
Carmen
Makanan yang Mas Zaky pesan akhirnya datang. Banyak sekali pesanannya padahal kami hanya makan berdua. "Ayo kita makan, Baby!"
"Ini enggak salah, Mas? Banyak banget makanannya!" protesku.
"Enggak salah kok, Sayang. Memang sengaja. Aku lapar sekali. Sejak kita pisah, aku kurang selera makan. Namun sejak kita rujuk lagi, aku bawaannya mau makan terus. Apalagi keinginan memakan kamu, makin mau lagi dan lagi." Mas Zaky menyuapiku dengan sushi yang ia pesan. Rasanya memang lebih enak. Segar dan tak bau amis.
"Enak?" tanya Mas Zaky.
"Enak," jawabku jujur.
"Enakkan mana sama jajanan SD?" tanya Mas Zaky lagi.
"Jelas makanan SD dong! Jangan bandingkan makanan sehat dengan jajanan SD yang kaya akan mecin. Rasa pasti lebih enak jajanan SD. Kalau dari segi kesehatan pasti lebih enak sushi ini," jawabku.
Mas Zaky tersenyum mendengar jawabanku. "Bisa aja. Ayo makan, kamu punya tugas habis selesai makan."
"Tugas? Tugas apa?" tanyaku. Tak mungkin Mas Zaky memintaku berhubungan suami istri di tempat ini bukan? Kalau ada CCTV atau karyawan restoran yang masuk bagaimana?
"Nanti juga kamu tau. Ayo habiskan!" Mas Zaky menikmati sekali makanan yang dipesannya. Aku jadi terbawa suasana dan ikut memakan dengan lahap.
"Masalah surat-surat kita, sudah ada pengacaraku yang mengurus semua. Masalah Abi kamu, kasih aku waktu ya. Aku mau mendekati Wira dulu. Anak itu seperti anak anjing yang kalau didekati suka menggigit. Kalau dia sudah kudekati, setidaknya saat aku menghadapi Abi nanti tak ada yang menggigitku dan membuat Abi kamu makin emosi," kata Mas Zaky.
"Enak aja Abang aku dibilang anak anjing. Dia tidak semenggemaskan itu loh!" Aku menyudahi makan siangku dengan perut yang kenyang dan puas. Mas Zaky malah sudah selesai sejak tadi.
Mas Zaky berdiri lalu berjalan dan duduk di sampingku. Wah mau apa dia?
"Mau ngapain, Mas? Jangan gila ya! Ini tempat umum." protesku sebelum Mas Zaky berbuat makin gila.
"Gila? Memangnya aku mau ngapain?" tanya Mas Zaky sambil tersenyum penuh maksud.
Mas Zaky mendekat dan langsung menciumku. "Mmm, Mas!" protesku.
"Cuma cium aja, aku janji!" kata Mas Zaky sungguh-sungguh. Aku pun pasrah dan membiarkan Mas Zaky menciumku dengan syarat tangannya jangan bergerilya kemana-mana.
"Mau lebih sebenarnya, kapan ya?" tanya Mas Zaky setelah melepas pagutannya.
"Entah." Kuambil tisu dan mengelap bibir Mas Zaky yang merah terkena lipstikku.
__ADS_1
"Pulang yuk! Di rumah aja. Aman." rengek Mas Zaky.
"Kemarin 'kan udah," jawabku seraya merapikan rambut Mas Zaky.
"Masih mau peluk kamu." Mas Zaky kini merebahkan tubuhnya dan menggunakan pahaku sebagai bantalnya.
"Habis makan jangan langsung tiduran!" tegurku.
"Berarti kalau habis makan terus main begituan boleh dong?" goda Mas Zaky sambil tersenyum jahil.
"Nakal!" Kucubit hidung mancung Mas Zaky dengan gemas. Mas Zaky tertawa tanpa dosa. Tak tahukah ia betapa aku khawatir dengan nasib kami kelak.
"Besok aku ada meeting, tak bisa makan siang sama kamu. Malam juga ada pertemuan bisnis. Aku mau ajak kamu, tapi Wira kayaknya juga bakalan hadir. Menurut info yang kudengar, Abang kamu akan memenangkan kategori Pebisnis Inovatif. Kita tidak bertemu seharian deh," kata Mas Zaky dengan sedih.
"Oh ya? Aku memang dengar sih katanya besok Abang mau datang ke pertemuan pebisnis gitu, aku diajak."
"Ikut aja!" sambar Mas Zaky cepat.
