
Ivone turun dari mobilnya dengan sangat anggun. Dengan tas tangan berwarna merah dia melangkah memasuki pagar rumah yang belum selesai di bangun.
"Nyonya..."
Ivone membuka kacamata besarnya dan menaikkan satu alisnya. Tanpa diminta dia duduk dengan menyilangkan kaki.
"Saya tidak suka basa-basi..mana ibumu..?"
"Ibu..ibu..."
Ivone semakin melotot melihat gadis belia di depannya.
"Panggil cepat ibumu atau aku akan menyuruh orang untuk menghancurkan rumah kalian".
Tak berapa lama perempuan bermata sendu muncul di hadapan Ivone. Dengan senyum sumringah dia menghampiri Ivone dan hendak menjabat tangannya, tapi segera di tepiskan oleh Ivone.
"Apa kabar nyonya..?
"Kamu sudah membuat menantu saya menangis lagi..?"
__ADS_1
"Tidak nyonya..sungguh.."
"Kalian tidak menyambutnya dengan baik, bahkan kalian semakin melukai hatinya "
Yunita meremas ujung bajunya dengan menahan amarah dia berusaha untuk tidak berteriak di depan wanita anggun itu.
"Maaf.. nyonya tapi saya benar-benar tidak mengatakan apapun pada Sarah.."
"Dengar Yunita..jika sekali lagi saya mendengar Sarah menangis karena salah satu dari kalian..kamu akan tahu akibatnya.."
"Iya nyonya..itu tidak akan terjadi,saya berjanji.."
"Baik nyonya..saya mengerti ".
Ivone beranjak pergi meninggalkan Yunita yang masih menundukkan kepalanya. Setelah kepergian Ivone, Yunita berteriak menumpahkan kekesalannya.
"Berani sekali anak kurang ajar itu bercerita tentang kita"
Sasha hanya bisa terdiam melihat ibunya mengamuk sambil berteriak. Tora yang baru saja kembali dari pasar menatap heran pada ibunya tanpa berniat sedikitpun untuk bertanya.
__ADS_1
"Sudahlah Bu...biarkan saja wanita itu,yang penting kita hidup enak disini"
Yunita sedikit melunak saat Sasha memeluknya dan menyuruh untuk duduk.
"Dengar apa yang tadi nyonya Ivone katakan,kamu harus berhenti membenci Sarah secara terang-terangan"
Sasha cemberut mendengar ucapan ibunya. Tapi dia tidak membantah karena Sasha tahu apa yang akan dilakukan ibunya padanya.
Dibalik pintu..Tora mendengarkan semua obrolan ibu dan kakaknya. Dia hanya bisa menghela nafas mendengarnya. Tora tidak mengerti kenapa ibunya sangat membenci kakak pertamanya itu. Karena yang Tora tahu hanya Sarah lah yang selama ini membanting tulang untuk keluarganya.
Ingin rasanya Tora keluar dari rumah ini dan pergi meninggalkan ibu dan kakak keduanya yang toxic. Tapi setiap mengingat nasihat Sarah,Tora kembali mengurungkan niatnya.
"Walau bagaimanapun ibu,dia tetap surga kita.."ucapnya tempo dulu.
Karena Sarah mengatakan hanya Tora satu-satunya anak lelaki ibu. Hanya Tora yang bisa menjaga ibu dan Sasha saat Sarah tak ada bersama mereka.
Tora mengusap wajahnya dengan kasar,dia segera berlalu untuk membersihkan diri. Setelah seharian bekerja menjadi tukang panggul di pasar. Andai Sarah tahu selama ini Tora hanya sekolah sampai menengah pertama pasti dia akan semakin sedih.
Yunita bersiap untuk pergi makan malam bersama Sasha. Dengan baju yang sangat gemerlap dia mematut dirinya di depan cermin. Senyum sumringah terlihat dari bibirnya. Bagaimana tidak,setiap bulan Ivone selalu mengirimkan uang padanya supaya dia tidak menggangu kehidupan Sarah.
__ADS_1
Yunita merasa beruntung karena dia pun tidak ingin tahu lagi tentang kehidupan putri pertamanya itu. Yang terpenting untuknya sekarang adalah dia dan Sasha bahagia. Bergelimang harta adalah keinginannya sejak dulu.