Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Persamaan Baby dan Seprai


__ADS_3

Carmen


Jam 7 pagi aku sudah tiba di Indo November. Kaos tangan pendek, celana jeans selutut, sepatu putih dan tas selempang adalah outfit yang kukenakan untuk kencan pertama kami. Kuikat cardigan di pinggang, berjaga kalau cuaca terlalu terik dan akan membakar kulitku nanti.


Rupanya Mas Zaky sudah tiba. Ia berdiri di depan mobilnya. Ia mengenakan celana jeans dengan kaos putih berkerah. Bagian tangannya ketat karena otot lengannya yang menyembul, menggoda sedikit imanku sampai sulit menelan salivaku sendiri.


"Pagi, Baby! Segar sekali kamu pagi ini!" sapa Mas Zaky ramah.


"Waalaikumsalam," jawabku.


"Ya Allah, lupa lagi. Assalamualaikum calon istriku tersayang," ulang Mas Zaky sambil tersenyum menggoda.


"Lebay. Ayo berangkat! Nanti ada yang lihat!" Aku celingukan ke kanan dan ke kiri, takut ada anggota keluargaku yang melihat kami pergi bersama.


"Oke. Silahkan!" Mas Zaky membukakan pintu mobil untukku. Aku masuk ke dalam dan memakai seat belt.


"Sebelum berangkat, kamu buka dashboard aku dulu deh!" kata Mas Zaky yang sudah masuk dan kini duduk di kursi pengemudi.


Aku menurut saja dan membuka dashboard. Aku melihat sebuah kotak kecil di dalamnya. "Apa ini?" tanyaku.


"Buka saja!"


Aku membuka kotak yang ada pita di atasnya. Tentu saja ada origami dan ternyata isi di dalamnya adalah sebuah lilin. "Lilin?"


"Iya. Lilin aromaterapi yang menenangkan kalau kamu gunakan sebelum tidur. Aku sengaja pesan dari salah seorang pembuat lilin agar kamu suka." Mas Zaky memundurkan mobilnya. Setelah memberi uang tip, ia pun mengemudikan mobilnya menuju Dufan.


"Makasih," kataku.


"Kamu udah sarapan?" tanya Mas Zaky.


"Sudah," jawabku jujur.


"Pas sekali. Aku beli kue crepes abang-abang. Enak buat cemilan." Mas Zaky memberikan bungkus plastik hitam yang di dalamnya terdapat bungkus kertas berisi kue crepes kesukaanku.


"Makasih," jawabku singkat.


"Kamu mau naik apa hari ini? Arung jeram mau berapa kali? Kamu paling suka naik arung jeram. Enggak akan bosan meski baju kamu sudah basah," oceh Mas Zaky.


"Kayaknya hari ini enggak usah deh. Enggak bawa baju ganti. Nanti Mommy dan Abi curiga kalau pergi bawa baju," tolakku.


"Oh tenang saja. Aku sudah bawakan baju ganti kamu dari rumah kita." Mas Zaky mengambil paper bag yang ada di kursi belakang dan memberikannya padaku. "Kamu bisa naik berulang kali. No problemo," ujar Mas Zaky.


"Rumah kamu. Koreksi. Oke kalau ada baju ganti, akan aku pikirkan."


Mas Zaky tersenyum dan tiba-tiba mengacak rambutku. "Ups, sorry. Kebiasaan nih tangan. Maaf ya cantik. Nih kamu bales deh aku. Dijambak juga boleh."

__ADS_1


"Itu sih mau kamu, Mas." Kualihkan pandanganku ke arah jendela. Mas Zaky memilih lewat jalan toll, lebih cepat dan tidak terkena macet. Tak ada pemandangan berarti, tidak seperti lewat jalan alternatif yang banyak tukang jualan.


"Baby, kamu tahu enggak kenapa gajah itu belalainya panjang?" tanya Mas Zaky tiba-tiba.


"Ya memang begitu takdirnya," jawabku acuh.


"Ih kamu enggak ada usahanya banget sih. Bukan karena itu, Sayang! Gemas aku, cubit nih, tapi pake bibir!" goda Mas Zaky.


"Aku telepon Abi, berani?" ancamku balik.


"Ih dasar anak Abi. Ngadu terus ke Abi-nya. Kamu jawab yang bener dong," gerutu Mas Zaky.


"Itu udah aku jawab. Takdir. Mau gimana lagi kalau bukan karena takdir?" balasku tak mau kalah.


"Kepeleset juga karena takdir," cibir Mas Zaky lagi.


"Itu udah tau," balasku.


"Salah jawabannya," kata Mas Zaky.


