Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Sebuah Iklan


__ADS_3

Zaky


"Secepatnya!" kata Mommy dengan tegas.


"Oke, siap. Mommy nanti bantuin bujuk Abi ya. Mommy tuh kuncennya Abi. Mommy pasti bisa meluluhkan Abi," kataku penuh harap.


"Ih enggak janji ya! Udah ah, Mommy mau bobo. Mommy sih bobonya sama Abi, memangnya kalian yang bobonya terpisah jarak? Makanya berumah tangga yang bener. Bisa bobo bareng itu nikmat mana yang Mommy dustakan? Udah ah, bye!" Sehabis pamer Mommy pergi meninggalkanku dan Baby.


"Ih aku iri, Mas," ujar Baby.


"Iya. Mas juga iri," kataku.


"Kapan ya kita bisa kayak Mommy dan Abi?" tanya Baby.


"Secepatnya," janjiku.


"Bener ya?"


"Iya, Sayang. Sudah ayo bobo. Aku bacain cerita ya buat kamu." Kurebahkan tubuhku di atas kasur dan mulai membacakan cerita untuk Baby.


"Cerita ini tentang Putri Salju-" Belum selesai aku bicara Baby sudah memotongnya.


"Udah tau ceritanya. Putrinya makan apel lalu tertidur dan dijaga 7 kurcaci bukan? Aku sampai bosan diceritakan itu terus sama Abi!" protes Baby.


"Oke. Aku ganti. Cinderella."


"Ini tuh udah hafal banget, Mas. Sudah nonton filmnya juga. Banyak juga sinetron Indonesia yang terinspirasi dari cerita ini."


Aku menghela nafas dalam. Cerita apa lagi ya?


"Pangeran Katak?"


"Udah juga. Nanti dicium lalu kataknya berubah jadi pangeran tampan bukan? Ih aku mah ogah nyium katak, berlendir, geli, iiih!"


"Yaudah cerita tentang Tukang Gemblong aja mau?" tanyaku dengan kesal.


"Tukang Gemblong? Aku belum pernah dengar tuh. Dia aslinya pangeran terus nyamar jadi tukang gemblong gitu?" tanya Baby dengan polosnya.


"Kayak enggak ada kerjaan aja tuh pangeran pake nyamar jadi tukang gemblong segala. Tugas dan kewajiban pangeran tuh banyak. Memimpin negaranya, bukan jualan gemblong," kataku sambil menahan kekesalan.


"Pasti itu ceritanya ngarang deh!" tebak Baby.

__ADS_1


"Memang."


"Enggak mau kalau ngarang!" tolak Baby.


"Oke. Aku punya cerita yang bagus dan banyak ilmu di dalamnya. Di adaptasi dari kisah nyata, mau?" tanyaku.


"Mau," jawab Baby cepat.


"Judulnya Warna Warni Dunia Sri. Menceritakan tentang Sri yang menderita buta warna dan harus melepas impiannya untuk menjadi dokter. Penderitaan Sri tak sampai di sana. Sri kehilangan Ayahnya dan jatuh miskin. Semula tinggal di rumah besar dan di antar jemput mobil mewah, kini harus tinggal di rumah kontrakkan kecil. Bukan itu saja, Ibu Sri harus kerja di Jakarta sementara Sri berjuang membayar SPP sekolah sendiri dengan bekerja menjadi tukang cuci piring di restoran Padang."


"Wah ceritanya bagus, Mas. Lalu gimana selanjutnya?" tanya Baby penasaran.


"Kamu baca sendiri saja. Lihat di IG Mizzly. Udah ya aku mau tidur. Jangan dimatiin kameranya! Aku enggak mau bangun tidur tidak melihat wajah kamu!"


"Iya, Mas. Met bobo, Mas!"


"Met bobo, Cinta!"


****


Aku masih di Medan selama 2 hari lagi. Sebelum pulang aku sempatkan membeli oleh-oleh pesanan Mama. Aku beli agak banyak karena rencananya aku mau memberikan sendiri ke rumah Baby.


Aku sampai di Bandara Soekarno Hatta sekitar jam 2 siang. Baby datang menjemputku. Wajah cantik dan polosnya tersenyum senang melihat kepulanganku.


"Ah, Babyku sayang!" Aku rengkuh wajahnya dan kucium kening, pipi, hidung dan bibirnya di depan umum. Aku tak peduli banyak pasang mata yang memperhatikan kami.


