
Menunggu adalah salah satu hal yang sangat membosankan. Duduk di lobi sendirian membuatku kesal karena selalu teringat kembali dengan desas-desus yang beredar. Ojek online yang kupesan belum sampai juga walaupun aku sudah menunggu lima belas menit. Tidak mungkin aku membatalkan sepihak karena aku takut sekali dengan doa' seseorang.
Dimas melewatiku tanpa bertanya apapun,aku juga diam saja tak berniat memanggilnya. Setelah sampai di pintu lobi kantor dia membalikkan badannya dan aku pura-pura tidak melihat.
"Sarah..ayo pulang"
Aku menggeleng cepat dan menunjukkan ponselku dari jauh.
"Batalkan saja.." ucapnya.
Aku hanya terdiam di tempatku, mengacuhkan Dimas yang masih berdiri disana.
Tin tin tin
Aku langsung berdiri karena ojek online yang kupesan sudah berada di luar. Kulihat Dimas memberikan uang pada pria itu dan motor itupun menjauh dari pandangan mataku.
"Aku mau pulang.."ujarku kesal.
"Ayo pulang bersamaku.."
"Bukankah aku sedari tadi mengajakmu.."
"Dim..tolong,aku sedang tidak ingin berdebat" sahutku emosi.
"Kenapa kamu berubah..?"tanyanya lagi.
"Aku..? berubah..? apa yang berubah?"
__ADS_1
"Apa karena kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau..?"
Aku menatap tajam padanya,kami berdua berdiri di depan lobi seperti dua anak kecil yang sedang memperebutkan mainan.
"Apa maksud ucapanmu..?"
"Kamu selalu bilang ingin punya sugar Daddy,apa kamu sudah menemukannya..?"
"APA KAU SUDAH TIDUR DENGANNYA.."? teriak Dimas didepan wajahku.
Plakkkkkkk
Sebuah tamparan mendarat begitu saja di pipinya,tanganku sampai sakit dibuatnya. Air mata lolos begitu saja dari kedua mataku. Aku tak menyangka Dimas juga berpikiran sama seperti semua rekan-rekan di kantor kami.
" Sarah....a aku tidak bermaksud" ujarnya lirih.
"Maafkan aku Sarah... sungguh aku minta maaf.."
"Dengar... walaupun aku sudah tidur dengan pak panji bukankah itu bukan urusanmu,tak ada hak sedikitpun kamu memarahiku atas apa yang ku perbuat. Karena kita bukan siapa-siapa.."ucapku panjang lebar.
Dimas hanya bisa menatapku dengan mata sendunya, matanya merah entah menahan tangis atau amarah.
"Apa..? benarkah apa yang tadi kudengar.."
Aku memalingkan wajahku tak ingin melihatnya lagi. Rasa kecewa tak bisa kutahan hingga air mata tak bisa lagi terbendung.
"Sarah... setelah semua yang kita lewati,kamu bilang kita bukan siapa-siapa.."
__ADS_1
"Iya...kita bukan siapa-siapa.."ucapku lagi sembari melenggang pergi.
Aku menangis sambil menyusuri jalan raya rasanya hari ini aku seperti pesakitan yang sedang di adili. Begitu jahat mereka sehingga menghakimi diriku tanpa mendengar penjelasan ku lagi. Dimas pun ikut menghakimi dan menyalahkanku. Orang yang ku anggap akan menjadi pelindungku ternyata sama saja.
Aku rasa semua pengemudi melihatku menangis bahkan beberapa kali klakson berbunyi saat melewatiku. Tapi aku tetap melangkahkan kaki tanpa tahu arah dan tujuan.
Setelah puas menangis aku berhenti berjalan dan melihat sekeliling. Jauh juga aku berjalan bahkan gedung kantorku sudah tak terlihat. Aku tertegun saat menyadari seorang pria berdiri tak jauh dariku. Dia melangkahkan kakinya ke arah aku berdiri.
"Nangis lagi..?"
"P..pak ngapain disini..?"
"Aku sedang mengikuti anak kucing yang sedang menangis.."ujarnya.
Aku mencari-cari ke bawah kakiku anak kucing yang dia ceritakan.
"Kemana perginya..?"tanyaku lagi.
"Siapa..?"
"Anak kucing yang bapak katakan tadi.."ucapku polos.
Segaris senyum terlihat dari bibirnya,aku hanya melongo menatap wajah pria itu.
"Mobilku terparkir jauh sekali..ayo kita kesana sebelum hujan turun"
Panji menarik tanganku dan aku pun tak menolak dan mengikuti langkahnya. Tanpa kami sadari sepasang mata melihat apa yang terjadi sembari memukul motor merahnya..
__ADS_1