
Zaky
Sejak tadi aku terus mengoceh di samping Baby. Aku tahu walaupun ia pura-pura acuh tapi dia mendengarkan apa yang aku katakan. Ia asyik memakan bakso aci sampai habis satu porsi. Ternyata, melihat Baby menyukai jajanan seperti ini membuat aku senang. Wajahnya telihat bahagia meski hanya dengan hal yang sederhana.
Aku baru menyadari kalau Baby itu berbeda dibanding wanita lain. Biasanya, perempuan itu paling suka dengan benda-benda mahal, ternyata Baby berbeda. Bahkan, tas mahal yang aku berikan untuknya tak ada satupun yang ia bawa.
Aku kini mengikuti Baby yang sedang menggendong Vino, berjalan-jalan seraya memilih makanan yang akan ia coba. Aku jadi berpikir kalau kami memiliki anak, mungkin akan lebih bahagia lagi. Aku jadi malu membayangkannya. Dulu, aku sama sekali tak mau menyentuh Baby, tapi sekarang yang aku inginkan adalah memeluknya dan mungkin menciumnya. Entahlah, sejak kapan aku jadi seaneh ini. Mungkin Mama benar, aku sudah tidak menganggap Baby sebagai adik lagi, melainkan wanita dewasa yang menarik perhatian banyak pria.
"Vino mau apa?" tanya Baby dengan sabar. "Roti bakar mau? Atau mau sosis bakar?"
Lihat saja betapa lembut dan sabarnya Baby menanyai keponakannya? Kalau Baby jadi seorang ibu, pasti akan lebih sabar lagi. Aku goda ah.
"Daddy maunya peluk Mommy Baby, boleh?" godaku membuat Baby terlonjak kaget.
"Butan (bukan) Daddy!"
Plak ... Vino memukul wajahku dengan kencang.
Aww ... rasa kaget bercampur jadi satu dengan rasa malu. Sakit sih enggak, malunya itu enggak nahan. Ini anak benar-benar jelmaan bapaknya. Main pukul orang aja seenaknya!
"Eh Vino, enggak boleh mukul orang sembarangan ya! Dosa! Tante Baby bilang sama Daddy mau?" omel Baby.
"Nda mau!" Vino menggelengkan kepalanya.
"Kalau gitu, Vino minta maaf ya!" Nasehat Baby dengan tegas.
Vino pun menurut. "Ino minta maaf," kata Vino sambil salim.
"Iya, Sayang!" jawabku seraya memberikan tanganku untuk Vino salim. "Tante Baby perhatian banget ya sama Om Zaky. Enggak mau Om Zaky terluka. Om juga enggak mau Tante Baby terluka." Kesempatan ini aku pakai untuk menggoda Baby.
"Jangan mau, Vino! Kalau Om rese kayak begini mah pukulnya yang kenceng!" Suara pedas itu datang dari arah belakang. Pasti mau gangguin aku sama Baby deh. Enggak boleh banget melihat orang senang!
__ADS_1
"Daddy!" Vino membuka tangannya lebar dan pindah dari gendongan Carmen ke Wira.
"Baby, kamu digodain? Bilang sama Abang, biar Abang kasih bogem lagi dia!" ketus Wira.
"Siapa yang gangguin? Orang aku dan Baby lagi belajar jadi orang tua ya, Baby?" tanyaku pada Baby meski aku tahu tak akan ada jawaban untukku.
"Yah dicuekkin! Kasihan deh lo! Sekarang aja lo bilang mau belajar jadi orang tua, dulu waktu nikah cuek bebek malah mau ngejar bini gue! Enggak malu lo sama jakun? Kayak bocah banget kerjaannya ngejar cewek yang bukan bini lo lagi!" ketus Wira.
"Justru ini lagi ngejar mantan istri biar jadi istri lagi. Lo mau gue ngejar bini lo lagi?" balasku tak mau kalah.
"Yeh berani lo? Baby, pegang Vino! Biar Abang kasih pelajaran nih orang!" Wira sudah mau memberikan Vino pada Baby, tapi Baby menolak.
"Enggak ah, kalo aku pegang Vino, nanti Abang berantem. Aku mau hunting makanan dulu. Lanjutin aja berantem Abang!" Baby lalu berjalan meninggalkanku dan Wira yang tak jadi adu jotos.
