
Zaky
Dalam hatiku terus berdoa agar Baby tidak mengiyakan tawaran Papa. Bagaimana nasibku kalau pargoy di ruang meeting? Bisa malu besar aku di depan para karyawan.
Baby tersenyum seraya menatapku yang menatapnya dengan memelas. "Kamu takut ya, Mas?" goda Baby.
Aku mengangguk. "Jangan ya, Sayang. Jangan permalukan suami kamu di depan banyak orang, please," pintaku penuh harap.
Baby tertawa, Papa pun demikian. Mereka tau apa yang paling aku takuti. "Yaudah kalau Mas takut. Aku enggak mau juga kok Mas pargoy depan orang banyak. Nanti saja malam Mas pargoy di depan aku langsung ya!"
Aku menghembuskan nafas lega. "Iya. Terserah kamu asal jangan di depan banyak orang!"
Baby dan Papa kembali tertawa. "Sudah ya, Baby. Biarkan suami kamu kembali bekerja. Nanti kamu minta apa saja pada suami kamu, oke?" tanya Papa.
"Oke, Pa."
"Sayang, aku harus meeting sekarang ya. Kamu jangan lupa makan. Aku takut meetingnya lama. Nanti kita ketemu di rumah ya!" Aku menyambar jas milikku yang kutaruh di kursi kerjaku lalu memakainya.
"Iya, kerja yang bener ya, Mas. Ingat, Mas sebentar lagi jadi Papa. Harus makin hebat lagi loh!" kata Baby menyemangatiku.
"Tentu dong, Sayang. Kamu jangan terlalu lelah bekerja ya! Aku meeting dulu, assalamualaikum. Love you, Baby!" Kuakhiri sambungan telepon kami dan pergi meeting bersama Papa.
Meeting kali ini dihadiri oleh banyak karyawan. Ruangan meeting sampai penuh karena banyaknya yang hadir. Untung saja Baby tidak mengiyakan tawaran Papa. Bisa malu besar aku!
Meeting berlangsung lumayan lama. Banyak rencana bisnis yang dikemukakan oleh para karyawan. Biasa, banyak juga yang mencari muka dengan mengutarakan rencana yang belum tentu mereka bisa realisasikan. Aku menahan kantukku dan berharap meeting cepat selesai agar aku bisa pulang. Akhirnya jam 6 sore meeting selesai. Saatnya pulang!
Aku mengemudikan mobil menembus kemacetan kota Jakarta. Di depan sudah gapura menuju komplek rumah kami. Sudah dekat, sebentar lagi aku akan bertemu Baby.
Dering ponselku sedikit mengagetkanku. Baby? Ada apa Baby meneleponku?
"Apa, Sayang? Kangen ya sama Mas?" tanyaku dengan lembut.
"Iya, kangen. Mas, kamu lagi di kantor yang daerah Palmerah bukan? Aku kok tiba-tiba mau ayam goreng yang dekat kantor kamu ya? Kayaknya enak deh makan ayam goreng dengan sambelnya yang pedas asam segar itu. Mas bisa tolong beliin enggak?" pinta Baby.
Aku menepikan mobilku. Aku tahu, Baby memang tidak tau kalau aku sudah mau sampai rumah. Masa sih aku kembali lagi ke kantor setelah aku berhasil melewati kemacetan panjang dan hanya beberapa meter saja aku sampai di gapura komplek?
__ADS_1
"Mas? Mas kok diam sih? Enggak mau beliin aku?" tanya Baby dengan kecewa.
"Ma-mau kok. Kamu mau berapa banyak? Mas siap belikan kok." Aku harus mengiyakan permintaan Baby. Harus. Aku enggak mau anakku terlahir ileran.
"Satu aja, Mas. Udah cukup."
Satu?
Hanya satu potong ayam dan aku harus menempuh jarak 20 Km untuk membelinya? Masya Allah!
"Mas! Bisa 'kan? Kok Mas diem lagi sih?" tanya Baby lagi.
"Mas lagi ada kerjaan sebentar, Sayang. Iya, Mas belikan ya! Kamu tunggu Mas pulang ya!" kataku sambil menahan sabar.
"Nah gitu dong! Iya, aku tungguin Mas pulang. Jangan malam-malam ya, Mas!" Tak lama Baby mematikan teleponnya.
