
Zaky
"Wah muka kenapa tuh?" goda Om Riko.
"Biasa, Abi punya kuasa," jawab Wira.
"Wuidih, main gaplok aja anak orang!" sindir Om Sony. "Enggak pernah berubah tuh orang."
"Kayak enggak tau aja Abi gimana, Om. Om sehat?" tanya Wira sambil tersenyum ramah. Jangan lupakan Om Sony dan Om Riko adalah guru Wira sebelum mengenal kelamnya dunia malam.
"Sehat dong. Sombong banget Si Bangor mentang-mentang sibuk bisnis kita dilupain!" sindir Om Riko.
"Lupa apa sih, Om? Enggaklah. Mau makan steik? Aku traktir nanti!" tawar Wira.
"Boleh. Lo traktir steak dan Si Culun traktir kita susu," jawab Om Sony.
"Susu gantung," kata Om Sony dan Om Riko kompak.
Aku dan Wira tertawa dengan ulah kedua Om yang tak pernah ingat umur ini. "Gampang itu. Bantuin lagi dong, Om. Aku kayaknya enggak bakalan boleh masuk. Aku mau ketemu Baby," pintaku.
"Udah ikutin ajaran kita berdua belum?" tanya Om Sony.
"Udah," jawabku mantap.
"Ajaran apaan?" tanya Wira bingung.
"Ajaran agar Baby balik lagi," jawab Om Riko.
"Udah hamil, Baby?" tanya Om Sony lagi.
"Udah, Om. Alhamdulillah," jawabku dengan bangga.
__ADS_1
"Wuidih, mantep banget lo! Keliatan aja culun, senjatanya mah tetep aja tajam ha ... ha ... ha ...." Om Riko dan Om Sony kompak tertawa. Membuat Wira terlihat bingung.
"Eh Culun, lo minta ajarin sama dua om sesat ini ya?" tebak Wira. "Pantes aja lo lebih cepet buntingin adek gue dibanding gue buntingin bini gue sendiri!"
"Lo aja tuh kebanyakan diasah senjatanya, Bangor. Jadi enggak ada kekuatannya. Angin doang. Kalau Si Culun 'kan disimpen aja tuh senjata, makanya sekali nembak langsung deh tuh tepat sasaran!" kata Om Sony tanpa pikir panjang.
"Ah curang! Pantesan aja Baby luluh, lo tembak terus. Pantes deh lo dapet bogem dari Abi," cibir Wira yang merasa kalah saing dibandingku.
"Eits jangan begitu. Biar bagaimanapun Si Culun itu adik ipar lo. Perlakukan yang baik. Ingat, Baby cintanya sama Si Culun. Bukan cuma karena sering ditembak di dalam sama Si Culun, namun dia pintar mengambil hati Baby. Dia laporan kok kalau ngirimin bunga, hadiah, ngajak makan dan sebagainya. Niat Si Culun ini tulus sama Baby. Lo restui lah. Jangan lo jadiin dia samsak terus. Sekali menjentikkan jari, bisa bangkrut bisnis lo sama dia!" nasehat Om Riko.
"Iya, Om. Buktinya gue enggak mempersulit dia. Gue cuma enggak mau ikutan aja kalau berhubungan sama Abi. Serem. Liat aja sana muka Abi. Kayak singa lagi ketusuk paku. Jangan asal ngomong, bisa kena bogem mentah nanti!" ujar Wira.
"Iya, tenang aja. Ayo kita masuk bareng!" ajak Om Sony.
"Tapi, Om-"
"Udah, tenang aja. Lo diem aja. Nanti kita bantuin!" janji Om Riko. "Sebentar lagi Bastian datang. Lagi di parkiran dia. Ayo masuk!"
Aku masuk terakhir sambil menunduk. Tak berani kalau sampai bertatapan mata dengan Abi. Aku melirik sekilas dan melihat Mama dan Papa sedang duduk di samping tempat tidur Baby. Mama memegang erat tangan Baby yang diinfus seraya mengajaknya bicara.