"Oh," balasku pendek.


"Kok cuma 'oh' doang? Tanya kek, kenapa salah," omel Mas Zaky.


"Harus ya nanya?" tanyaku balik.


"Kalau enggak mau nanya balik gimana?" tanyaku lagi.


"Ah sudahlah! Ribet!" Mas Zaky garuk-garuk kepala karena rencananya gagal. Kasihan juga sih. Aku juga jadi penasaran kenapa gajah belalainya panjang. Coba ah tanya apa jawabannya.


"Yaudah aku nanya. Kenapa gajah belalainya panjang?" tanyaku pada akhirnya.


Wajah Mas Zaky kembali cerah. "Nah gitu dong! Gajah itu belalainya panjang agar bisa bergandengan belalai dengan gajah yang lain. Kayak aku sama kamu, bisa bergandengan tangan bukan?"


Mas Zaky hendak menggandeng tanganku namun langsung aku tepis. "Krik ... krik ... garing tau!" cibirku.


"Hah ... dia sih enggak seru. Itu gombalan kelas dewa tau," gerutu Mas Zaky sambil memanyunkan bibirnya.


"Dewa apaan ngegombal garing begitu? Pake segala belalai gajah dijadiin gombalan," cibirku.


"Yaudah kamu aja deh gantian gombalin aku, bisa enggak?" tantang balik Mas Zaky.


"Ih ogah. Kayak enggak ada kerjaan aja gombalin kamu!" balasku dengan ketus.


"Yaudah kalau enggak mau. Aku gombalin diri aku sendiri aja. Zaky ganteng, kamu tahu enggak apa perbedaan Baby sama seprai?" Mas Zaky berpura-pura menjadi diriku. Suaranya pun diubah agak kemayu.

__ADS_1


"Enggak. Apa persamaannya?" Kini suara Mas Zaky menjadi dirinya sendiri.


"Mas Zaku mau tau banget nih?" Kembali Mas Zaky menjadi diriku.


"Iya dong, Baby Sayang!"


"Persamaan Baby dengan seprai itu, sama-sama sudah mengacak-acak hati Mas Zaky eyaaa."


Aku tak kuat untuk tidak tertawa. Apa sih, masa aku disamaain sama seprai? Tapi lucu sih ha ... ha ... ha ....


"Lucu kan? Kamu tau enggak aku dapat ide ini darimana?" tanya Mas Zaky.


"Darimana?" tanyaku balik.


"Dari omelan Mama. Saat Mama mau membereskan kamarku, sepraiku berantakan. Maklum, habis bersenang-senang sendiri karena enggak ada pasangan," cerita Mas Zaky.


"Dih, mesum!" cibirku.


"Ya namanya juga lelaki. Wajar, Neng. Lanjut ya aku ceritanya. Mama melihat sepraiku berantakan dan ngomel begini: "Seprai kok sama kayak hati pemiliknya, acak-acakkan?". Nah, aku pakai deh buat ngegombalin kamu!" Mas Zaky tertawa puas dan penuh kemenangan.


"Ih makin aneh," kataku.


"Biarin, yang penting udah buat kamu tertawa. Iya enggak, seprai kesayanganku?" goda Mas Zaky.


"Memangnya aku Kintakun atau My Love?" jawabku.


"Loh, kamu 'kan memang My Love, ayo kejebak sendiri ya sama ucapannya?" Sekarang gantian Mas Zaky yang menggodaku.


Aku tak menjawab dan memilih kembali melihat pemandangan di luar jendela. Kenapa aku kena jebakannya Mas Zaky ya? Tidak, Mas Zaky yang harus masuk perangkapku.


"Alhamdulillah kita sudah sampai. Kamu siap teriak-teriak?" tanya Mas Zaky.


"Siap," jawabku singkat.


"Mau di hotel atau belakang mobil? Aku siap loh bikin kamu teriak-teriak ketagihan? Cukup bilang, aku mau Mas rujuk. Beres deh," goda Mas Zaky lagi.


"Bodo ah!" Aku tak menanggapi Mas Zaky yang kini tertawa senang menertawaiku.


Setelah memarkirkan mobil, Mas Zaky membukakan pintu mobilnya untukku. Tangannya melindungi kepalaku saat aku hendak turun agar tidak terkena atap mobil. Agak berlebihan sih, tapi biarkan saja. Mungkin Mas Zaky sedang telat puber?


"Aku beli tiket dulu ya? Tunggu aku!" Baru beberapa langkah Mas Zaky berjalan, ia kembali lagi.


"Ada yang ketinggalan," katanya.


"Apa?"

__ADS_1


****


__ADS_2