"Mas, malu ih!" protes Baby.


"Biarin. Mas tidak peduli." Kupeluk Baby dengan semua rasa rindu yang selama ini kusimpan.


"Kita mau pulang jam berapa nih kalau pelukannya saja lama sekali?" sindir Baby.


"Oh iya. Sampai lupa waktu kalau sama kamu. Ayo kita staycation dulu." Aku menggandeng tangan Baby dan sebelah tanganku mendorong koper milikku.


"Staycation? Kita tidak langsung pulang?" tanya Baby agak bingung.


"Enggak dong. Kalau langsung pulang, kamu pasti susah diajak staycation lagi. Mana kunci mobil kamu?"


Baby memberikan kunci mobilnya padaku. Kumasukkan koperku ke bagasi mobil lalu kulajukan mobil Baby ke salah satu hotel bintang 5 terdekat. Saatnya ganti oli.


"Beneran nih mau staycation?" tanya Baby lagi.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu enggak mau?" tanyaku balik sebelum membelokkan mobilku ke dalam area hotel.


"Bukan begitu."


"Atau kamu lagi datang bulan?" tanyaku lagi.


"Belum datang bulan malah."


"Yaudah, enggak ada masalah toh? Ayo kita cari pahala. Aku kangen dengan semua lekuk tubuh seksi kamu. Memangnya kamu tidak kangen setiap hari melihat aku wara wiri tanpa busana? Enggak kepengen megang gitu?"


"Ih apaan sih, Mas? Aku malu ah ditanya begitu!" protes Baby.


"Yaudah jangan dijawab, dijalani saja, oke?" Dengan penuh keyakinan kubelokkan mobil Baby ke parkiran mobil hotel bintang 5 tempat aku biasa meeting.


Aku langsung memesan sebuah kamar dengan view yang paling bagus. Memanjakan istri tak boleh tanggung-tanggung.


Sesampainya di dalam kamar, aku langsung menarik Baby ke kamar mandi. "Kita mandi bareng dulu. Lalu lanjut yang lain."


"Aku yakin bukan hanya sekedar mandi," sindir Baby.


"Yup. Anda benar sekali cintaku. Akan ada kegiatan mengasyikkan, menggairahkan, melenakkan dan yang pasti membuat kamu kecanduan. Anda sudah siap Tuan Putri?" Kuulurkan tanganku dan berpose layaknya pangeran ingin mengajak sang putri berdansa, meski sebenarnya aku tidak berdansa melainkan bercocok tanam.


Kubuka satu persatu baju yang Baby kenakan lalu melemparnya ke sembarang arah. Kuajak Baby masuk ke dalam kamar mandi. Kunyalakan shower dan mulai mencium Baby di bawah air shower. Tak puas hanya di kamar mandi, kamu melakukannya di kasur dan ditutup dengan mandi bersama lagi. Tiga kali. Rasanya masih belum cukup menutup kerinduan yang selama ini kupendam.


Kami masih berlama-lama berbaring di atas kasur seraya menikmati makan malam yang kupesan dari layanan room service. Baby duduk tegak sambil menyuapiku karena sejak tadi kedua tanganku sibuk memeluknya.


"Malam ini aku akan bertemu Abi kamu," kataku dengan yakin.


"Malam ini? Jam berapa? Ini sudah malam loh. Besok pagi saja. Kamu cuma bangunin singa tidur kalau bertamu malam-malam untuk minta restu. Besok pagi saja!" tolak Baby.


"Baiklah. Sesuai keinginan kamu saja. Baby, bagaimana kalau malam ini kita bermalam di hotel ini saja. Aku mau semalaman memeluk kamu," kataku dengan nada manja.


"Kalau Abi tau, bukan hanya bangunin singa tapi Mas sedang mencabut kumis singa. Bisa dimakan Mas hidup-hidup!"


"Huft ... kenapa Abi kamu susah sekali ditaklukan sih? Begini salah, begitu salah. Aku enggak sabaran nih!" rengekku.


"Sudah, Mas. Banyak berdoa. Jangan tegang. Insya Allah jika kita yakin dan niat kita baik, Allah pasti akan merestui. Ayo kita pulang. Nanti malam agar tidak tegang, Mas baca Warna Warni Dunia Sri saja karangan Mizzly. Aku juga mau lanjut baca. Seru soalnya."


"Siap, Baby!"


****

__ADS_1


__ADS_2