Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Kekhawatiran Mas Zaky


__ADS_3

Carmen


Aku kaget dengan dering dan getar Hp milikku. Abi telepon? Ya Allah, aku lupa mengabari Abi lagi. Bodoh sekali. Cepat-cepat kujawab telepon Abi.


"Assalamualaikum, Bi." jawabku.


"Waalaikumsalam, Baby. Kamu dimana? Abi tidak bisa ke tempat kamu. Jalanan ditutup. Banyak mobil mogok katanya." Suara Abi terlihat sangat mengkhawatirkan keadaanku.


"Aku sudah di jalan pulang, Bi. Aku ketemu dengan ... temanku. Aku diajak bareng. Abi jangan lewat jalan sana. Banjirnya parah," jawabku. Terpaksa aku berbohong daripada kena omel Abi. Kulirik Mas Zaky yang menyetir sambil tersenyum. Pasti Mas Zaky senang aku menyebutnya temanku. Sebal.


"Oh syukurlah. Iya, nanti Abi lewat jalan lain. Kita ketemu di rumah saja ya!"


"Iya, Bi. Abi hati-hati di jalan. Assalamualaikum!" Kuakhiri panggilan telepon setelah Abi menjawab salamku.


"Kenapa senyum-senyum, Mas?" Kulihat jalanan di sekitarku. Macet parah tapi kami sudah tak jauh lagi dari rumah.


"Tak apa. Tadi aku lihatin kamu tidur. Cantik banget," puji Mas Zaky.


Cantik? Mana ada? Aku 'kan tidurnya suka ngiler. Cepat-cepat kulihat kaca spion memeriksa ada bekas iler di wajahku atau tidak.


"Enggak ngiler kok. Cantik dan rasanya manis," kata Mas Zaky lagi sambil mengulum senyumnya.


Manis? Memangnya aku gula?


"Mau makan dulu enggak?" tawar Mas Zaky. "Ada pecel ayam kesukaan kamu di depan. Kalau kamu mau, kita turun untuk makan sebentar."


"Enggak usah. Aku mau langsung pulang saja. Pegel kelamaan duduk di mobil," tolakku.


"Mau aku pijitin? Atau duduknya mau aku pangku biar tidak pegel?" goda Mas Zaky lagi. Sejak kapan sih Mas Zaky jadi gombal banget kayak gitu?


"Enggak usah ya!" cibirku.


"Oke. Nanti saja aku pangkunya saat kita-"

__ADS_1


"Mau aku turun di sini?" ancamku sebelum Mas Zaky menyelesaikan perkataannya.


"Enggak dong. Aku enggak godain lagi. Janji."


Kenapa lama sekali sih sampai rumah? Kenapa juga jas milik Mas Zaky begitu harum? Aku tuh paling suka dengan parfum mahal yang Mas Zaky kenakan. Wanginya membuatku ingin memeluk tubuh hangatnya dan membenamkan kepalaku di dadanya.


"Kok muka kamu merah? Kamu demam?" Mas Zaky mengulurkan tangannya dan memeriksa keningku. Aku mau tepis namun tangannya sudah sampai ke keningku duluan. "Enggak panas. Takut kamu masuk angin karena hujan. Aku beli obat dulu ya di apotek depan. Biasa minum apa?"


Hilang sudah wajah jahil dan suka menggoda dari dirinya. Berganti menjadi wajah khawatir


"Aku baik-baik saja kok. Jangan lebay deh!" ketusku. Tak sia-sia selama ini mendengar Abang dan Abi selalu ngomong pedas. Bisa kupraktekkan juga.


"Bukan lebay. Tadi kamu kehujanan dan kena banjir juga. Takut kamu sakit. Ingat, kita ada kencan pertama weekend besok!" ujar Mas Zaky.


"Yaudah batalkan saja!" jawabku dengan entengnya.


"Jangan dong. Makanya kamu harus sehat. Mau minum obat apa? Atau mau makan apa? Aku beliin!" bujuk Mas Zaky.


"Enggak usah. Aku baik-baik saja, oke?"


Aku mencibirkan bibirku. "Dulu kayaknya enggak peduli deh."


"Kata siapa? Dari dulu aku selalu khawatir kalau kamu sakit. Kamu lupa waktu kamu kecil, kamu beli jajanan di SD yang kita lewatin terus pulangnya sakit perut? Aku sampai gendong kamu sampai rumah loh!"


