Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Tak Mau Kalah


__ADS_3

Zaky


"Kamu harus ke kantor secepatnya, Zaky! Pekerjaan kamu menunggu. Kamu mengejar cinta Baby nanti saja setelah selesai dengan pekerjaan kamu. Kalau kamu begini terus, bisa berantakan nanti perusahaan Papa!" omel Papa dari ujung telepon sana.


"Tapi aku tuh harus bicara sama Baby, Pa. Aku harus mulai pendekatan lagi sama dia. Udah mulai ada saingannya aku. Aku nggak mau kalau Baby sampai direbut sama laki-laki itu!" jawabku.


"Setidaknya, kamu kerja dulu. Hari ini kamu tuh ada jadwal meeting dengan CEO perusahaan dari Amerika yang punya proyek besar dengan kita. Kamu nggak bisa seenaknya saja meninggalkan meeting seperti itu! Kalau sampai perusahaan Papa bangkrut bagaimana? Apa Baby masih mau melihat kamu yang kere? Apa Agas mau punya menantu orang susah?" Papa semakin kesal saja karena aku selalu menjawab semua perkataannya.


"Ya. Aku ke kantor sekarang." Aku terpaksa mengalah. Aku nggak mau Papa marah dan semuanya jadi kacau. Masalah dengan Baby belum selesai, aku tak mau menambah masalah dengan Papa.


Aku mengeluarkan kertas origami dari dalam tasku dan menuliskan pesan. "Jangan mau pergi dengan Bahri. Pergi saja denganku ya? Aku akan datang nanti sore dan mengajak kamu jalan-jalan. Kamu mau ke mana? Aku siap mengantar kamu ke mana saja."


Aku melipat kertas origami tersebut menjadi bentuk burung dan aku pun turun ke bawah. Baby nampak sedang mengobrol dengan Dewi. Aku pun menghampiri dan pamit. "Aku berangkat kerja dulu ya." Aku lalu menyematkan origami buatanku di tangan Baby. Baby terlihat terkejut namun origami yang kuberikan tetap saja ia pegang. Setidaknya dia masih mau membaca origami yang aku buat.


Aku pamit pada Dewi sebelum pergi meninggalkan ruko. "Wi, Aku pergi dulu. Tolong titip Baby ya! Jangan sampai adik kamu dekati dia!" pesanku.


Dewi terlihat terkejut mendengar perkataanku. "Wow, ada apa nih? Sepertinya aku melewatkan sesuatu! Kok tumben kamu menitipkan Baby sama aku? Lalu ... kenapa juga kamu harus merasa segitu takutnya dengan adik aku? Memangnya kamu yakin akan kalah ya?" sindir Dewi dengan pedas.

__ADS_1


"Kalah? Enggak ada kata kalah dalam kamus aku! Aku bukan kalah tapi aku sedang mengatur strategi. Saat ini aku harus bekerja. Kalau aku nggak bekerja, dari mana aku bisa membahagiakan Baby?" Aku melirik ke arah Baby yang membuang pandangannya tak mau menatapku sama sekali.


"Baguslah kalau kamu nggak merasa kalah, soalnya kamu 'kan pernah kalah melawan Wira. Nggak lucu deh kalau kamu sampai kalah juga melawan adikku, Bahri!" Dewi seperti menantangku. Terlihat sekali ia masih marah sekali dengan apa yang aku lakukan dulu.


"Kita lihat saja nanti!" Aku lalu pergi meninggalkan Dewi dan Baby lalu kembali ke kantor. Aku selesaikan pekerjaan di kantor satu persatu, jangan sampai ada yang tersisa agar Papa tidak menghubungiku lagi dan marah-marah seperti tadi.


Sayangnya, pekerjaanku di kantor ternyata lebih banyak daripada yang aku pikirkan. Rencanaku untuk pulang sebelum sore agar bisa membawa pergi Baby sebelum Bahri mengajaknya rupanya gagal. Aku baru selesai setelah adzan Maghrib berkumandang. Cepat-cepat aku mengemudikan mobilku ke salon dan hasilnya sia-sia. Mobil Baby sudah tak ada di ruko. Ternyata, aku kalah langkah. Andai saja aku sudah mengerjakan pekerjaan itu sejak kemarin, pasti aku nggak akan telat hari ini.


