Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
Ikatan darah


__ADS_3

"CUKUP..."


Panji dan Rahayu sama-sama terkejut mendengar teriakan seseorang. Keduanya menoleh ke asal suara dan melihat Dimas sedang berdiri dengan mata yang sangat merah.


"Nak..."


"Cukup Ma...tak usah di teruskan lagi"


Dimas segera menghambur ke dalam pelukan wanita paruh baya itu. Rahayu mengusap punggung putra semata wayangnya.


"Maaf...kamu tahu dalam kondisi yang seperti ini"


Dimas tak bersuara dia masih syok dengan semua kebenaran yang telah di dengarnya. Panji hanya bisa diam di tempatnya,dia tak tahu apa yang harus dilakukan.


"Pulanglah...anggap saja kamu tidak mendengar apapun.." ucap Dimas.


"Nak...beliau kakak kandungmu,jangan..."


Rahayu tidak bisa meneruskan ucapannya karena Dimas menatap matanya dengan penuh kekecewaan.


"Pulanglah pak... menyenangkan jika kita terus berpura-pura tidak mengetahui apapun"

__ADS_1


Panji berdiri dan berjalan dengan gontai tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia tidak tahu harus bagaimana karena semua yang di dengarnya betul-betul menyakitkan. Walaupun dia sudah tahu dari awal tapi setelah mendengar cerita yang sebenarnya dia merasa bersalah. Karena telah sangat lancang mengorek luka lama ibunya.


Dimas duduk di lantai sambil memegang kaki sang ibu. Dia melihat betapa hancurnya seorang Panji Gumilang mendengar semuanya. Bukan hanya dirinya yang terluka,pria itupun pasti terluka dengan semua kebenaran ini.


"Nak...darah tetap darah dia tidak akan menjadi air"


Dimas menundukkan kepalanya dan menitikkan air mata.


"Aku tetap putra ibu.. sampai kapanpun aku tetap putra Rahayu Bestari"


Dengan punggung tangan Rahayu mengusap matanya.


"Maaf... menyembunyikan semua kebenaran ini"


Rahayu kembali mengusap wajahnya karena air mata menghalangi pandangannya.


"Tolong.. jangan menangis ibu.. berjanjilah untuk tidak menangis lagi"


Mereka kembali berpelukan, karena semua kebenaran itu membuat semua orang terluka.


************

__ADS_1


Panji mengendarai mobil dengan suasana hati yang sangat berantakan. Dia tidak menyangka bahwa masa lalu membuat ibunya benar-benar membuat keputusan yang sangat besar.


Dimas Anggara, pria yang selama ini menjadi rival dalam memperebutkan hati Sarah adalah adik kandungnya sendiri. Dan yang paling menyakitkan adalah sampai dewasa pun ibunya masih menginginkan kebahagiannya. Walaupun dengan cara menyingkirkan putranya yang lain.


Dia memarkir mobilnya di rumah Sarah tanpa memberi tahu terlebih dahulu pada gadis itu. Dia menekan bel pintu beberapa kali,tak lama pintu terbuka dan Panji pun langsung memeluk tubuh Sarah.


"Sayang...ada apa..?"


Panji tidak menjawab dia malah mengeratkan pelukannya hingga kekasihnya itu merasa heran melihatnya.


"Ayo masuk.."


Panji masih diam seribu bahasa, rasanya dia ingin mengatakan semuanya pada gadis itu. Supaya beban dihatinya berkurang bahkan menghilang. Tapi bagaimana jika Sarah meninggalkannya setelah mengetahui semua kebenarannya.


Sarah akan merasa kasihan pada Dimas dan akan luluh pada pria itu. Walaupun dia sudah tahu Dimas adalah adiknya tapi rasanya untuk kehilangan Sarah dia tidak sanggup.


"Maaf aku egois.."


"Hmm..kamu gak egois kok, memangnya kamu kenapa..?"


Dimas mencium bibir Sarah tanpa meminta izin terlebih dahulu. Dia ******* bibir Sarah dengan lembut. Sarah tak menolak,dia seakan membiarkan Panji melakukannya.

__ADS_1


Hanya sebatas itulah panji menyentuh Sarah. Karena bagaimanapun juga Sarah adalah gadis baik-baik. Dia juga tidak ingin melangkah lebih jauh sebelum menikahi gadis itu. Apalagi dia tidak mengetahui isi hati Sarah yang sebenarnya.


Panji tidak ingin dicintai karena merasa kasihan ataupun karena merasa sudah terlanjur bersama..


__ADS_2