Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Nasehat Abang Wira


__ADS_3

Carmen


"Bahri?" tanyaku kompak dengan Kak Dewi. Kami berdua tak menyangka Bahri sudah kembali ke Jakarta.


Kak Dewi lalu menghampiri adiknya dan memeluknya dengan erat. "Kamu kapan datang? Kok kamu nggak ngabarin Kakak sih kalau kamu sudah pulang?" tanya Kak Dewi.


"Baru saja tadi pagi aku sampai, Kak. Aku langsung ke sini kena lapar. Aku mau makan di cafe ah, gratis!" Bahri tersenyum jahil seperti biasa.


"Yaudah sana makan, Bahri! Pesan apapun yang kamu mau. Gratis! Bilang saja Abang yang nyuruh!" ujar Abang Wira.


Bahri lalu menghampiri Abang Wira dan salim. Dia juga menghampiriku dan mengacak rambutku pelan. Abang menatap kami dengan curiga. Tentu saja, Abang bukan tipe orang yang akan diam saja berpura-pura tak tahu. Abang akan langsung bertanya kenapa kami bisa sedekat itu.


"Kok kalian deket banget sih? Pacaran?" selidik Abang Wira.


"Maunya sih gitu, Bang. Apa daya, ditolak terus sama Baby!" jawab Bahri sambil tersenyum.


"Awas ya macam-macam! Baby itu sekarang janda kembang. Popularitasnya sedang meroket. Banyak banget yang minta dikenalin sama dia! Kamu pokoknya jangan deket-deket!" ancam Abang Wira.


Bahri tertawa mendengar ancaman Abang. Memang, Abangku itu terlihat ketus namun sebenarnya hatinya baik dan penyayang, apalagi terhadapku adik perempuan satu-satunya.


"Kita berdua akrab karena sering ketemu waktu di Jogja, Bang. Sering ngopi bareng, nongkrong denger live musik, suka curhat juga. Jadi ya kayak temen. Saat ini sih masih temen ya. Kalau nanti biasanya berubah jadi teman tapi mesra!" goda Bahri lagi.


"Pokoknya nggak boleh!" Abang langsung bersikap tegas. "Jangan godain adikku yang janda kembang itu ya! Udah cepet sana kamu ke ataa. Kamu makan apa saja sepuasnya tinggal pesan, bilang aja disuruh sama Abang Wira!"

__ADS_1


"Siap, Bang!" Bahri lalu pergi ke cafe atas. Aku baru saja hendak menyusul Bahri ketika tanganku dicekal oleh Abang Wira. Abang memberikan Vino pada Kak Dewi agar ia bisa berbicara secara leluasa denganku.


"Dek, antara kamu sama Bahri nggak ada hubungan apa-apa 'kan?" selidik Abang Wira.


"Hubungan apa sih Bang? Kami itu cuma temenan, enggak lebih. Bahri itu baik loh, selama aku di Jogja dia yang menemani. Kalau nggak ada Bahri, aku udah bosen banget Bang, kerja, kerja dan kerja terus. Waktu aku sedang menenangkan diri sebelum membuat keputusan penting tentang rumah tanggaku, Bahri juga yang nemenin aku. Abang jangan berburuk sangka dulu sama Bahri. Dia baik, tidak seburuk dugaan Abang," jawabku apa adanya.


"Bukan itu Dek, Abang itu 'kan seorang laki-laki. Abang tuh bisa lihat dari sorot cara Bahri menatap kamu itu berbeda. Abang nggak mau aja, adik ipar Abang akan jadi suami kamu! Kamu pernah gagal dalam rumah tangga, kamu harus pikirin dulu. Yang jadi pasangan kamu kelak, harus laki-laki yang benar-benar sayang sama kamu. Bukan hanya kamu yang menyayangi dia. Ingat Dek, lebih baik kamu dicintai daripada kamu yang mencintai." nasehat Abang Wira.


Aku mengangguk dan tersenyum senang mendengar nasehat dari Abang. Senang karena Abang sangat menyayangiku. "Iya, Bang. Aku akan ingat pesan Abang. Aku ke atas dulu ya Bang. Aku mau ngobrol sama Bahri."


Aku tinggalkan Abang Wira di bawah dan aku naik ke lantai atas. Di cafe, Bahri sedang memakan nasi goreng dengan lahap. Rupanya dia beneran laper. "Laper banget, Bang? Memangnya beneran belum makan ya kamu?"


