
Carmen
"Ya Allah, Mas! Bisa tidak sih kamu jangan bertindak sesuatu yang bikin jantung aku copot? Tiba-tiba masuk mobil aku. Untung saja aku langsung tancap gas, kalau ketahuan Abang dan Abi gimana?" omelku panjang lebar.
"Ih cantik banget sih Baby aku? Apalagi kalau lagi marah-marah begini. Kita bermesraan di jok belakang dulu yuk! Aku tahu tempat dimana kita bisa bermesraan di jok belakang tanpa ada yang lihat," kata Mas Zaky sambil tersenyum menggoda.
"Enggak lucu ya, Mas. Aku tuh deg-degan Mas kayak begitu terus. Bisa jantungan nanti aku kalau Mas terus gituin aku!" Kesal sekali aku dengan Mas Zaky.
"Maaf deh, Baby. Aku tadinya mau ngobrol sebentar, tapi aku lihat Wira mau keluar jadinya aku langsung masuk ke mobil kamu deh. Aku janji enggak akan kayak begitu lagi, aku enggak mau kamu jantungan." Mas Zaky terlihat menyesali perbuatannya, aku tak lagi marah padanya.
"Yaudah mau aku antar ke kantor mana nih?" tanyaku.
"Tak perlu. Ke cafe kemarin saja. Kita bermesraan dulu," jawab Mas Zaky.
"Mau aku turunin di sini saja?"
"Ih kamu marah-marah aja. Berhenti di depan sebentar deh!" perintah Mas Galih.
"Di depan? Itu rumah kosong, mau ngapain?" tanyaku bingung.
"Udah berhenti sebentar!"
Aku menurut apa yang Mas Zaky perintahkan. Kuberhentikan mobil di depan rumah kosong. "Mau ap-"
Belum selesai aku bicara, Mas Zaky menarikku dan mencium bibirku. "Aku kangen." Mas Zaky hanya bicara dua kata lalu kembali menciumku.
Lagi-lagi kami berbuat hal gila. Di depan rumah kosong kami malah berciuman. Setelah puas menciumku Mas Zaky melepaskan pagutannya dan mengecup keningku.
"Nanti malam jadi ikut tidak?" tanya Mas Zaky.
"Ikut. Abi dan Abang menyuruhku datang. Abi mendukung aku pergi, malah jam malamku dimundurin. Entah apa yang Abi pikirkan, aku tak tahu," jawabku jujur.
"Bagus. Kita lanjutkan nanti malam. Ingat, jangan pakai baju yang terbuka! Aku marah kalau kamu pakai baju terlalu terbuka!" ancam Mas Zaky.
"Iya, Mas. Sekarang Mas mau aku antar kemana?"
__ADS_1
"Ke hatimu."
"Mulai deh garingnya!" Kunyalakan lagi mesin mobil dan pergi ke kantor Mas Zaky. "Ke kantor di Sudirman, bukan?"
"Iya. Terserah kamu saja, Baby!" Mas Zaky terlihat sibuk dengan ponselnya. Aku tahu kalau Mas Zaky sedang sibuk dengan sesuatu maka tak akan bisa diganggu.
Aku kembali fokus mengemudi. Melewati kemacetan lalu lintas sementara Mas Zaky masih asyik dengan ponselnya. Jarak tempat kerjaku yang seharunya dekat malah jadi jauh dan memutar karena harus mengantar Mas Zaky dahulu ke kantor. Sesampainya di depan kantor, Mas Zaky mencium pipiku dan pamit.
"Jangan lupa nanti malam, oke?" Pesan Mas Zaky sebelum turun.
"Iya, Mas."
Aku mengemudikan kembali mobilku ke cafe. Siang hari, aku pergi ke salah satu butik dan mencoba beberapa gaun. Sesuai pesan Mas Zaky, aku memilih baju yang tidak terlalu terbuka di bagian dada. Aku memilih gaun model sabrina tangan panjang dengan panjang semata kaki namun ada belahan di sisi sebelah kiri. Wow, seksi sekali.
Hanya gaun ini yang menurutku paling nyaman di antara gaun lain yang terlalu terbuka. Semoga saja Mas Zaky tidak marah aku pakai baju seksi seperti ini.
