Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Pertikaian dan Mengungkit Masa Lalu


__ADS_3

Zaky


Aku bingung mau berbuat apa, Ibaratnya baru mau melangkah sudah dicegat. Aku harus apa dong? Pergi? Tidak gentle sekali aku!


Untunglah Mama kini angkat bicara. "Maaf, Gas. Aku tahu betapa kamu sangat terluka dengan apa yang menimpa dengan anak-anak kita. Baik kamu, maupun aku, enggak ada yang menginginkan mereka berpisah. Keadaan yang membuat mereka berpisah. Namun, coba kamu lihat ketulusan dari anak-anak kita kini. Mereka ingin memulai lagi hubungan yang sebelumnya sudah ada. Apa salahnya kita sebagai orang tua menjadi wadah mempersatukan mereka. Apakah kita akan menjadi orang tua yang egois dan mengutamakan rasa emosi sesaat bukannya bahagia melihat kabahagiaan mereka?"


"Bahagia? Kebahagiaan? Tanya anak kamu! Ke mana saja dia selama setahun ini? Aku sudah memberi dia kesempatan untuk berumah tangga dengan putri tersayangku. Apakah dia mencintainya? Enggak! Justru dia malah membuat putriku sering menangis. Kini, setelah dia diceraikan, dia mau rujuk? Semudah itu? Semudah itu bagi dia untuk mempermainkan arti sebuah pernikahan? Atau jangan-jangan dia belajar dari kamu kalau pernikahan itu nggak ada artinya?" Abi kini malah menyindir Mama. Mengingatkan kesalahan masa lalu yang telah Mama perbuat terhadap Abi. Wah, semakin panas nih kalau Mama yang berbicara.


"Maaf, Bi. Aku menyela. Aku nggak ada niat untuk mempermainkan pernikahan. Aku akui, aku salah. Waktu itu, aku nggak menyadari kalau ternyata memang aku mencintai Baby dan hanya menganggap sebagai adikku tersayang saja. Namun rasa cintaku kalah dengan obsesi yang selama ini ingin aku kejar. Sampai kemudian saat Baby pergi, aku sadar kalau yang selama ini aku butuhkan adalah Baby dan bukan obsesi gilaku itu. Mama nggak salah. Papa juga nggak salah. Mereka mengajarkan rumah tangga yang baik. Aku yang salah. Aku, Bi. Untuk itu, aku datang ke sini untuk memperbaiki semua kesalahanku. Aku enggak mau kehilangan Baby. Aku sangat mencintai Baby," kataku dengan sungguh-sungguh.


"Mudah sekali kamu mengatakan cinta setelah membuat hati anak saya hancur berkeping-keping? Kamu pikir dia mudah menyatukan puing-puing hatinya yang sudah dihancurkan oleh kamu? Enggak! Jadi, daripada kamu membuatnya hancur sekali lagi, lebih baik kamu pergi!" Abi berdiri dan hendak meninggalkan kami tanpa memberi kesempatan. Tidak bisa. Tidak bisa berakhir seperti ini. Aku sudah berniat kalau aku akan mengutarakan niatku hari ini, tak bisa mundur lagi.


"Bi, dengarkan aku dulu!" Aku ikut berdiri dan mencegah Abi masuk ke dalam.


"Tidak. Sekali saya bilang tidak, ya tidak! Mau kamu anak orang kaya atau anak presiden sekalipun, saya tidak peduli!" Abi tetap melangkah hendak masuk ke dalam rumah.


Terpaksa aku menggunakan senjata terakhirku, meski saat aku melirik wajah Baby terlihat pucat. "Kami sudah rujuk secara agama."


Langkah Abi terdiam. Ia tiba-tiba berbalik badan dan menatapku tajam. "Apa maksud perkataan kamu?"


"Abi tak salah dengar. Aku dan Baby sudah memutuskan untuk rujuk kembali, secara agama dan hukum sedang kami urus. Sudah ... sebulan lebih kami rujuk dan menyembunyikan semua dari semua orang. Hanya kami berdua yang ta-" Aku belum menyelesaikan perkataanku ketika ....


Brugh!


Aku yang fokus berbicara tak siap mendapat tonjokkan dadakan. Tubuhku terbanting dan ....


Gubrak!

__ADS_1


Prang!


"ZAKY!"