Aku putar otak dan teringat Papa. Kutelepon Papa dan menanyakan posisinya.
"Papa sudah mau sampai rumah, kenapa?" jawaban Papa menghancurkan harapanku.
Aku pun kembali masuk ke dalam toll dan berangkat menuju kantorku. Andai Baby tidak tahu kalau ada ayam goreng enak di dekat kantor. Pasti hidupku tak akan semenderita ini. Ada dendam apa sih anak dalam kandungan Baby denganku? Kenapa suka sekali membuat aku menderita? Apa ia mau membalasku karena pernah menyakiti hati Mamanya? Masa sih?
Hari sudah jam 8 malam saat aku kembali ke kantorku dan memesan ayam goreng satu ekor. Jangan sampai kurang dan Baby minta belikan lagi. Aku lalu kembali berjibaku dengan kemacetan Jakarta dan baru sampai rumah sekitar jam 10 malam.
Tubuh lelah, pantaat panas karena lama menyetir mobil. Melihat gapura komplek seakan memberi pertanda kalau penderitaanku sudah berakhir. Akhirnya aku sampai rumah.
Mbak di rumah Abi membukakan pintu gerbang untukku. Rumah sudah sepi. Abi dan Mommy sudah di dalam kamar. Aku langsung naik ke atas dan masuk ke dalam kamar Baby.
"Assalamualaikum, Sayang! Aku pulang!" Aku menaruh ayam goreng di atas nakas lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakiku.
Aku kembali menghampiri Baby yang masih tertidur pulas. Aku dekati dan mengecup pipinya seraya berbisik lembut. "Sayang, Mas pulang! Mas bawa ayam goreng pesanan kamu!"
Baby membuka matanya dengan malas. Mukanya ditekuk dan bibirnya dimanyunkan. "Lama banget sih?"
"Maaf, aku tadi masih ada kerjaan. Yuk makan! Masih agak panas sedikit. Macet. Apa mau dipanasi lagi?" tawarku. Kuambil plastik pembungkus ayam dan membukanya. Harum ayam goreng menyeruak di dalam kamar Baby.
__ADS_1
"Enggak usah. Aku langsung makan saja!" tolak Baby.
"Mau Mas suapi?" tawarku.
Baby mengangguk. "Mau."
Kuambil sepotong ayam goreng dan kusuapi Baby. "Enak?" tanyaku.
"Enak banget!" jawab Baby dengan mata berbinar-binar.
"Alhamdulillah. Ngidam kamu kali ini bisa Mas turuti. Ayo makan lagi!" Kembali aku menyuapi Baby namun dia menggelengkan kepalanya.
"Udah, Mas."
"Udah?" tanyaku tak percaya.
"Iya. Udah. Mas kelamaan sih. Aku udah enggak pengen banget kayak tadi. Tapi enggak apa-apa Mas. Aku udah puas. Rasanya lega sekali udah makan ayam goreng ini. Aku mau bobo lagi ya, Mas. Pakaian ganti Mas sudah aku siapkan. Jangan lupa sholat isya. Met bobo, Mas." Baby kembali merebahkan tubuhnya dan menarik selimut. Dalam waktu singkat Baby tertidur lelap.
Aku terdiam.
Aku hanya bisa terdiam.
Udah?
Udah begitu saja?
Dari satu ekor yang aku beli dengan pengorbanan menembus kemacetan Jakarta, hanya satu gigitan saja yang Baby makan?
Aku masih diam di tempat. Kutatap paha ayam yang baru dimakan satu gigitan oleh Baby. Aku tertegun. Aku hanya mengerjapkan mata. Aku tak percaya dengan apa yang terjadi.
Kini, tuan putri sedang tertidur pulas. Sementara aku? Masih mematung dengan paha ayam di tangan. Kok ngeselin ya? Apa semua ibu hamil begini?
Aku menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Sabar, Zak. Sabar. Kamu lagi ujian agar naik tingkat. Masih bulan pertama, masih ada delapan bulan lagi. Penderitaan belum berakhir. Semangat! Kumakan paha ayam di tanganku sampai bersih. Setidaknya, aku yang makan ayam goreng ini!
****
__ADS_1