"Ya ... cuma sekali aja," jawabku.


"Kata siapa? Waktu aku lagi liburan kuliah dan pulang ke Indonesia. Kamu minta aku ngajak kamu touring naik motor. Pulangnya masuk angin. Terpaksa aku minta Papa kirimin mobil dan di jalan kamu terus meluk aku sambil ngigau karena badan kamu panas, lupa?" sindir Mas Zaky.


Oh iya. Aku lupa.


"Iya. Cuma dua kali aja," jawabku tak mau kalah.


"Oke, yang ketiga. Waktu kamu ajak nonton konser. Kamu jingkrak-jingkrak mengikuti irama lagu yang dinyanyiin sama band siapa ya waktu itu aku lupa, pokoknya ending-nya kamu pegal dan kaki kamu lemas. Lagi-lagi aku harus gendong kamu sampai mobil dan urut kaki kamu pakai Counterpain sampai pegal kamu hilang. Sampai tanganku panas dan bau balsem semua. Masih lupa?"

__ADS_1


"Iya ... iya ... aku lupa. Enggak rela banget gendong aku!" gerutuku.


"Bukan tidak rela, Baby Sayang. Sebentar, kok enak ya manggil kamu Baby Sayang? Aku akan sering manggil kamu Baby Sayang, ah, mulai sekarang." Mas Zaky malah lupa apa yang mau ia katakan.


"Maksud aku tuh, bukan masalah gendong yang bikin aku keberatan. Aku terlalu khawatir sama kamu. Takut kamu kenapa-kenapa. Kalau kamu mau digendong sih sekarang juga aku mau, gendong depan ya tapinya." Mas Zaky memainkan kedua alisnya, menggodaku sambil tersenyum jahil.


"Ih ngarep. Ogah!" ketusku.


"Kalau begitu nanti aku akan buat kamu kecapekan biar kamu kakinya pegal dan aku gendong," ujar Mas Zaky.


"Mau tangannya bau balsem lagi?" cibirku.


"Tak masalah. Sekarang sudah banyak balsem yang cukup dioles dan ada roll on-nya. Enggak akan buat tangan aku bau dan kepanasan lagi. Kamu enggak percaya? Aku selalu sedia nih, takut kaki kamu tiba-tiba pegal." Mas Zaky membuka dashboard mobilnya dan mengeluarkan sebuah balsem hot berwarna merah seperti pulpen. "Siap sedia bukan?"


Wow ... kadang memang Mas Zaky lebih care dan perhatian sebagai Kakak dibanding Abang yang sibuk pacaran dan tebar pesona dengan wanita lain. Aku yang sering ditinggal Abang dan dititipkan dengan Mas Zaky malah lebih diperhatikan dibanding dengan Abang sendiri.


"Mau pakai? Sekalian aku pijitin kalau mau," tawar Mas Zaky.


"Enggak usah! Dibilang aku baik-baik saja kok ngeyel. Udah sana fokus nyetirnya! Udah malam. Ngantuk nih!" omelku. Sejujurnya aku takut Mas Zaky akan tiba-tiba menciumku lagi seperti tadi.


"Ngantuk? Mau bobo di hotel? Mas temenin deh. Cukup bilang, aku mau rujuk Mas. Beres," goda Mas Zaky.


"Dih ngarep! Aku turun nih!" ancamku.


"Jangan dong, Baby Sayang. Mas sudah janji akan mengantar kamu pulang. Jangan marah lagi ya!" Mas Zaky kembali fokus mengemudi. Kini tak ada percakapan di antara kami lagi. Hanya suara pembaca berita di radio yang mengabarkan kalau banjir sudah mulai surut dan kemacetan mulai terurai.


Aku bisa melihat komplek rumahku. Gapura yang terlihat mewah dan elegan dengan patung kuda di depannya. Mas Zaky membelokkan mobilnya dan menyapa security dengan ramah lalu kembali menjalankan mobilnya.


"Jadi, aku turunin kamu dimana nih? Di rumah kita atau rumah Abi? Aku sih maunya di rumah kita. Gimana kalau kita nginep di sana?" tanya Mas Zaky.


"Di rumah Abi. Jangan pake nawar!" jawabku tegas.


"Oke." Mas Zaky memberhentikan mobilnya di depan rumah. Untunglah tak ada Abi dan Abang namun ternyata ada yang melihat kami.

__ADS_1


"Kok kalian bisa bareng sih?"


****


__ADS_2