Aku kembali ke salon dan meminta salah seorang karyawanku untuk mendandaniku. Bukan karyawan biasa yang aku suruh, ini karyawan andalan. Dia partnerku dalam bisnis salon. Aku mempercayakan riasan wajahku padanya. Aku yakin akan bagus hasilnya. Setelah dilulur, aku mandi spa dan kini siap di make up dengan tubuh yang sudah segar.
"Kamu ikut ke pesta, Baby?" tanya Kak Dewi yang baru saja datang bersama Vino. Kulirik jam di dinding, sudah jam setengah 6 sore. Rencananya jam setengah 7 malam, Abang akan datang.
"Wah bisa kenalan sama pengusaha muda lain dong?" ledek Kak Dewi.
Aku tersenyum kecil. Bisa diomeli habis-habisan aku kalau sampai kenalan sama cowok lain. Tidak tahu saja Kak Dewi kalau Mas Zaky sekarang super posesif.
"Kenapa kamu senyum-senyum begitu, Baby?" Rupanya Kak Dewi orangnya sangat teliti. Melihat perubahan ekspresiku saja dia sudah tau kalau ada sesuatu yang kusembunyikan.
"Enggak apa-apa kok, Kak," kataku berbohong.
"Pasti kamu senang ya mau ketemu Mas Zaky? Ayo ngaku?" ledek Kak Dewi lagi.
"Enggak, kok." Aku kembali berbohong.
"Ha ... ha ... ha ... beneran karena mau ketemu Mas Zaky ya?" goda Kak Dewi lagi.
"Bukan. Kak Dewi ngeledekkin aku aja nih!" Aku memanyunkan bibirku dan melihat Kak Dewi tertawa dari cermin. Kak Dewi kemudian turun ke bawah dan kembali ke atas setengah jam kemudian. Vino ia titipkan ke salah seorang karyawannya lalu duduk di sebelahku yang sedang di make up.
__ADS_1
"Ayo ngaku, Kak Dewi tau loh kalau kamu ada yang disembunyikan!" pancing Kak Dewi.
"Enggak ada, Kak."
"Makin curiga aku. Pokoknya kalau kamu mau cerita, cerita saja. Ingat, Kak Dewi akan selalu mendengarkan keluh kesah dan isi hati kamu. Kak Dewi bisa lihat wajah kamu tidak murung seperti biasa. Pasti ini tentang lelaki pujaan hati kamu ya? Siapa? Sudah ada yang baru?"
"Kak Dewi ih, kepo banget!"
"Iyalah. Kamu 'kan juga adik Kakak. Kakak harus perhatiin adik-adik Kakak. Apalagi adik Kakak yang paling cantik dan dimanja Abi ini!"
"Ah ... Kak Dewi so sweet banget. Aku pasti akan cerita sama Kak Dewi. Sayangnya aku harus siap-siap. Abang sebentar lagi jemput." kataku.
"Boleh kasih clue tidak sama Kakak, benar ini tentang pujaan hati?" tanya Kak Dewi yang makin penasaran.
"Hmm ... menurut Kak Dewi gimana?" godaku balik.
"Ih Baby bikin aku penasaran deh. Sudah cepat ganti baju sana! Awas ya kalau kamu tidak cerita sama Kakak!"
Aku mengangguk dan tersenyum pada kakak iparku yang baik itu. Setelah berganti baju, aku siap pergi ke pesta. Tentunya setelah sholat maghrib dahulu.
"Wow! Cantik sekali adikku ini! Lelaki bodoh mana yang tak akan berpaling melihat kecantikan kamu wahai Tuan Putri?" sambut Abang.
"Lebay! Abang jangan aneh-aneh deh. Biasa aja kali! Norak ah!" omelku.
"Abang serius, Dek. Abang yakin, malam ini kamu akan bertemu dengan jodoh kamu. Yakin sekali." Abang Wira lalu membukakan pintu untukku masuk.
"Kak Dewi enggak diajak, Bang?" tanyaku.
"Enggak usah. Dewi di rumah saja jagain Vino. Kalau Dewi ikut, nanti istri Abang banyak yang naksir. Enggak deh. Makin banyak saingan. Takut kayak mantan suami kamu, susah move on sama istri Abang," kata Abang Wira dengan sombongnya.
"Kata siapa susah move on? Itu sih cerita lama!" kataku pelan.
"Hah? Apa kamu bilang, Dek?"
****
__ADS_1