Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Pesta Couple


__ADS_3

Zaky


"Semenjak tinggal di rumah Abi, Mas jadi menyadari kalau kamu begitu disayangi dan dimanjakan oleh Abi. Kamu anak perempuan yang begitu spesial bagi Abi. Perhatian dan larangan yang Abi berikan adalah wujud kasih sayangnya. Mas takut saat Mas membawa kamu pindah dari rumah Abi, Mas tak bisa memberikan semua itu dan sibuk dengan pekerjaan Mas."


"Mas jadi ingat saat dulu mengajak kamu pindah. Di rumah kita, Mas malah jadi suami yang egois dan seenaknya sendiri. Mas takut akan seperti itu lagi. Apalagi kamu sedang hamil dan butuh perhatian dari Mas. Tinggal bersama Abi sekarang seperti sedang tinggal di pesantren. Mas belajar cara menjadi suami dan calon ayah dengan benar. Mas belajar memperlakukan kamu dengan baik. Mas belajar meluangkan waktu Mas di antara kesibukan Mas untuk mengurus kamu, sebagai bekal agar Mas bisa mengurus kalian nantinya," jawabku panjang lebar.


"Wah, Mas hebat. Yang semula merasa terbebani dan ingin segera pindah rumah, sekarang malah ingin tetap tinggal dan merasa kalau sikap Abi selama ini malah mendidik. Aku salut dengan sikap Mas yang berbesar hati menerima semuanya." Baby menatapku dengan bangga.


"Jangan, Sayang. Jangan puji Mas dulu. Mas masih belajar. Tinggal bersama Abi, Mas membiasakan diri sholat subuh di masjid. Dimulai dari sholat subuh, Mas biasakan sholat berjamaah saat dzuhur dan ashar di kantor. Meski untuk maghrib dan isya jarang Mas lakukan karena biasanya hanya sholat sendiri, namun sudah kemajuan besar. Mas juga bisa mengajak Papa dan Mama yang semula suka lalai sholatnya jadi lebih rajin. Semua karena pengaruh Abi kamu. Bukan karena Mas," kataku.


Baby tersenyum tetap saja menatapku dengan sangat bangga. "Pokoknya Mas hebat. Aku makin cinta sama Mas."


"Oh iya? Mas apalagi. Makin cinta sama kamu." Aku mengecup kening Baby dan kami pun menikmati perjalanan kami. Melihat pemandangan sawah di sepanjang perjalanan dan akhirnya sampai di Semarang. Ya, setelah kebanyakan request dari para orang tua, akhirnya diputuskan kami akan ke Semarang lalu ke Jogja. Hanya dua tempat saja. Itu pun karena keterbatasan waktu dan tak mau Baby sampai kelelahan di jalan.


"Sayang, kita sudah sampai," bisikku lembut di telinga Baby yang setelah kami mengobrol kembali jatuh tertidur. Ibu hamilku ini memang seperti putri tidur. Mudah sekali tidur namun saat hamil malah jauh lebih cantik lagi auranya. Membuat aku selalu ingin memeluknya dan melakukan hal yang menyenangkan.


Aku membantu Baby turun dari bus. Kami sudah sampai hotel. Wira selaku panitia mulai memberikan petunjuk dan jadwal pada kami. "Kita jam bebas ya. Yang mau kelonan dulu di kamar boleh, tapi sama pasangan sahnya ya. Yang mau pesan lewat resepsionis, tolong ditahan dulu. Dosa. Lebih baik berenang saja biar kisut, oke?" sindir Wira pada kedua gurunya.


"Sombong bener!" celetuk Om Sony.


"Iya. Banyakkan juga kita jam terbangnya!" sahut Om Riko.


"Kunci kamar akan dibagikan oleh Om Damar dan Tante Tara. Nanti malam kita ketemu di aula untuk makan malam bersama. Ingat tema kita malam ini. Pakai semua ya, yang tidak pakai kena denda 500 ribu!" kata Wira lagi melalui toa yang ia bawa kemana-mana. Padahal tanpa memakai toa juga kami semua mendengar apa yang ia katakan.

