Perangkap Cinta Carmen

Perangkap Cinta Carmen
Hujan dan Banjir


__ADS_3

Zaky


"Mommy tak mau bantu aku?" Aku mengikuti langkah Mommy yang asyik melihat beragam jajanan.


Mommy kembali tersenyum. "Untuk apa? Agar jalan kamu lebih mudah?"


Aku mengangguk. "Iya, My."


"Kamu tahu kenapa anak kecil dibiarkan berlatih untuk jalan meski harus beberapa kali jatuh? Jawabannya agar mandiri. Agar ia tahu bagaimana cara berjalan yang benar dan tak tersandung lagi. Mommy tak mau membantu kamu, agar kamu tahu cara mencintai anak Mommy yang benar. Agar nantinya kamu tak akan menyakiti hati anak Mommy lagi. Mommy masuk ke dalam dulu ya. Terima kasih jajanannya!" Mommy Tari masuk ke dalam rumahnya, meninggalkanku tanpa membantu sama sekali.


Tak apa. Aku tahu yang Mommy inginkan. Mommy mau aku menunjukkan lagi usahaku untuk Baby. Aku akan tunjukkan kalau aku tak akan semudah itu melepaskan cinta Baby.


Acara hari ini selesai sebelum adzan ashar berkumandang. Asistenku sudah membayar semua tukang jajanan dan komplek sudah kembali bersih dan sepi. Besok hari minggu dan sulit bagiku mengirim origami secara langsung.


Aku menghubungi salah satu toko kue yang lezat. Aku memasukkan origami di dalam paper bag dan meminta kurir memberikannya langsung pada Baby. Aku mengintip dari balik jendela dan kulihat Baby keluar dengan hanya mengenakan hotpants dan kaos. Cantik sekali. Sayangnya aku tak bisa lebih dekat dengannya. Baby, aku kangen kamu ....


****


"Hujan tidak berhenti sejak semalam. Hati-hati banjir. Kamu jangan lupa bawa jaket tambahan! Kamu tuh suka menerobos hujan tanpa pakai jaket. Nanti kepala kamu pusing," ceramah Mama panjang lebar. Dimasukkannya jaket tebal ke dalam mobilku.


"Iya, Ma. Tenang saja. Aku bawa mobil Jeep kok. Aman kalau banjir asal tidak sampai satu rumah saja tingginya," jawabku seraya asyik mengunyah roti bakar buatan Mama.


"Kalau banjirnya parah, menginap saja di hotel terdekat. Mama bawakan baju ganti ya buat kamu!" Mama mengambil kemeja dan baju ganti untukku tanpa menunggu jawabanku. Biarlah, aku ikuti saja daripada membuat Mama khawatir berlebihan.


"Aku berangkat kerja dulu ya, Ma." Aku salim dengan Mama lalu pergi bekerja.


Mobil Baby masih ada di parkiran mobil. Sekarang Baby tak pernah berangkat pagi, mungkin sengaja menghindariku agar aku tak memberi origami pagi-pagi dan mengagetkannya. Aku tak mungkin memberi tanpa ada Baby. Ketahuan Abi bisa kena omel nanti.


Terpaksa aku menyuruh orang suruhanku yang sudah stand by di dekat rumah Baby agar memberikan padanya langsung. Aku kangen banget dengan Baby, tak bertemu dia selama seminggu lebih sejak kupanggil banyak tukang jajanan membuat rasa kangen dalam diriku semakin bertambah saja. Aku juga tak lagi makan siang di kantornya. Papa melarangku meninggalkan kantor karena banyak pekerjaan. Ya Allah Baby, sulit sekali bertemu kamu ....


Seharian kusibukkan diriku dengan bekerja. Mencoba mengalihkan pikiranku dari Baby dan rada rindu yang menggebu. Seakan tak puas mengujiku dengan rindu, sore ini aku diuji dengan hujan yang deras dan tak kunjung reda. Jalanan menjadi macet dan banyak kendaraan yang mogok kala menerobos banjir.

__ADS_1


"Hujan lebat yang mengguyur Jakarta sejak semalam membuat genangan di beberapa titik. Banjir juga sudah mulai menguasai dan membuat kemacetan yang ...." Suara dari radio yang kuputar menggambarkan situasi terkini kota Jakarta.


Huft ... siap-siap macet, lapar dan haus nih!


Kulihat tukang bakpau tak jauh dari mobilku. "Bang, 2 ya rasa ayam!" teriakku.


