Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Video Call Bareng


__ADS_3

Zaky


Aku baru melakukan video call dengan Baby di malam hari. Wajahnya tertunduk lemah dan tak bersemangat.


"Kenapa? Kangen berat sama aku?" godaku. Kutaruh tas kerjaku di atas kursi lalu mengambil baju tidur.


"Itu sih pasti, tapi ada hal lain yang lebih penting." Baby menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Aku yakin ada masalah baru.


"Wira?"


Baby menggelengkan kepalanya. "Bukan. Mommy."


"Mommy Tari? Kenapa? Kamu diomelin sama Mommy Tari? Kamu nakal ya?" godaku lagi. Aku tak mau Baby sedih jadi kuhibur dengan sesekali menggodanya.


"Kamu yang nakal, Mas. Bukan aku." Baby memanyunkan bibirnya. Menggemaskan sekali.


"Iya. Aku yang nakal. Aku yang mengajak kamu rujuk diam-diam. Kamu boleh kok hukum aku. Aku siap. Kamu mau pecut, aku oke. Kamu mau ikat aku, aku siap. Aku mah orangnya pasrah," godaku lagi. Berhasil. Baby tersenyum.


"Itu sih mau kamu, Mas."


"Memang. Aku mau yang nakal-nakal. Kamu saja yang tidak mau. Aku ajak ke Medan, kamu tidak mau. Coba kalau kamu mau, kita bisa berbuat nakal di kantor aku, di mobil, di hotel tentunya dan aku akan cari tempat yang seru untuk berbuat nakal. Karena kamu tidak mau, aku jadi anak baik deh. Pulang kerja ya langsung ke hotel, lebih baik video call sama kamu daripada ikut manager yang lain ke club."


"Awas saja ya kalau kamu nakal di sana! Aku marah loh! Aku enggak mau sampai ketularan penyakit kelamin akibat kamu yang suka celap celup sembarangan!" ancam Baby.


Aku tertawa mendengarnya. "Beda ya memang anaknya mantan Duda Nackal. Tau saja istilah celap celup. Pantas saja kalau di ranjang begitu hot. Aku saja tak pernah puas. Mau lagi, lagi dan lagi."


"Bisa aja kamu, Mas. Kamu sudah makan belum?" tanya Baby dengan penuh perhatian. "Jangan sampai telat makan dan sakit. Kerja keras bagai kuda juga harus diimbangi dengan nutrisi dalam tubuh. Jangan sampai sakit dan drop."


"Uluh ... uluh ... perhatian sekali istriku ini. Enak banget ya punya istri. Diperhatiin. Disayang. Rugi dulu aku tidak memperhatikan kamu. Pokoknya sekarang aku akan membalas setiap waktu yang kulewatkan dengan lebih mencintai kamu lebih dan lebih lagi," kataku sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Ah masa sih?"


"Iya dong. Oh iya, origami hari ini sudah kamu terima? Aku beliin kamu es krim sultan jadi kamu harus habiskan ya!"


"Sudah. Kenapa sih kamu masih saja mengirim origami sama aku?" tanya balik Baby. Baby kini menatapku lekat. "Ih Mas, kenapa sih suka sekali tidak pakai baju?!"


Aku tertawa terbahak-bahak. Siapa suruh sejak tadi aku video call hanya menatap langit-langit saja? Kalau aku tidak memakai sehelai benang pun pasti Baby langsung protes.


"Biar kamu tambah kangen meet up sama aku. Tuh lihat saja, baru ngobrol sama kamu saja adikku sudah on. Aku pastikan saat aku kembali ke Jakarta, aku akan membuat kamu menjerit kenikmatan," godaku lagi.


"Tau ah, Mas kamu belum jawab pertanyaan aku loh! Kenapa sih kamu masih saja mengirimkan origami sama aku?" Baby bertanya sekali lagi.


"Ya biar mengikuti orang-orang saja. Kalau membuat seribu origami maka permintaan yang diinginkan akan terkabul."


"Ih percaya kayak begituan! Dosa tau!"