Bahri mengangguk dan menyelesaikan makanannya sebelum menjawabku. "Aku naik kereta baru sampai tadi pagi. Aku nggak sempat jajan. Aku tahan lapar di kereta dan langsung ke sini. Sekarang, aku kayaknya bisa habis dua porsi nasi goreng sekaligus!"


"Bagaimana pekerjaan kamu? Cafe lancar? Salon bagaimana?" tanya Bahri.


"Alhamdulillah lancar. Meskipun aku harus banyak belajar dari Abang Wira tentang bagaimana menyelesaikan masalah di cafe, sejauh ini aku masih bisa menanganinya. Kamu sendiri bagaimana? Masih di Jogja Atau sekarang sudah ditempatkan di Jakarta?"


Bahri sudah menghabiskan sepiring nasi goreng. Ia tak jadi memesan nasi goreng lagi melainkan meminta cemilan berupa risol goreng. Kini, Bahri minum teh tarik sampai habis setengah gelas baru menjawab pertanyaanku. "Alhamdulillah, akhirnya aku ditempatkan di Jakarta."


"Alhamdulillah. Enak dong. Kantor kamu daerah mana?" tanyaku lagi.


"Daerah Kuningan. Macet sih, tapi mau bagaimana lagi? Aku lebih suka di Jakarta dengan semua kemacetan daripada di Jogja, karena ada bidadari yang bertama Carmen di Jakarta," goda Bahri padaku.

__ADS_1


"Bisa aja ya godain aku! Aku sudah berstatus janda tau sekarang! Ibaratnya, kalau kata Abang Wira, aku tuh janda kembang. Semakin menantang. Kalau mau menang, harus punya uang segudang Ha ... ha ... ha ...." Aku dan Bahri kompak tertawa.


"Udah bangga dia sama status janda? Bagus. Enggak apa-apa, status janda itu lebih terhormat. Nggak usah pikirin apa kata orang, yang penting kamu menikmati hidup. Kamu tahu nggak, ada beberapa artis yang di usia sudah 50 tahun lebih tapi masih saja awet muda."


"Tau."


"Apa alasannya?"


"Mana aku tahu," jawabku.


"Rata-rata karena mereka nggak punya suami! Nggak ada yang bawel tiap hari minta bikinin kopi, request makanan yang harus dimasakin, harus nyuciin kaos kaki suami yang baunya naudzubillah. Mereka tuh hidupnya tuh bebas. Nyaman. Enggak ada pikiran. Jadi lebih awet muda!" ujar Bahri.


"Iya juga ya. Bener yang kamu bilang. Jadi janda tuh nggak buruk-buruk banget dan aku nggak usah pusing mikirin apa yang harus dimasak, aku nggak usah pusing mikirin uang belanja bulanan, aku nggak usah pusing mikirin tagihan yang harus dibayar. Aku bisa santai menikmati hidup sambil cuci mata sesuka hati. Aku jadi lebih awet muda dan lebih bisa menikmati dan menyayangi hidupku."


"Nah gitu dong. Move on. Hidup kamu tuh masih panjang. Jalan hidup kamu masih banyak yang harus dilalui. Jangan cuma terkekang sama satu hal yang membuat sayap kamu nggak bisa terbang tinggi. Aku suka sikap positif kamu sekarang. Terus, kemarin saat sidang cerai, nangis apa nggak?" goda Bahri.


"Ih jahat! Ya nangis-lah! Siapa juga yang enggak nangis? Status aku tuh berubah dari istri jadi janda. Masa sih aku ketawa-ketawa di depan orang banyak? Bisa disangka gila kali aku!" kataku sambil tersenyum.


"Ya, siapa tahu? Terus, gimana tuh kabar mantan suami kamu? Cuek aja atau merasa bebas?"


Andai Bahri tahu apa yang dilakukan oleh Mas Zaky beberapa hari ini. Mungkin ia akan tertawa dan meledek apa yang dilakukan mantan suamiku. Tidak. Aku masih mau menyembunyikannya. Jangan ada yang tahu mengenai masalah origami.


Sayangnya, orang yang sedang kami bicarakan tiba-tiba datang sambil tersenyum. "Pagi!"

__ADS_1


****


__ADS_2