
Carmen
Abang Wira terus memperhatikanku. Sambil menyetir mobil, ia sesekali melihat ke arahku dengan tatapan penuh curiga.
"Fokus, Bang. Mengemudi lihat ke depan, jangan pecah konsentrasi. Bahaya!" sindirku.
"Bagaimana Abang bisa fokus kalau Abang tahu ada yang kamu dan Zaky sembunyikan," sindir balik Abang Wira.
"Abang terlalu banyak berpikir," jawabku.
"Insting Abang yang memaksa Abang melakukan hal itu. Insting alami yang dimiliki anak mantan Duda Nackal," kata Abang.
"Lebay banget sih kalian? Kalau Mommy tau kalian masih membanggakan predikat itu, bisa kena omel kalian nanti!" Aku membuang pandanganku ke arah jendela. Aku takut Abang semakin mengorek keterangan dan akhirnya aku tak bisa berbohong.
"Kamu tadi kemana sama Zaky?" tanya Abang lagi. Abang kalau sudah penasaran akan terus bertanya sampai mendapat jawaban yang diinginkan.
"Enggak kemana-mana. Masih di dalam hotel," jawabku jujur.
"Beneran?"
"Iya. Abang enggak percaya banget sih!"
"Aneh tau enggak. Beberapa minggu lalu, kamu masih benci setengah mati sama Zaky eh sekarang aku melihat kamu biasa aja. Tak ada lagi kebencian seperti yang aku lihat sebelumnya," ujar Abang.
"Memangnya aku harus membenci seseorang terus? Aku tidak pendendam Bang. Aku mudah memaafkan. Apalagi kalau orang yang berbuat salah sudah minta maaf dan menyesali kesalahannya. Allah saja Maha Pemaaf, kenapa aku masih menyimpan dendam?" jawabku.
"Terus kalau kamu sudah maafin, kamu bakalan rujuk lagi gitu?" tanya Abang.
"Waktu pernikahan Abang dan Kak Dewi di ujung tanduk, Abang masih mau memperbaikinya bukan? Kalau memang aku mau rujuk, tak masalah bukan?" jawabku.
"Masalah dong. Abang waktu itu belum bercerai. Masih bisa diperbaiki. Kalau kamu beda. Sudah bercerai. Sudah ketok palu!" jawab Abang tak mau kalah.
__ADS_1
"Yang memaksa aku untuk bercerai siapa?" balasku.
"Yang awalnya nangis-nangis minta cerai siapa? Aku sama Abi cuma mau yang terbaik buat kamu. Melihat kamu tidak bahagia dengan Zaky ya kami berdua turun tangan," balas Abang tak mau kalah.
Aku menghela nafas kesal. Berdebat dengan Abang itu susah. Untung aku sabar, kalau Mas Zaky mungkin sudah adu jotos. "Sekarang aku tanya sama Abang, bagaimana pendapat Abang tentang Mas Zaky?"
"Kenapa nanya tentang dia? Sudah jelas jawabannya, culun!" jawab Abang sambil tersenyum mengejek. Kupukul lengannya sampai ia mengaduh kesakitan. "Sakit, Baby! Kesel banget mantan suaminya dibilang culun. Abang tuh kalau berkata jujur. Dia memang culun. Cupu!"
"Mau aku pukul lagi?" ancamku.
"Kamu tuh ya, cinta mati sama orang ya pilih-pilih. Udah dikenalin sama Djiwa eh malah nolak. Kurang apa coba Djiwa dibanding Zaky, sama-sama duda. Kaya pula." Abang promosi layaknya sales obat yang gigih menawarkan barang dagangannya.
"Dibilang Djiwa yang tidak mau sama aku! Aku bukan type Djiwa. Balik lagi ke Mas Zaky. Abang tuh udah kenal Mas Zaky sejak lama, jawab jujur deh. Mas Zaky orangnya gimana? Jangan karena masalah Mas Zaky pernah menyukai Kak Dewi, penilaian Abang jadi tidak subyektif ya!"
"Ya ... begitu deh," jawab Abang dengan muka ngeselinnya.
"Ih Abang nyebelin banget sih jadi orang! Kalau bukan Abang sendiri udah aku jual nih!" balasku.
"Kalau baik, kenapa Abang begitu memusuhinya?"