Aku akhirnya memutuskan untuk berkeliling sambil mencari keberadaan Baby. Jakarta yang macet ditambah aku tidak tahu mereka pergi ke mana membuatku hanya berputar-putar saja mencari keberadaan mantan istriku tersebut. Sampai akhirnya aku menyerah dan pulang ke rumah. Aku melirik ke dalam garasi mobil rumah Abi namun tak ada mobil Baby terparkir di dalamnya.


Aku tak mengindahkan omongan Mama. Setelah mandi aku terus duduk di tepi jendela dan mengawasi rumah Abi. Aku menunggu Baby sampai pulang, namun ternyata mantan istriku tak juga pulang meski hari sudah semakin malam.


"Kamu ngelihat apa sih sejak tadi? Mama lihat kamu ngeliatin ke rumah Agas terus!" Mama datang menghampiriku dan mengikuti arah pandanganku berada. "Nggak ada apa-apa tuh! Kamu lihat apa sih?"


"Justru karena mobil Baby tidak ada di garasi mobil, aku terus melihat ke rumah depan terus. Tadi aku dengar katanya baby akan pergi dengan Bahri, tapi sampai sekarang belum pulang." kataku tanpa melepaskan sedikitpun pandangan ke arah garasi rumah Abi.


"Bahri? Siapa tuh?!" tanya Mama.

__ADS_1


"Adiknya Dewi, istrinya Wira. Ternyata Baby dan Bahri itu sangat dekat. Dari yang aku lihat, kayaknya Bahri memang memendam rasa sama Baby namun Baby tak menghiraukan. Baby nggak nganggap Bahri lebih dari sekedar teman."


"Lalu masalahnya di mana? Biarin aja dong! Baby itu sekarang statusnya sudah janda. Single. Sudah sendiri. Free. Kalau dia mau bersama laki-laki lain, ya terserah Baby! Kenapa sih jadi kamu yang melarang? Ingat ya, kalian tuh sudah berpisah. Sudah bercerai. Biarkan Baby hidup dengan orang yang ia cintai. Kamu juga harus hidup dengan orang yang kamu cintai," nasehat Mama.


"Nggak bisa! Aku nggak suka Baby sama laki-laki itu! Dia belagu, sombong dan kerjaannya pamer terus! Aku nggak rela!"


Mama tersenyum mendengar perkataanku. "Lalu kamu setujunya Baby sama siapa?" tanya Mama.


"Ya sama aku lah! Baby itu 'kan istri aku. Sampai kapanpun dia akan jadi istri aku, meskipun saat ini kita sedang bercerai, aku yakin, sebentar lagi juga kita akan rujuk. Baby nggak boleh sama laki-laki lain! Apalagi laki-laki macam Bahri itu!"


"Kok aneh ya? Mama mendengarnya seakan kamu ini sangat cemburu sama Baby. Kalau kamu memang segitu cemburunya dengan apa yang Baby lakukan bersama Bahri, ya kamu ngomong dong! Bilang sama Baby, aku cemburu. Aku nggak suka ngelihat kamu bersama cowok lain! Katakan terus terang. Jangan hanya kamu pendam sendiri saja." kata Mama.


"Cemburu? Memangnya cemburu kayak begini ya, Ma?" Aku masih ragu apakah aku cemburu. Masa sih aku cemburu?


Mama mengambil pisang dan memukul kepalaku dengan pisang Sunpride sampai pisang tersebut terbelah dua. "Kalau bukan cemburu apa namanya coba? Bodok kok dipelihara! Makanya jangan kebanyakan belajar Mama bilang! Kenapa Wira yang sering clubbing malah lebih pintar dari kamu yang lulusan luar negeri! Makanya belajar tentang hati wanita, jangan belajar tentang menangis tender saja kamu banyakkin! Ini hati, bukan tender!"


****

__ADS_1


__ADS_2