"Ikut? Untuk apa?" tanyaku.
"Pokoknya ikut aja, oke?"
"Jangan pakai gaun yang terbuka, apalagi di bagian depannya," ujar Mas Zaky.
"Memangnya kenapa?" tanyaku heran.
"Kamu lupa masih ada jejak yang aku tinggalkan? Atau sudah hilang? Coba aku lihat." Mas Zaky langsung duduk dan hendak membuka kancing kemejaku.
"Ih Mas Zaky mau ngapain sih? Tiba-tiba mau buka kancing aku segala!" Aku berusaha menutupi kemejaku dari Mas Zaky.
"Lihat dikit doang!"
"Enggak, pasti enggak bakalan dikit deh! Enggak mau! Aku nanti lihat sendiri saja!" tolakku seraya menjauhkan wajah Mas Zaky yang bak ikan kelaparan dan hendak memakanku.
"Ih pelit!" Mas Zaky pasrah dan kembali tiduran di pangkuanku.
"Mas Zaky sih suka aneh. Malu tau tiba-tiba main ngintip aja!" omelku. Kuambil buah potong dan menyuapinya. "Lebih baik makan buah biar segar dan pikirannya jernih!"
"Kalau mau jernih tuh disalurkan, bukan dilarang!" ketus Mas Zaky.
__ADS_1
"Kemarin udah," jawabku.
"Kemarin beda sama sekarang. Maunya sekarang. Baby, gimana kalau nanti malam aku manjat ke kamar kamu?" tanya Mas Zaky.
"Enggak boleh! Jangan gila ya!"
Mas Zaky kembali memanyunkan bibirnya. "Yaudah kalau enggak boleh. Besok datang ya. Pakai dress jangan yang terlalu ketat, nanti susah."
"Susah? Susah jalan?" tanyaku.
"I-iya. Susah jalan. Ayo suapi lagi!" Kembali aku suapi buah untuk Mas Zaky. Jam satu siang kami kembali ke cafe. Mas Zaky menurunkanku di tempat ia menjemputku. Aku diperbolehkan keluar setelah menciumnya dahulu. Benar-benar ya lelaki bucin ini!
****
"Baby, kamu malam ini ikut aku 'kan?" tanya Abang Wira keesokan harinya saat ikut sarapan bersama. Kak Dewi sedang membawa Vino menginap di rumah orang tuanya, Abang memilih sarapan di rumah Mommy dibanding sendirian di rumah.
"Sebenarnya males sih," jawabku pura-pura acuh.
"Di sana banyak pengusaha hebat. Kamu bisa dapat jodoh nanti!" kata Abang dengan penuh semangat.
"Iya. Kamu ikut saja, Baby. Siapa tahu kamu akan bertemu jodoh pengusaha sukses?" dukung Abi.
Aku sekarang tahu kenapa Abi dan Abang mau aku ikut. Mereka pasti mau aku mencari jodoh di sana. Tak tahu saja mereka kalau aku sudah rujuk kembali dengan Mas Zaky. Kira-kira Mas Zaky punya rencana apa ya?
"Abi yakin aku boleh ikut? Kalau aku pulang malam bagaimana?" sindirku.
"Khusus malam ini, jam malam kamu Abi longgarkan. Ingat ya, harus bisa jaga diri! Maksud Abi itu, kamu bisa berteman dengan pengusaha muda lain. Mungkin kalian punya rencana lain seperti nongkrong di Singapura gitu? Namanya pengusaha muda tuh suka ada-ada saja idenya. Cari teman wanita di sana juga. Perluas pertemanan kamu. Jangan kerja terus," kata Abi.
Aku diam sejenak, berpura-pura memikirkan tawaran Abi dan Abang padahal jawabanku sudah jelas. "Baiklah. Aku ikut," kataku.
"Nah gitu dong! Nanti Abang jemput ya!" Abang nampak senang melihatku ikut ajakkannya.
"Iya, Bang. Aku berangkat kerja dulu ya!" Aku pamit pada Abi, Mommy dan Abang lalu berangkat kerja.
Seperti jodoh, Mas Zaky kebetulan keluar dari rumahnya saat aku mengeluarkan mobil. Sambil lirik kanan kiri, Mas Zaky masuk ke dalam mobilku dan memintaku langsung tancap gas.
"Cepat jalan, Baby! Jangan ada yang lihat!" perintah Mas Zaky.
Kujalankan mobilku dengan jantung yang berdegup kencang. Lelaki bucin ini selalu saja buatku deg-degan!
__ADS_1
****