
Carmen
Abang Wira datang bersama keluarganya sambil tersenyum lebar. "Loh, Abang ada di Mall ini juga?" tanyaku sambil memasang muka lucu agar Vino yang digendong Kak Dewi tertawa.
"Iya. Abang tadi nanya sama Abi ada dimana. Soalnya Abang tadi lihat ada orang mirip Abi tapi hilang karena Vino minta ke toilet." Abang Wira salim dengan Abi dan Mommy, Kak Dewi juga demikian.
Mas Zaky berinisiatif memanggil pelayan dan minta meja kami ditambah lagi. "Sekalian bawakan baby chair juga ya!" pesan Mas Zaky. Perhatian sekali suamiku itu. Ia tahu pasti repot makan shabu-shabu dan memanggang daging dengan Vino yang tak bisa diam.
"Makasih ya, Culun!" kata Abang seenaknya.
Aku langsung menegur Abang yang suka mengatai suamiku seenaknya. "Abang ih, Mas Zaky sudah inisiatif loh memesan baby chair buat Vino, masih aja ngatain. Awas ya ngatain lagi!" ancamku.
"Ih marah. Iya, Abang enggak ngatain lagi deh!" Abang lalu duduk di samping Mommy dan Kak Dewi duduk di sampingku. Vino berada di tengah-tengah mereka agar mudah menjaganya.
"Abi jalan-jalan enggak ngajak aku ih. Aku 'kan juga mau ikut!" ujar Abang Wira.
"Enggak ah. Kamu jajannya banyak!" sindir Abi yang masih asyik memanggang daging dengan keju mozarella di atasnya. Nanti, saat Abi perhatiannya teralihkan, aku kasih Mas Zaky ah apa yang Abi panggang. Kelihatannya lezat sekali.
"Ah bilang aja Abi enggak ngajak supaya bisa minta traktiran sama Zaky 'kan?" tanya Abang terus terang.
Abi lalu mengambil sumpit dan memukul kepala Abang. Yes, kesempatan bagus. Aku ambil daging yang Abi panggang lalu menyuapi Mas Zaky. "Aa, Mas!"
Mas Zaky awalnya ragu namun akhirnya menurut padaku. Aku tersenyum puas. Abi lalu menyadari kalau daging yang ia panggang aku curi.
"Enak?" sindir Abi.
Mas Zaky mengunyah dengan susah payah dan menganggukkan kepalanya. "Enak, Bi."
__ADS_1
Abi memanyunkan bibirnya, aku tak tahan lagi. Aku tertawa puas melihat ekspresi Abi. "Yaelah, Abi. Makanya diliatin. Jangan lengah. Nanti aku ambil lagi loh!" ancamku.
"Iya, kerjaannya marah-marah melulu nih aki-aki!" celetuk Abang.
"Sudah ... sudah. Jangan ledekkin Abi kalian terus. Ayo makan! Dewi, ayo ambil, kamu mau makan apa?" tanya Mommy pada Kak Dewi yang diam saja sejak tadi.
"Iya, My. Aku suapin Vino dulu," tolak Kak Dewi.
"Nyuapin Vino sambil makan juga, Kak. Biar Abang bantuin. Jangan makan aja kerjaannya!" omelku. "Abang, bantuin Kak Dewi dong! Kasihan Kak Dewi mau makan juga!"
"Iya. Bawel banget ih Baby sejak hamil." gerutu Abang. Abang mengambil makanan Vino dan menyuapinya. "Sayang, kita gantian makannya ya!"
"Iya," jawab Kak Dewi.
Kami pun makan bersama sambil sesekali melihat ulah Vino yang menggemaskan. Mas Zaky yang semula banyak diam akhirnya ikut gabung dengan percakapan antara Abang dan Abi karena banyak yanh harus diluruskan. Bapak dan anak itu kalau ketemu bagai Tom and Jerry, ada saja yang diributkan. Untunglah Mas Zaky sebagai penengah. Kadang membela Abi, kadang membela Abang.
"Abi ih, mulai kumat deh nyari gratisan terus!" sindirku.