__ADS_1


Tak lama Papa dan Mama yang selaku panitia bagian hotel datang dan membagikan kunci hotel untuk kami. Kami pun membubarkan diri.


Dengan mendorong koper di tangan kiri dan tangan kanan menggandeng Baby, kami pergi ke kamar. Kamar berukuran besar dan nyaman sudah disiapkan oleh Papa dan Mama. Kasur besar yang nyaman begitu kurindukan. Baby menyuruhku mandi dulu sebelum tiduran. Aku menurut, kuajak saja ia mandi bareng. Selesai mandi, kami menikmati waktu berdua sambil menonton TV di atas kasur nyaman ini.


"Habis sholat maghrib kita siap-siap ya, Mas. Kita harus menang malam ini!" kata Baby.


"Tentu, Sayang. Kita harus kompak. Kita akan jadi pasangan suami istri paling kompak di komplek kita!" kataku penuh semangat.


"Mas, kasihan juga ya Om Sony. Kenapa harus Om Riko sih pasangannya?"


"Mau bagaimana lagi? Mereka sendiri yang masih betah menjomblo. Biarkan sajalah. Kita lihat saja bagaimana mereka malam ini!"


Sehabis sholat maghrib berjamaah, kami pun bersiap-siap dengan kostum kami. Malam ini temanya adalah kostum couple goal. Baby mengenakan dress selutut warna pink yang senada dengan kemeja yang kukenakan. "Kamu cute banget, Sayang!" pujiku sambil memeluk Baby dari belakang dan mengecup pipinya.


"Tak masalah bagiku. Jangan mengkotak-kotakkan warna. Pink untuk wanita dan biru untuk laki-laki. Semua warna bebas untuk laki-laki dan perempuan. Sudah siap?" tanyaku.


"Sudah. Ayo kita ke aula yang sudah disewa untuk makan malam dan acara kita malam ini!" Kuberikan lenganku agar Baby bisa menggandengnya.


Kami pun naik lift ke aula. Nampak sudah banyak orang di sana. Semua sudah tampil beda dengan kostum yang dikenakan. Abi memakai baju beskap yang dilengkapi dengan memakai blangkon dan Mommy memakai kebaya, serasi sekali. Mama dan Papa juga tak mau kalah.


Mama memakai baju dress ala remaja tahun 70-an dan Papa pun berpakaian ala 70-an juga. Niat sekali mereka mempersiapkan acara malam ini.


Selanjutnya Om Bastian yang memakai baju gamis panjang dan istrinya yang memakai baju muslim panjang dengan warna putih senada. Cocok sekali untuk mereka yang agamis.

__ADS_1


Wira dan Dewi kompak memakai jas dan celana hitam. Mereka layaknya pasangan dalam film detektif atau polisi. Serasi sekali. Aku dan Baby jadi makin tak yakin untuk menang. Peserta yang lain lebih mempersiapkan penampilan mereka dibanding kami.


"Kayaknya kita kalah heboh dibanding mereka ya, Mas," bisik Baby.


"Iya. Tak apa ya kalah tidak menang?" bisikku balik.


"Iya. Yang penting tidak bayar denda sama Abang." Aku tersenyum mendengar jawaban Baby. Kami pun mengambil makanan yang sudah tersedia lalu memakannya di meja kami.


"Enak, Sayang?" tanyaku.


Baby mengangguk. "Enak banget. Aku suka makanannya."


"Mau nambah lagi?" tanyaku. Ibu hamil biarkan saja makan banyak. Yang penting mereka sehat.


"Mau cemilannya saja," jawab Baby. "Cakenya enak. Aku mau lagi."


"Biar aku ambilkan." Aku dengan sigap mengambilkan pesanan Baby. Setelah mengambil cake, aku begitu terkejut dengan kedatangan pasangan ini. Hampir saja cake di tanganku terjatuh. Semua lalu menatap ke arah yang baru datang.


"Hi semua!"


Aku tak bisa berkata-kata. Hanya diam dan shock.


****

__ADS_1


__ADS_2