
Carmen
Aku turun dari mobil Abang Wira dengan kesal. Abang diam saja tidak berkomentar apa-apa sejak perkataanku tentang Mas Djiwa. Aku pikir akan luluh eh ternyata sama saja. Dasar Abang keras kepala!
Aku menutup pintu mobil Abang dengan kencang, membuat Abang protes karena takut mobil yang dibeli dengan hasil jerih payahnya rusak. "Pelan-pelan dong, Baby! Nanti rusak," protes Abang.
"Biarin. Suruh Abi ganti kalau rusak!" kataku dengan ketus.
Aku masuk ke dalam rumah namun sebelum membuka pintu pagar aku melihat mobil Mas Zaky memasuki garasi rumahnya. Abang yang belum pergi turun dari mobil dan menghampiri Mas Zaky. Apa yang akan mereka lakukan ya?
"Masuk saja, Baby! Abang tidak akan adu jotos kok!" teriak Abang padaku. Meski hatiku tak tenang, aku menurut. Aku masuk ke dalam daripada Abi keluar rumah dan malah runyam nantinya.
Abi dan Mommy sudah tertidur lelap. Aku bisa mendengar suara dengkuran Abi yang terdengar dari luar pintu kamarnya. Aku tersenyum kecil, mantan duda nackal yang keren saja tidurnya mendengkur. Kalau mereka tahu bagaimana? Oh ya ampun, aku harus mengintip dari atas nih. Aku takut Abang dan suamiku adu jotos. Cepat-cepat aku ke atas dan memperhatikan mereka berdua.
****
Zaky
"Sini lo!" panggil Wira dengan seenaknya padaku. Udah biasa sih aku diperlakukan begini, apalagi kalau Wira sedang marah padaku. No hard feeling.
"Kenapa?" tanyaku sambil berjalan mendekat.
"Kenapa sih lo nurut aja gue panggil? Kalo gue mau nonjok lo lagi gimana?" ketus Wira.
Aku tersenyum. Anak ini memang lucu, tadi manggil eh sekarang nasehatin. "Enggaklah. Kenapa juga lo harus nonjok gue? Ada apa?"
"Bener yang Baby bilang kalau istrinya Djiwa meninggal dibunuh sama ibu tirinya?" tanya Wira penasaran.
"Ya ... gitu deh. Djiwa waktu itu minta kenalan detektif sama gue. Dia cerita hasil penyelidikannya begitu. Ternyata Djiwa cerita juga sama Baby," jawabku.
__ADS_1
Wira kini diam dan menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku tersenyum kecil dan menggodanya. "Kenapa? Gue ganteng?"
"Dih najis! Gantengan gue lah!" Wira menyalakan rokok miliknya dan bersandar di pinggir mobil. Ia menyesap dalam-dalam rokok miliknya lalu mengepulkannya ke wajahku. Memang anak ini suka ngeselin. Pengen aku tampol namun aku ingat kalau dia abang iparku.
Aku melihat ke atas dan mataku melihat istriku menatap dengan khawatir. Ini membuatku menahan sabar. Semua demi Baby.
"Lo deketin Baby lagi? Kok dia luluh sama lo?" tanya Wira kemudian.
"Kenapa? Enggak boleh?" tanyaku balik.
"Enggaklah, pake nanya lagi," jawab Wira dengan ketus.
"Kenapa? Gue cinta sama Baby. Hanya Baby yang ada di hati gue," kataku sungguh-sungguh.
"Ah basi lo! Cinta? Dulu lo bilang cinta sama bini gue, lupa sama Baby bini lo sendiri. Sekarang aja lo nyebut cinta sama Baby. Telat cuy!" kata Wira lagi dengan ketus.
"Enggak ada yang telat dalam hidup ini, selama kita masih mau usaha. Mengenai Dewi, gue sekarang yakin kalau itu hanya obsesi semata. Buktinya saat Baby pergi, gue hanya ingin Baby. Gue kesepian tanpa Baby. Gue enggak mau kehilangan Baby. Gue cemburu saat lihat Baby sama Bahri, adik ipar lo. Gue enggak tau lagi apa tujuan hidup gue selain Baby,"
Aku menghela nafas dalam. Wira memang tidak menyerangku dengan tonjokkan, namun kata-kata pedasnya justru bertujuan untuk menjatuhkan mentalku dan membuatku menyerah mempertahankan rumah tanggaku. Aku tidak sebodoh itu. Aku tahu apa yang Wira mau dan tak akan kubiarkan itu terjadi.