"Tak apa, Sayang. Bagaimana kalau bus sedang saja, Bi. Biar aku bisa ajak Mama, Papa, Om Bastian, Om Sony dan Om Riko? Pasti makin seru. Masalah biaya bukan masalah, selama kita semua senang aku rela kok membayar semua," jawab Mas Zaky.
"Boleh juga tuh idenya. Tuh Baby, dengar! Suami kamu saja setuju. Buat apa duit dia banyak-banyak ditumpuk nanti dimakan rayap? Lebih baik dipakai untuk menyenangkan orang lain!" ceramah balik Abi padaku.
"Iya, Baby. Biarin aja Si Cul- eh maksudnya Zaky yang modalin. Kamu tenang saja. Duit dia banyak. Jatah buat kamu tak akan dia kurangin kok!" sahut Abang.
Mas Zaky mengusap rambutku dan mengangguk sambil tersenyum. "Kamu tenang saja ya. Aku suka kok menghabiskan uang untuk melihat keluargaku bahagia. Tak masalah itu buatku. Santai saja ya. Jangan dipikirkan!"
Aku tak bisa membantah kalau Mas Zaky sudah berkata begitu. "Yaudah kalau itu mau Mas Zaky. Aku ikut saja."
__ADS_1
"Bi, bagaimana kalau kita liburannya saat Baby memasuki trimester kedua. Setelah acara empat bulanan. Kita ke Malang, Jogja atau Semarang gitu? Atau ketiganya?" usul Mas Zaky.
"Boleh tuh. Pasti seru satu bus ramai-ramai kita wisata bareng. Kalau bisa busnya yang bisa selonjoran kakinya. Maklum, yang kamu bawa itu kebanyakan udah bangkotan. Muka saja awet muda, namun umur sudah banyak. Sony dan Riko yang single saja cuma kelihatan muda, padahal mah suka reumatik juga," pinta Abi.
"Tenang, Bi. Nanti aku cari bus yang nyaman dan aku sewa untuk mengajak kita jalan-jalan. Kita rencanakan dulu saja mau kemana."
****
4 bulan kemudian
Usia kehamilanku sudah memasuki bulan kelima atau sekitar 20 minggu. Dokter mengatakan kalau aku sudah aman diajak jalan-jalan dengan syarat tak boleh terlalu lelah.
Abi dan Mas Zaky yang sudah merencanakan jalan-jalan ini sejak lama tentu saja semakin tak sabar. Setelah acara empat bulanan, Mas Zaky semakin sering ikut nongkrong di pos ronda bersama Abi dan teman-temannya. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk membicarakan tentang Acara jalan-jalan kami yang sudah tercetus idenya sejak beberapa bulan lalu.
Mas Zaky bertugas menyiapkan bus yang nyaman. Papa Damar dan Mama Tara bertugas menyediakan villa atau hotel untuk tempat kami istirahat. Mommy Tari dan Abi bertugas untuk cemilan saat berangkat, diperjalanan dan saat pulang. Cafe Mommy yang tersebar di beberapa daerah memudahkannya memesan makanan untuk kami semua.
Om Sony dan Om Riko tugasnya mencari obyek wisata yang akan kami kunjungi. Tentu saja sesuai permintaan Mas Zaky, harus yang bisa aku datangi. Tak boleh membuatku terlalu lelah seperti nanjak gunung atau off road. Tak bagus juga untuk mereka yang sering reumatik.
Abang Wira dan Kak Dewi kebagian tugas sebagai pengatur jadwal selama di sana. Kak Dewi yang disiplin akan mengatur kapan kami harus berangkat, istirahat dan jam bebas. Abang yang menegur jika ada yang lelet dan kesiangan.
Om Bastian bertugas mengarahkan rute pada supir. Mengajak supir mengobrol agar tidak ketiduran. Lengkap sekali rencana mereka bukan? Tidak sia-sia hampir tiap malam minggu mereka nongkrong di pos ronda.
Kini tibalah saatnya jalan-jalan kami semua. Sebuah bus besar nan nyaman sudah terparkir di depan halaman rumahku.
"Are you ready?" tanya Mas Zaky.
"Ready dong!"
__ADS_1
****