"Lo jaga aja anak lo! Gue mau ngejar janda depan rumah!" Setelah meledek Wira, aku kembali mengikuti Baby.
"Awas aja lo nyakitin Baby! Gue bilangin Abi baru tau rasa!" Wira masih mengomel di belakangku namun tidak kupedulikan.
Penjual telor gulung langsung melihat wajah Baby, sama dengan yang ada di kaos yang dikenakannya. "Eh ada Non Carmen. Mau berapa, Non?"
"Tak apa, Pak. Saya mengantri saja!" tolak Carmen.
"Jangan, Non. Sudah pesanan Bapak Boss kalau Non Carmen yang pesan harus didahulukan. Nanti saya tidak dapat bonus!" jawab penjual telor gulung.
Aku mengacungkan jempolku memuji kecekatannya. Baby malah menghela nafas dan menyerah. "Aku mau 5 aja, Pak. Pakai saus dan bumbu jagung bakar ya!"
"Siap, Non! Silahkan duduk dulu, Non!" Baby lalu diberikan kursi bakso dan duduk. Aku kembali duduk di samping Baby.
"Gimana? Kamu suka? Mau aku panggilkan lebih banyak lagi tukang makanan ke sini?" tanyaku.
Baby tak menjawab. Ia asyik melihat banyak tukang makanan yang ramai diserbu penghuni komplek. "Kamu mau apalagi habis ini? Mau coba es pisang ijo enggak?" tanyaku meski tahu tak akan Baby jawab.
__ADS_1
"Baby, kita jalan-jalan yuk! Kita liburan berdua. Kalau ke Bromo mau? Atau ke Raja Ampat? Nanti kita snorkling di sana. Katanya, indah banget loh. Kamu mau enggak? Kita cuti terus pergi berdua," kataku penuh semangat sampai tak menyadari ada yang mendengar perkatanku.
"Mau ngapain kalian liburan berdua? Mau honeymoon ya? Eh kalian bukannya sudah bercerai ya? Memang boleh liburan berdua?" tanya Om Sony panjang lebar.
"Memang enggak takut sama Agas? Wuih, kalau anaknya yang janda kembang diajak jalan sampai nginep wah ... bisa-bisa yang ngajak dipenggal duluan kepalanya!" tambah Om Riko.
"Eh ... Om." Aku lalu salim pada kedua sahabat Papa. Mereka suka bercanda, tidak semenyeramkan Abi Agas.
"Dalam rangka apaan nih lo buat kayak begini, Zak? Mau pedekate sama Baby?" tanya Om Sony.
"Iyalah mau pendekatan. Pake nanya lagi lo!" celetuk Om Riko.
"Untuk memastikan aja. Aneh aja sih pendekatan pake manggil tukang jajan segala," kata Om Sony.
"Memang seharusnya manggil apa, Om?" tanyaku serius. Siapa tahu mereka bisa membantuku.
"Kelamaan tau pakai cara kayak begini," tambah Om Riko.
"Iya, meski gimana Om?" tanyaku lagi.
"Langsung aja buntingin Baby. Beres. Ajak ke hotel, begituan kalau enggak jadi besoknya begituan lagi sampai bunting, beres. Langsung deh lo dinikahin sama Agas, tapi dibogem mentah dulu kayaknya ha ... ha ... ha ...." Om Riko puas sekali mengejekku.
"Aku pergi ke tempat lain aja ah, Om ngomongnya begitu. Aku bilangin Abi loh!" Carmen mengambil telor gulung miliknya dan pergi ke tempat lain.
"Jangan cara frontal kayak gitu, Om!" kataku setelah Baby pergi. "Cara halus gitu!"
"Cara halus? Bisa. Lo kasih aja minumannya pake obat perangsang terus kalian begituan deh di hotel. Besoknya kasih obat lagi dan begituan lagi sampai bunting, nanti dinikahin deh sama Agas ha ... ha ... ha ...." Om Riko kembali menertawakanku.
Huft ... Bodoh sekali aku percaya dengan kedua om di depanku. Mereka saja jomblo, bagaimana bisa dipercaya coba?
"Eh, tapi ada satu cara deh selain bikin bunting. Mau tau enggak?" tanya Om Riko, membuatku semakin penasaran saja.
__ADS_1
*****