"Ya karena kamu mencintai dia sampai jadi ikutan bloon. Dia yang bikin kamu bucin!" sahut Abang dengan menahan kekesalannya.
"Kalau sekarang Mas Zaky yang bucin sama aku, Abang bisa terima?" tanyaku balik.
"Mana mungkin? Dia tuh pasti punya tujuan lain! Sudah jangan masuk dalam perangkap dia. Anak itu licik. Enggak pernah mau kalah sama Abang!"
"Dia yang tidak mau kalah atau orang tua kita yang selalu bersaing tak mau kalah? Abang selama ini merasa saingan tidak sih dengan Mas Zaky? Selain masalah Kak Dewi ya, misalnya dalam pelajaran atau prestasi gitu? Karena setau aku, Mas Zaky itu cuma menuruti keinginan Papa Damar yang minta ini itu. Tidak benar-benar menganggap Abang sebagai musuhnya," kataku panjang lebar.
"Ya ... enggak sih. Aku mah sadar diri. Dia lulusan luar negeri, pasti lebih pintar. Kasihan juga sih sama dia. Keinginan Om Damar dan tuntutan keluarga agar Zaky memegang Damar Corporation agar lebih sukses membuat Zaky tertekan. Main dibatasi. Bergaul dibatasi. Mungkin karena itu dia suka sama Dewi, karena Dewi orang luar yang dia kenal dan akrab," jawab jujur Abang.
"Jadi, Abang tidak benci sama Mas Zaky bukan?" tanyaku.
__ADS_1
"Selain fakta dia menyakiti kamu, Abang tidak benci. Dia menyukai Dewi memang buat Abang kesal, tapi Abang kasihan juga. Kamu tahu sendiri bagaimana sifat Abang. Mudah marah tapi mudah memaafkan."
Aku tersenyum dan mengacungkan jempol pada Abang. "Memang Abangku ini, Abang paling hebat dan keren sedunia. Jadi, kalau aku rujuk sama Mas Zaky, Abang dukung bukan?"
Ckiiiittt!
Abang menginjak rem mendadak. "Rujuk? Enggak! Enak aja rujuk! Enggak deh, enggak! Jangan mau kamu dibodohi sama Si Cupu itu! Dia suka obral janji, dasar laki-laki centil!" Abang mulai dengan sumpah serapahnya tanpa henti.
Aku menghela nafas dalam. Susah rupanya meyakinkan Abang. Kirain sejak tadi dijelasin panjang lebar Abang akan mengerti eh tidak. Huft ....
"Jangan mau ya balikan sama dia! Ingat, dia pernah menyakiti kamu. Jangan semudah itu percaya pada mulut manisnya."
Kuacuhkan Abang Wira. Ini baru Abang yang susah dibujuk, apalagi Abi? Susah sekali mendapat restu mereka, huft ... apa yang harus aku dan Mas Zaky lakukan agar mereka mau memaafkan Mas Zaky ya?
"Dek, kok jadi diam sih? Kamu marah sama Abang?" tanya Abang Wira.
Aku tak menjawab. Aku diam saja dan terus memperhatikan jalanan di depan.
"Dek, Abang tuh cuma mau yang terbaik buat kamu. Abang pilihin kamu Angkasa Djiwa. Duda yang most wanted banget. Zaky sih kalah kalau dibandingkan dengan Djiwa," kata Abang dengan bangganya.
Aku tersenyum mengejek. "Abang yakin memilihkan jodoh terbaik buat aku?"
"Iya dong. Semua demi kamu, Baby!"
"Oh ya? Abang tau kenapa Mas Djiwa menjadi duda? Karena istrinya meninggal, Bang," kataku.
"Berarti Djiwa type lelaki yang setia sama istrinya. Bagus dong," kata Abang lagi-lagi dengan bangganya.
"Tau enggak kenapa meninggal? Dibunuh sama ibu tirinya, Bang. Dibunuh! Abang mau aku seperti istrinya Mas Djiwa? Lebih baik aku jadi menantu Mama Tara dan Papa Damar yang baik deh daripada menantu ibu tiri gila!" Kini gantian Abang Wira yang terdiam. Rasakan! Lihat saja apakah Abang masih keras kepala atau tidak.
****
__ADS_1