"Iya, Boss!" jawab tukang bakpau


"Sekalian air mineralnya 2!" teriakku lagi.


Tak lama penjual bakpau menghampiri mobilku membawa pesanan bakpau dan air mineral. Kuberikan uang seratus ribuan padanya. "Kembaliannya ambil saja!"


"Alhamdulillah. Makasih, Boss! Semoga hari ini Boss dapat rejeki dan bisa bertemu bidadari hati!" Doa penjual bakpau.


Doa macam apa itu?


"Aamiin." Kuaminkan doanya dan kembali menikmati kemacetan lalu lintas sambil memakan bakpau yang masih hangat.


"Banjir! Banjir! Putar balik saja!" teriak salah seorang Pak Ogah.


"Parah kalau buat motor. Kalau mobil Bapak sih aman. Tinggi. Tadi saja ada yang mogok. Bandel sih saya bilangin enggak denger!" jawab Pak Ogah sambil menggerutu.


"Makasih banyak ya, Pak!" kuberikan uanh dua puluh ribu untuk informasi yang diberikannya.


Aku akan terobos banjir saja. Lumayan menghemat waktu. Aku mulai menerobos banjir melewati kendaraan yang akhirnya putar balik. Untung saja Mama sudah wanti-wanti agar aku membawa mobil Jeep karena takut banjir. Meski bawel dan cerewet, Mama tetap yang terbaik.


Benar yang dikatakan Pak Ogah tadi. Banyak motor yang mogok. Ada beberapa mobil yang mogok juga. Aku memicingkan wajahku melihat mobil yang kukenal dan seorang perempuan yang berdiri sambil sibuk menelepon.


"Baby!" panggilku. Kubuka jendela mobil agar ia bisa melihatku.


"Mogok?" tanyaku lagi.

__ADS_1


Meski awalnya ragu, Baby akhirnya menjawabku dengan anggukan. Kubuka pintu sebelah kiriku. "Masuklah! Tinggalkan saja mobil kamu!"


Baby kembali ragu. Namun akhirnya ia membuat keputusan penting. Baby berjalan di antara air banjir yang keruh dan masuk ke dalam mobilku. Ia menutup pintu dan bisa kulihat bajunya yang basah karena hujan dan sejak tadi sibuk menelepon di luar mobil.


"Berapa lama kamu menunggu?" tanyaku.


Baby terdiam. Tak mau menjawabku.


"Oh come on! Ini situasi darurat. Lupakan dulu marah kamu sama aku!" omelku.


"Satu jam," jawabnya singkat.


Mobilku tak bisa jalan cepat. Mulai banyak mobil yang mogok. Setidaknya air tak masuk ke dalam mobilku dan masih bisa kulalui.


"Kamu sampai menggigil begitu!" omelku. Aku meraih paper bag yang ada di belakang. Lagi-lagi Mama sangat berjasa dalam hidupku kali ini. "Pakailah. Baju ganti yang Mama siapkan untukku. Ganti baju kamu dulu."


Baby tak mau menerima baju ganti yang kuberikan. "Ganti baju kamu sekarang! Kami bisa sakit! Ganti saja di belakang, kamu tahu sendiri kaca mobil aku gelap! Cepatlah, aku tak akan mengintip!"


Dengan ragu, Baby mengambil paper bag pemberianku dan pergi ke belakang. Aku kembali memajukan mobilku sedikit demi sedikit agar keluar dari daerah ini. Tanpa sadar, aku melihat kaca spion dalam dan melihat tubuh putih Baby yang sedang berganti baju.


Aku jadi teringat kilasan demi kilasan malam pertama kami. Bagaimana tubuhnya yang seksi, yang membuat semua keraguanku hilang dan berakhir menidurinya dengan rasa puas keesokan harinya.


God!


Aku jadi ingin mengulang saat itu lagi! Bodohnya aku hanya dua kali melakukan itu, kenapa tidak setiap hari dulu!? Menyesal sekali aku! Bodoh Zaky!


Aku menurunkan pandanganku sebelum Baby menyadari kalau aku sedang mengintipnya. Namun, aku sayang melewati pemandangan ini. Kembali aku mengintipnya namun sayang ....


****


Hi Semua!

__ADS_1


Kok sepi ya?


Yuk vote, like, komen dan add favoritnya biar aku makin semangat nulis. Mau double up gak? Yuk masuk 3 besar nanti aku double up, oke? 🥰🥰😘😘


__ADS_2