"Mungkin terdengar puitis curahan hati gue. Percayalah, gue serius kali ini. Selama ini gue hanya bersaing dengan lo agar Papa bangga. Gue enggak benci lo, malah menganggap lo sebagai pecut agar gue sukses. Saat gue mencapai kesuksesan, gue sadar bukan itu yang gue mau. Gue kehilangan arah saat Baby pergi. Saat itu gue sadar kalau Baby adalah tujuan hidup gue. Kebodohan gue yang membuat gue seakan buta dan tak melihat apa yang selama ini gue inginkan sampai akhirnya Baby pergi," kataku serius.
"Telat," ketus Wira. Wajahnya tersenyum senang.
"Memang, karena itu aku selalu kalah dari kamu. Aku selalu telat," jawabku membuat senyum di wajah Wira menghilang.
"Tau ah. Jangan ngomongin Baby lagi. Bisnis kita gimana?" tanya Wira. Kini wajahku yang gantian tersenyum.
****
__ADS_1
"Zaky, besok kamu ke Medan sana. Urus perusahaan di sana. Papa dapat info katanya ada penyelewengan. Cari pelakunya dan selesaikan. Kalau bisa baik-baik ya lakukan, kalau tidak bisa ya jalur hukum," perintah Papa saat kami sedang sarapan.
"Hah? Ke Medan? Mendadak? Yaelah Pa, kenapa bukan tim audit aja sih?" tolakku.
"Papa tidak percaya. Bisa saja mereka disogok. Sudah, kamu saja!" perintah Oapa dengan tegas.
"Pa, aku lagi ada keperluan penting nih! Jangan aku deh!" tolakku lagi.
"Tidak bisa. Pokoknya Papa minta kamu! Sudah, Papa mau pergi duluan. Ada meeting pagi. Jangan lupa suruh sekretaris kamu pesan tiket. Jangan pulang kalau belum selesai masalah di sana!" Papa lalu menyelesaikan sarapannya dan berangkat kerja, menginggalkan aku yang menekuk wajahku dengan kesal.
"Ma, bujuk Papa dong! Aku ada urusan, Ma. Jangan aku!" rengekku saat Mama sudah masuk ke dalam rumah.
"Urusan apa? Kebanyakan urusan kamu mah. Jangan lupa belikan Mama, Bika Ambon dan Bolu Meranti keju ya. Beli agak banyakkan, Mama mau bagi Tari dan Oma kamu," pesan Mama.
Mama malah acuh dan tak mau membantuku. Ya ampun, bisa kena penyakit kangen sama Baby ini sih endingnya. Apa Baby aku ajak aja ya? Coba ah tanya Baby!
Aku cepat-cepat mengambil kunci mobilku dan memanaskan mesin mobil. Tak lama Baby keluar rumah, Baby berjalan ke mobilnya dan masuk ke dalam. Aku mengirim pesan ke Baby kalau aku mau bicara. Baby memintaku bertemu di cafe miliknya karena Baby sudah telat. Baiklah.
Aku ikuti mobil Baby dan kuparkirkan di cafe tempat kami rujuk waktu itu. Aku masuk ke dalam dan Baby menyuruhku ke ruangan kerjanya. "Ada apa, Mas?" tanya Baby yang hari ini terlihat segar dan cantik.
Aku mendekati Baby dan memeluknya. Kucium pipinya, membuat Baby tersenyum. "Kenapa sih?" Baby mengusap lenganku yang memeluknya dan takut terpisah.
"Aku akan ke Medan. Ikut yuk!" ajakku.
"Ke Medan? Kapan?" Baby terlihat terkejut.
"Sekarang dong, Baby. Papa memintaku ke Medan untuk mengurus masalah di sana. Ayo, kamu ikut!" rengekku bak anak kecil.
"Enggak bisa, Mas. Aku banyak kerjaan. Lain kali saja ya!" tolak Baby.
__ADS_1
"Lalu aku gimana? Aku bakalan kangen berat dong sama kamu? Aku enggak bisa tidur deh karena enggak bisa melihat kamu langsung dan memeluk kamu kayak begini. Please Baby, ikut ya!"
****