Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
Dilema


__ADS_3

Aku duduk sendirian di pantry dengan secangkir kopi ditangan. Rasanya ingin sekali tetap bekerja disini tapi semuanya tidak memungkinkan. Hampir seluruh staf tahu aku sudah berkencan dengan bos di kantor ini. Banyak sekali tatapan sinis tertuju padaku. Aku bahkan tidak bisa mengangkat kepalaku saat berpapasan dengan mereka.


Sedangkan Panji..pria itu seperti tidak perduli dengan gunjingan orang lain. Dia tetap memperlakukanku sangat dingin saat kami berada di kantor.


"Ehh...ada bu bos.."


"Sekarang beda banget auranya,ada sombong-sombongnya gitu..."


Tawa cekikikan menggema memenuhi pantry.


Aku menoleh ke arah pintu dan melihat segerombolan wanita-wanita penebar gosip berdiri disana. Aku beranjak dari tempat duduk dan berusaha untuk tidak terpengaruh dengan ocehan mereka.


"Permisi..."


Mereka sama sekali tidak mendengarkan ucapanku. Tubuh mereka tetap menghalangi pintu sehingga aku tidak bisa keluar. Aku mencoba untuk tetap tenang dan tersenyum saat menatap mata mereka satu persatu.


"Ada masalah apa ya..?"tanyaku heran.


"Sombong banget sih kamu.."


Helen si wanita paling cantik mengenggol tubuhku.


"Sombong...?aku yang sombong atau kamu yang iri..?"


Nadia yang paling berani di antara mereka merangsek maju mendekatiku. Ku angkat gelas tinggi-tinggi dan itu membuat nyalinya sedikit menciut.


"Disini ada cctv..jadi kalian akan tau siapa yang salah kalau terjadi apa-apa.."

__ADS_1


Mereka saling pandang dan memberi jalan padaku dengan kesal. Aku mencoba menetralkan rasa marah yang ada di dadaku. Rasanya tidak ada yang salah dengan diriku,tapi semenjak rumor bermunculan semua orang seperti membenciku.


Aku segera mengetik surat pernyataan untuk berhenti bekerja. Rasanya memang benar sekali apa yang di katakan Panji, kalau aku memang harus keluar dari kantor ini. Tanpa banyak bicara aku langsung masuk keruangan Hrd dan memberikan surat itu.


Setelah semua urusan selesai akupun keluar kantor dengan hati yang sangat lapang. Bagaimana tidak,aku sama sekali tidak bermimpi akan secepat ini terbebas dari beban pekerjaan yang menguras emosi dan air mata.


Sebelum benar-benar meninggalkan kantor aku terlebih dahulu mampir ke warung bubur langganan ku dan Dimas. Aku tersenyum saat mengingat pria jangkung itu.


Semangkuk bubur dan segelas es jeruk sudah tersedia di depanku.


"Apa kabar neng..?"


Aku tersenyum saat mang rojak penjual bubur bertanya padaku saat dia membersihkan meja.


"Saya sehat mang...nih masih gemoy.."


"Pacarnya gak di ajak makan sekalian neng..?"


"Pacar..?" tanyaku heran.


Mang rojak menunjuk ke arah depan warung dan pria jangkung yang baru kupikirkan sedang duduk di atas kuda besinya sambil tersenyum.


Aku sedikit terkejut karena tadi saat aku masuk sama sekali tak melihat Dimas disana.


"Biasa mang.. dia memang gitu kalau laper.."


Dimas sudah berada di depanku dan aku bingung harus bagaimana.

__ADS_1


"Belum sarapan..?"tanyanya


Aku menggelengkan kepala dan berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja, padahal hatiku sangat takut ada orang yang melihat kami duduk berdua disini.


Dimas memesan bubur dan segelas es jeruk. Dia tak berhenti berbincang dengan mang rojak karena kebetulan warung masih sepi mungkin karena sudah masuk jam kantor.


Nada pesan terdengar dari ponselku dan aku merogohnya dari dalam tas hitam yang kusimpan di atas meja.


(pulang sekarang atau aku kesana)


Degggg...


Aku mencari-cari sosok lelaki yang selalu mengancamku itu. Tak terlihat dimanapun tapi mengapa dia bisa melihatku disini.


"Sar...aku rindu.."ucap Dimas lirih.


Aku tidak lagi merasakan lapar karena isi pesan itu.


"Kenapa..?kamu ada janji..? tanyanya.


Aku menggelengkan kepalaku dan menutup ponsel tanpa membalasnya.


"Habis makan kita jalan-jalan ya.."


"Hah..."


Aku terkejut saat Dimas mengatakan itu. Sekarang rasa bingung melandaku, haruskah aku pulang atau ikut pergi dengan Dimas...?

__ADS_1


__ADS_2