
Panji segera mengikuti laju mobil yang ditumpangi oleh ibunya. Dia ingin tahu kemana lagi ibunya pergi setelah tadi dia mendengar semua yang dibicarakan ibunya dengan keluarga Sarah.
Mobil mewah itu terus melaju tanpa mengetahui kalau ada seseorang sedang mengikutinya. Panji beberapa kali menghela nafas karena jalanan yang dia tuju begitu terjal dan berliku.
Ivone turun dari mobil dan dengan anggunnya berjalan memasuki sebuah rumah yang lumayan besar. Sopir tidak turun dari mobil karena Ivone sudah melarangnya.
Panji segera mengirimkan pesan pada sopir ibunya. Pesan terbalas dan panji segera turun dari mobil.
"Maaf tuan muda..saya benar-benar takut nyonya akan memecat saya.."
"Diamlah..dan jangan banyak bicara.."
Panji segera memasuki rumah itu untuk mengikuti ibunya. Dengan hati-hati dia berjalan menyusuri pinggiran rumah tanpa penjaga itu.
"Rumah siap ini..?" lirihnya.
Panji berhenti saat mendengar suara ibunya sedang berbincang dengan seseorang. Dia mendekat ke arah jendela yang terbuka.
"Aku harap kamu bisa menepati janji untuk menjauhkan putramu dengan calon menantuku.."
"Apakah ada sesuatu yang mengganggumu..?"
"Putramu tidak akan berhenti mendekati Sarah jika kamu tidak segera mengirimkan nya ke luar negeri.."
"Putraku tidak bisa di paksa untuk melakukan apapun yang tidak dia inginkan.."
__ADS_1
"Kalau sampai putramu berani menunjukkan wajahnya di depan calon menantuku,aku akan benar-benar membuat suami mu tamat.."
"Tolonglah Ivone...jangan seperti ini.."
"Aku tidak punya banyak waktu..jangan terlalu banyak berfikir karena aku bukan orang yang bisa di ajak bernegosiasi.."
Perempuan di depan Ivone menundukkan kepalanya dan menitikkan air mata. Dia meremas ujung baju yang dipakainya.
"Aku akan segera membeli saham perusahaan jika kamu menyetujui semuanya.."
"Ivone..ada yang perlu kamu ketahui.."
"Apa..?"
"Putraku sangat mencintai Sarah..bahkan dia berubah menjadi orang yang berbeda saat mengetahui Sarah bersama putramu.."
"Kenapa kamu sangat egois..?"
"Aku..egois..? semua ibu akan melakukan apapun demi kebahagiaan putranya.."
"Setidaknya biarkan mereka bersaing secara sehat.."
"Sudah cukup..aku tidak ingin berdebat lagi denganmu.."
Ivone segera meninggalkan perempuan yang sedang di kursi roda itu. Langkahnya mantap dan tidak berniat untuk berbalik lagi.
__ADS_1
"Dia juga putramu...berbaik hatilah sedikit.."
Ivone berhenti dan menggigit bibir bawahnya. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap tajam pada perempuan itu.
"Dengarkan aku... sampai kapanpun dia hanyalah putra pembawa sial untukku. Jangan sekali-kali kamu mengatakan itu kepadaku.."
Perempuan itu menangis sembari memegang dadanya. Rasa sakit menghujam jantungnya mendengar Ivone mengatakan itu.
"Rahayu... bertahun-tahun cerita itu tersimpan rapat. Aku tidak ingin semut pun mengetahuinya.."
"Sebelum aku mati..aku ingin Dimas mengetahui siapa dia sebenarnya.."
Bagaikan di sambar petir rasanya saat panji mendengar suara dari dalam sana. Dimas...apa yang dimaksud mereka itu adalah Dimas putra anggara..?
Panji segera melangkahkan kaki meninggalkan rumah itu. Dia tidak ingin ibunya lebih dulu keluar dan melihatnya disana.
Sopir segera turun dari mobil saat Panji sedikit berlari meninggalkan pekarangan rumah itu.
"Tuan muda.."
"Tolong jangan biarkan ibuku tahu keberadaan ku.."
"Baik tuan.." angguknya.
Panji segera memasuki mobilnya yang terparkir lumayan jauh dari mobil ibunya. Jantungnya berdetak tak karuan saat mendengar berita yang baru saja dia dengar.
__ADS_1
"Ada apa ini..?" lirihnya.