Baby menganggukkan kepalanya. "Iya juga sih. Sudah sana Mas mandi. Nanti masuk angin loh. Sudah tidak pakai baju dari tadi, adiknya pun ikut-ikutan on lagi. Aku matikan dulu, nanti Mas telepon aku lagi!"


"Enggak mau! Kamu harus melihat Mas apa adanya. Pokoknya jangan dimatikan ya!"


Aku tinggalkan Baby dengan kamera masih menyala. Aku mandi dan membersihkan tubuhku. Saat keluar dari kamar mandi, kudengar Baby sedang berbicara dengan Mommy Tari. Cepat-cepat kututup kameraku. Jangan sampai Mommy Tari melihatku tanpa busana sedang menggoda anaknya.


Sambil memakai pakaian, aku mendengarkan percakapan Baby dan Mommy. "Kamu serius sudah rujuk dengan Zaky?" tanya Mommy. Dari nada suaranya terdapat kekesalan dan kekecewaan secara bersamaan.


"Iya, My. Masa sih aku tidak serius untuk hal sepenting ini," jawab Baby.


"Hal apa sih yang membuat kamu yakin kalau Zaky mencintai kamu?" tanya Mommy Tari.


"Banyak, My. Bukan hanya karena origami saja, Mas Zaky banyak memberikan perhatiannya sama aku. Mungkin Mommy mengira kalau aku mudah sekali luluh dengan perubahan sikap Mas Zaky, namun nyatanya tidak. Aku tuh berpikir rasional, My. Aku tahu konsekuensi hubungan aku dengan Mas Zaky sekarang banyak rintangan, namun aku dan Mas Zaky sepakat kalau kami akan melewatinya bersama. Susah, senang, sedih dan bahagia. Kami mau bersama-sama,"

__ADS_1


"Terkesannya sih lebay ya, My, tapi ya ini namanya cinta. Mommy pasti pernah 'kan merasakan jatuh cinta? Mommy tahu bukan bagaimana rasanya berpisah jauh dari orang yang kita cintai? Itu yang aku rasakan, My. Aku memang sudah bercerai dengan Mas Zaky, namun ternyata aku tidak bahagia. Hidup aku terasa hampa. Aku cuma seperti robot yang tahunya cuma kerja dan kerja saja. Sejak Mas Zaky mengajak aku untuk rujuk, hidup aku mulai terasa seru lagi, meski ada perasaan deg-degan, khawatir dan takut ketahuan sama Abi dan abang," kata Baby panjang lebar.


"Kamu sadar 'kan apa yang kalian lakukan itu terlalu beresiko? Abi kamu sudah demikian bencinya dengan Zaky. Ditambah kalian diam-diam. Bagaimana Abi kalian tidak marah?" tanya Mommy.


Rasanya kalau aku diam saja aku kasihan dengan Baby. Aku tak bisa seperti itu. Biar aku yang ngadepin Mommy. "Aku nggak akan membiarkan Baby berjuang sendirian, My."


"Loh kok seperti ada suara Zaky?" tanya Mommy Tari.


"Iyalah. Kami sedang video call sejak tadi," jawab Baby dengan polosnya.


"Baby, tolong, aku mau bicara dengan Mommy!" pintaku.


"Kamu sudah pakai baju belum, Mas?" tanya Baby lagi dengan polosnya.


"Pakai baju? Memangnya kalian sedang apa? Astaghfirullah!" Mommy Tari sampai istighfar. Baby ini ya, terlalu jujur jadi orang.


"Tadi aku mau mandi, My. Sekarang sudah selesai," kataku menjelaskan.


Baby lalu mengarahkan kamera ke arah Mommy. Aku memasang senyum terbaikku. "Assalamualaikum, My!"


"Waalaikumsalam. Jangan senyum-senyum kamu. Mommy sebal sama kalian berdua. Bikin Mommy sakit kepala saja!" omel Mommy.


Aku tertawa melihat Mommy. Mirip sekali dengan Baby, bahkan saat merka ngambek. "Benar ya kata Mama, Baby tuh mirip banget sama Mommy. Ngambek pun mirip."


"Iyalah. Mommynya. Kamu kapan mau bilang sama Abi?" tanya Mommy.


"Mommy maunya kapan?" tanyaku balik.


****

__ADS_1


__ADS_2