"Ngapain dia masuk?" tanya Abi dengan suara berat. Dia yang dimaksud pasti aku. Aku diam saja sesuai petunjuk Om Riko. Kalau menjawab situasi bisa kembali panas.
"Gue yang ajak. Kasihan mau lihat istri sama anaknya," jawab Om Riko.
"Enggak usah lo bela deh dia, ngajak rujuk anak orang seenaknya!" sindir Abi.
Om Sony lalu duduk di samping Abi, sementara Om Riko memberi kode agar aku mendekati Baby.
Aku melihat tatapan Baby yang begitu membutuhkanku. Baby juga menatapku penuh khawatir. Pasti karena mukaku yang banyak bekas luka. Papa memberikan kursinya untuk aku duduk. Aku duduk dan Papa menutupiku sementara Om Sony dan Om Riko mengajak Abi bicara.
"Mana yang sakit, Baby? Wajah kamu pucat sekali," tanyaku dengan penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Aku enggak apa-apa, Mas. Ya Allah wajah Mas jadi babak belur begini. Pasti sakit ya Mas?" Baby menyentuh pipiku yang bengkak. Kutahan rasa sakit yang kurasa dan kusembunyikan di balik senyuman.
"Mas tidak apa-apa kok. Anak kita bagaimana? Sehat? Dokter sudah datang belum?" tanyaku dengan semangat. Lupa kalau aku masih jadi pusat perhatian singa yang tertusuk paku di sofa sana.
"Anak kita? Enak banget nyebut anak kita! Enggak bakal gue restuin!" sindir Abi dengan tegas.
Om Riko dan Om Sony kembali menenangkan. Aku menurunkan suaraku agar percakapan kami tak lagi di dengar oleh Abi. "Aku tak apa, kok."
"Dokter bilang baik-baik saja. Aku disuruh jangan stress dan banyak makan makanan bergizi. Aku juga tidak boleh kecapekan," jawab Baby dengan bibir mungilnya yang terlihat lemah.
"Kasihan. Kamu mau makan apa? Aku akan belikan. Kamu harus banyak istirahat. Kalau perlu jangan turun dari tempat tidur jika bukan karena mau ke toilet," kataku.
"Kalian ini kenapa sih bujuk gue buat terima dia?" Abi kembali emosi dan menunjuk ke arahku.
"Sabar dulu, Gas. Sabar. Kayak enggak pernah muda aja," ujar Om Riko.
"Gue pernah muda, tapi gue enggak bawa kabur anak orang begitu aja!" jawab Abi dengan emosi.
"Lah dia lupa? Bukannya lo dulu bawa kabur Tari dari Bapak tirinya? Lo mah sama aja tau. Malah Si Culun, maksudnya Zaky, dia masih mengembalikan Baby ke rumah lo dengan selamat padahal dia berhak membawa Baby kemanapun karena dia suaminya. Ya, cuma dibuat bunting doang sih," kata Om Riko tanpa kenal takut.
"Jangan samain gue sama dia! Awas aja kalau dia berani bawa kabur Baby!" ancam Abi Agas.
"Makanya lo tenang dulu. Lo enggak mau 'kan Baby pergi? Lo berpikir dewasa dulu. Jangan mengutamakan ego aja. Lo cukup mendoakan dan melihat rumah tangga anak lo dari jauh. Kalau mereka bahagia, lo doain semoga kebahagiaan selalu melingkupi rumah tangga mereka. Kalau mereka sedih, lo tanya apa kesedihan mereka. Jangan lo cuma tau buat keputusan tapi enggak tau apakah keputusan lo baik atau enggak." nasehat Om Riko.
Abi terdiam dan kini menatapku dengan tajam lalu berbicara kembali pada Om Riko. "Sayangnya, kalau sama dia gue enggak percaya!"
Ya Allah ....
Segitu susahnya mendapatkan restu Abi. Om Riko dan Om Sony sudah turun tangan namun belum berhasil juga. Aku harus bagaimana lagi? Lalu datanglah penyelamatku yang lain.
"Assalamualaikum!"
__ADS_1
****