Kepalaku terasa gelap. Rahangku rasanya bergeser dalam sekejap dan punggungku menabrak tembok. Aku membuka mataku dan melihat kalau banyak pecahan kaca dari vas bunga yang ikut pecah saat aku terbanting.


"ABI!"


Tak lama suara langkah mendekat. Mama yang tadi berteriak kini menangis sambil menyebut namanya. "Ya Allah, Zaky!"


Papa yang jadi emosional melihatku jatuh.


"Gas, tenang dulu dong!"


Abi yang makin emosi. "Brengseek! Seenaknya aja ngajak anak orang rujuk! Perlu dikasih pelajaran lagi nih anak!"


Tak ada yang meragukan kemampuan fisik Abi Agas. Setiap hari rajin melatih otot dan bahkan ikut latihan Taekwondo di komplek. Mudah bagi Abi mengangkat dan memojokkanku di tembok. "Jangan pernah main-main dengan anak gue!" kata Abi penuh ancaman lalu ....


Brugh!


Kembali bogem mentah aku dapatkan. Kini bibirku rasanya robek, karena aku merasakan darah yang mengalir terasa anyir.


"ABI CUKUP!" teriak Baby.


"AKU YANG SALAH, BI! AKU YANG MENCINTAI MAS ZAKY!" teriak Baby lantang membelaku. Tubuh mungilnya seakan tak takut melawan Abi yang emosional begitu.


Jangan, Baby. Aku tak mau kamu nanti tersakiti. Cukup aku saja! Rasanya aku ingin berkata begitu. Aku berusaha berdiri namun kepalaku terasa pusing. Tonjokkan pertama begitu membekas rupanya.

__ADS_1


"KAMU BODOH ATAU GIMANA? MAU SAJA DENGAN LAKI-LAKI SEPERTI ITU! SUSAH PAYAH ABI MENGURUS PERCERAIAN KALIAN, DENGAN MUDAHNYA KAMU LULUH PADA LELAKI ITU!" bentak Abi.


Kulihat tangan Baby bergetar. Baby terlihat takut. Wajahnya makin pucat. "Aku tau aku bodoh. Namun aku bisa melihat ketulusan Mas Zaky kali ini, Bi. Kami sudah rujuk secara agama. Restuilah kami kembali!" pinta Baby yang kini sudah menangis sedih.


"Restu? Restu kamu bilang? Tidak akan! Sampai kapan pun Abi tidak akan-" Abi belum selesai berkata-kata saat Baby sempoyongan dan hendak jatuh pingsan. Papa yang berada tak jauh dari Baby menangkap tubuh Baby.


"Baby!" teriak semua orang.


Mommy Tari berlari mendekati putrinya sambil menangis. "Baby, Ya Allah Nak. Kamu kenapa?"


Aku berusaha bangun. Aku harus mendekati istriku. Susah payah aku mendekat namun Abi kembali melempar tubuhku. "Jangan sentuh anakku!" katanya dengan nada seram dan penuh ancaman.


"Tari, tolong pegang! Aku telepon dokter dulu!" pinta Papa pada Mommy.


"Iya." Mommy gantian kini memegang kepala Baby sementara Papa menelepon dokter kenalannya.


Mama mendekatiku. Mama sejak tadi hanya menangis melihat anaknya dipukuli. Mau menolong, Mama sudah lemas duluan. "Nak!" lirih Mama di antara isak tangisnya.


"Aku ... baik-baik ... saja, Ma," kataku dengan terbata. Menahan semua rasa sakit yang aku rasakan.


Abi yang emosinya sedikit mencair dan logikanya mulai jalan lalu mengangkat Baby. "Kita bawa ke rumah sakit saja! My, ambil kunci mobil!"


"Aku saja yang menyetir!" kata Papa menawarkan diri. Sejak tadi dokter langganannya tidak menjawab telepon, mungkin sedang operasi.


"Tak perlu. Pergi kalian semua! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan putriku, aku akan balas kalian semua!" ancam Abi.


Abi lalu membawa Baby ke luar. Mommy Tari masuk ke dalam kamarnya, mengambil kunci dan keluar dengan tergopoh-gopoh. "Kalian pulang saja. Obati Zaky. Nanti aku kabari!" kata Mommy yang kemudian pergi ke luar. Tak lama terdengar suara mobil pergi. Meninggalkan kami yang tak bisa berbuat apapun.

__ADS_1


****


__ADS_2