
Panji tersenyum saat membuka pesan yang masuk ke ponselnya. Entah mengapa gadis itu berubah menjadi manis sekali. Awalnya Panji merasa takut tidak akan bisa mengerti keinginan gadis belia itu. Tapi ternyata semuanya berjalan dengan baik.
Para karyawan heran melihat atasan mereka tersenyum sendiri. Panji yang dikenal sebagai atasan yang sangat dingin dan tak berperasaan bisa sumringah seperti itu hanya dengan melihat ponsel.
(Aku akan segera pulang)
Balasan pesan darinya hanya centang abu-abu. Panji pun memasukkan kembali ponselnya kedalam tas miliknya.
Mereka melanjutkan meeting dengan suasana yang berbeda. Biasanya mereka bermuka masam saat atasan mereka berbicara. Kali ini senyum terlihat di wajah semua karyawan yang mengikuti meeting pagi ini.
Panji menyelesaikan pekerjaan dengan hati yang sangat bahagia. Ada rasa hangat di hatinya semenjak pesan itu masuk ke ponselnya.
Para karyawan berbisik-bisik menebak apa yang sebenarnya sedang terjadi pada atasan mereka. Sebagian mengira bos mereka menang tender proyek besar sehingga sebahagia itu. Tapi ada juga yang mengatakan itu karena Panji sedang jatuh cinta.
Pukul lima sore Panji sudah bersiap untuk pulang. Dia mengatakan pada semua staf untuk pulang dan tidak ada yang lembur supaya mereka sehat dan besok bisa bekerja lagi dengan giat.
Mobil yang dia kendarai memasuki pelataran parkir sebuah mall. Dia akan membeli beberapa bahan makanan untuk di masaknya malam ini.
Dengan wajah yang tak henti menebar senyum dia pun memilih daging dan sayuran hijau serta jagung. Beberapa minuman dingin juga tak luput dari pandangannya.
Setelah membayar semua belanjaan, diapun segera meninggalkan tempat itu dan dengan langkah ringan menuju mobilnya.
Dia tidak menyadari perempuan setengah baya sedang memperhatikan dan berjalan menghampirinya.
"Mau masak..?"
Panji sedikit terkejut dan berbalik karena dia hafal sekali dengan suara itu.
__ADS_1
"Mami..lagi ngapain disini..?"
"Mau shopping.."
"Shopping terus.."sahut panji tersenyum.
"Mau masak dimana..?
"Dirumah Sarah.."
Ivone tersenyum dan mengusap lengan putranya itu.
"Hati-hati dijalan..jangan senyum terus nanti orang mikir macam-macam.."
Panji memeluk tubuh wanita cantik itu dan segera masuk ke dalam mobilnya.
"Siap bos.."
Ivone melambaikan tangannya dan mengusap air mata yang tiba-tiba saja turun disudut matanya.
"Semoga Tuhan selalu memberikan kamu kebahagiaan anakku.."lirihnya
Panji sampai di rumah dengan raut wajah yang sumringah. Dia segera turun dari mobil sambil membawa belanjaan yang tadi dia beli.
Tok tok tok
Panji mengetuk pintu berulang kali tapi tak ada jawaban. Dia segera mengambil ponsel dan menelpon nomor Sarah.
__ADS_1
"Hmmmm..."
"Aku dibawah.."
Telepon terputus dan Panji pun duduk untuk menunggu sampai Sarah membuka pintu. Tanpa menunggu lama, pintu terbuka dan muncul lah si pemilik lesung pipi dengan rambut panjang yang tergerai dan pakaian yang belum juga berganti.
Panji tersenyum melihat mata gadis itu yang sembab karena baru bangun dari tidur.
"Tidur...?"
"Hu'um..."
Panji mengacak rambut panjang milik Sarah dan menggandeng tangan gadis itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Mandilah sana,aku akan menyiapkan makan malam.."
Sarah tak beranjak dari hadapan panji. Dia terus saja memperhatikan semua gerak gerik pria jangkung itu.
"Kenapa..hmmm?"
"Pulang kerja bukannya peluk dulu malah sibuk mau masak.."
Panji tertawa mendengar ucapan kekasihnya itu.
"Kukira kamu kenapa diam saja.."
Panji mendekati Sarah dan memeluk tubuh mungilnya.
__ADS_1
"Terimakasih... karena sudah mau menjadi wanitaku.."ucapnya lirih.