. Baik sekali bukan?" Baby memujiku dengan bangga, membuat aku menunduk malu mendengarnya.
"Lagi rajin saja dia. Nanti sih belum tentu," cibir Abi.
"Abi jangan bilang begitu ah. Bukannya didoakan supaya anak-anaknya rukun dan bahagia malah dicibir terus!" tegur Mommy.
"Abi tidak mendoakan, My. Abi hanya mengatakan fakta saja. Kalau baru berumah-tangga memang begitu, nanti baru deh terlihat sifat aslinya deh kayak gimana," kata Abi membela diri.
"Enggak juga tuh. Abi dan Mommy sudah berumah-tangga lama dan semakin mengenal Abi, Mommy malah semakin jatuh cinta. Karena banyak hal-hal baik yang baru Mommy tahu setelah kita berumah-tangga lama. Oleh karena itu, mari kita doakan Baby dan Zaky agar seperti kita yang setiap hari semakin saling mencintai dan mengagumi kelebihan masing-masing, bukan begitu Bi?" kata Mommy dengan lembut dan sabar.
"Udah ah, ayo sarapan. Abi lapar!" Abi menyudahi pembicaraan karena tak mau mendengar ceramah Mommy lebih lama lagi.
"Jangan dimasukkan ke hati ya, Ky. Abi memang suka menguji kesabaran orang, padahal sebenarnya Abi itu sangat baik dan perhatian," kata Mommy padaku.
"Iya ... iya. Bawel deh Abi!"
Kami sarapan dengan damai. Setelah sarapan, Baby mengantarku sampai gerbang depan rumah. Aku mengecup kening Baby sebelum pergi mengambil mobil di rumah Mama.
Tak lupa aku memberikan origami yang sudah kusimpan dalam dashboard. Kali ini aku memberikannya tanpa sembunyi-sembunyi. "Hadiahnya nanti ya pulang kerja."
"Hadiah apa tuh?" tanya Baby.
"Hadiah yang besar! Tunggu ya!" Aku kembali mengecup kening Baby lalu pergi ke kantor.
****
__ADS_1
Carmen
Aku menghabiskan waktuku di kamar saja. Mommy melarangku melakukan banyak aktifitas. Untuk mengusir sepi, aku habiskan waktuku mengerjakan laporan sambil berbaring di atas kasur.
"Baby! Ada kiriman makanan dari Zaky!" Mommy mengetuk pintu dan masuk dengan membawa cake yang terlihat sangat lezat.
"Wow, enak sekali kuenya, My." Mataku berbinar-binar melihat cake yang ukurannya lebih besar dan rasanya enak tersebut. Apalagi cream kejunya yang begitu menggoda.
"Zaky mengirimkan satu loyang. Mommy ambilkan satu potong agar kamu bisa langsung makan. Kamu mau buah tidak? Nanti Mommy kupaskan," tawar Mommy.
"Tak usah, My. Terima kasih. Kue saja." Kuambil sendok kecil dan memotong kue lalu memasukkannya ke mulutku. Rasanya memang lezat sekali. Tau saja suamiku kue yang enak dan tak bisa kutolak.
"Ingat, jangan kelelahan bekerja. Kamu masih trimester pertama dan harus benar-benar menjaga janin di perut kamu!" nasehat Mommy.
"Iya, My. Aku tidak kemana-mana kok. Hanya membuat laporan di atas tempat tidur. Abi mana, My?" tanyaku seraya menikmati kue yang lezat ini.
"Ada di bawah. Lagi makan kue sambil nonton TV," jawab Mommy.
"My, tolong nasehatin Abi dong. Jangan terlalu keras dengan Mas Zaky. Mommy tahu sendiri bagaimana perjuanganku mendapatkan cinta Mas Zaky. Jangan sampai gara-gara Abi, Mas Zaky jadi menjauh lagi dari aku!" pintaku.
"Jangan bilang begitu ah! Zaky enggak akan menjauhi kamu. Mommy bisa lihat tatapannya yang begitu mencintai kamu. Masalah Abi, kamu tenang saja. Mommy sedikit-sedikit menasehati Abi kamu kok. Memang tidak mudah karena Abi kamu orangnya keras, tapi Mommy percaya sedikit demi sedikit kepercayaan Abi terhadap Zaky akan kembali lagi."
"Makasih ya, My!" Aku memeluk Mommy lalu kembali menghabiskan kue milikku. Mommy menunggu sampai kueku habis lalu membawa piring kotor ke bawah. Mommy tak suka kalau aku taruh sembarangan dan nanti rumah kami banyak semut.
Aku kembali bekerja namun Mas Zaky meneleponku. Kami melakukan video call cukup lama. Aku bahkan bisa melihat Mas Zaky bekerja. Terlihat begitu berwibawa layaknya pemimpin yang hebat. Tampan sekali. Aku masih tak percaya kalau lelaki yang meneleponku adalah suamiku kini. Rasanya masih seperti mimpi. Aku yang selama ini selalu mengikuti Mas Zaky, kini malah menjadi istri yang setiap malam tidur sambil memeluknya erat. Beruntung sekali aku.
"Mas," panggilku.
"Apa, Sayang?" Mas Zaky melirik sekilas dan kembali memeriksa dokumen yang ia pegang.
"Kok aku mau melihat kamu joget pargoy ya? Kamu mau 'kan?" pintaku penuh harap.
__ADS_1
"Pargoy?"
****