
Yunita melemparkan semua berkas ditangannya. Dia menghempaskan tubuhnya ke sofa dan mendengus kesal.
"Kurang ajar..."
Sasha hanya terdiam di samping ibunya. Perutnya yang sudah besar membuatnya tidak sanggup untuk berbuat apapun. Rasa lelah selalu menghampirinya setiap hari.
"Kenapa Sarah selalu menang..?"
"Karena kakak orang yang sangat baik"
Tora melewati keduanya dengan santai sembari mengatakan itu. Yunita mendelik ke arah putranya.
Tok tok tok
"Buka pintu sana..jangan hanya duduk saja"
Dengan kesusahan Sasha bangun dan segera berjalan ke arah pintu.
"Ibunya ada nak..?"
"Ada pak RT.. silahkan masuk.."
Lelaki yang sudah sepuh itu hanya meminta untuk menunggu di luar rumah saja. Sasha pun segera masuk kembali dan memanggil ibunya untuk menemui ketua RT mereka. Yunita segera merapikan rambut dan pakaian nya yang sedikit kusut.
"Pak Rt..kenapa di luar.. silahkan masuk.."
"Iya Bu.. terimakasih,saya hanya sebentar"
__ADS_1
Yunita duduk berhadapan dengan orang yang sangat di hormati di desa itu.
"Begini Bu..maaf sebelumnya, saya sudah mendengar dan melihat sendiri apa yang sudah terjadi dengan nak Sasha...Kita harus mencari jalan terbaik untuk masalah ini"
"Maksud pak Rt apa ya pak..?"
"Banyak warga yang terganggu dengan berita yang tersebar dan itu membuat kampung kita tercoreng di mata warga kampung lain.. Laporan warga sudah berdatangan supaya nak Sasha segera di nikahkan"
Yunita hanya terdiam mendengar ucapan lelaki sepuh itu. Dia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya di depan orang yang sangat di hormati itu.
"Saya bingung pak.. karena lelaki itu tidak mau bertanggung jawab"
"Saya bicara seperti ini karena saya sangat menghormati keluarga bu Yunita.. takutnya ada warga yang main hakim sendiri"
Kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi semuanya berkelebat di benak Yunita. Kepalanya sangat sakit memikirkan itu semua.
"Tidak adakah pilihan lain pak..?"
"Di ungsikan saja dulu Bu... sampai melahirkan"
Yunita mengiyakan semua ucapan sesepuh kampung itu. Setelah mengutarakan semuanya lelaki itu segera berpamitan pada Yunita, meninggalkan wanita paruh baya itu sendirian di teras rumahnya.
Wajahnya merah padam sedari tadi menahan malu dan amarah. Begitu banyak yang terjadi padanya dan itu sangat menyesakkan. Sasha membawa baki dengan dua gelas teh di atasnya. Dia celingukan mencari tapi tamu yang akan disuguhi sudah tidak terlihat lagi.
"Sudah pulang Bu..?"
"Masuk kamu... ngapain keluar rumah saat pagar terbuka,mau kelihatan tetangga kalau kamu hamil tapi tak bersuami..?"
__ADS_1
Sasha segera masuk kedalam rumah saat ibunya mengatakan itu dengan murka. Dia meletakkan kembali baki di atas meja ruang tamu. Yunita mengikutinya masuk ke dalam rumah dengan wajah penuh amarah.
"Kalian ini memang tidak ada yang bisa membuat aku bangga, selalu saja membuat hidupku susah. Menyesal aku melahirkan anak-anak seperti kalian"
Tora yang sedang berada dikamar langsung keluar saat mendengar suara ibunya yang menggelegar.
"Ada apa Bu..?"
"Semua orang sekarang menganggap keluarga kita begitu hina. Gara-gara kamu hamil sebelum menikah"
Yunita menatap tajam pada Sasha dan gadis itu hanya terdiam tanpa suara. Tora mendekati ibunya dan menuntun wanita itu untuk duduk supaya tenang.
"Sudahlah Bu.. semuanya sudah terjadi,ibu mau marah juga percuma"
"Semua orang tidak ingin kakakmu tinggal disini. Karena mereka malu ada warga yang hamil diluar nikah. Kemana aku harus menitipkan anak tak berguna ini..?"
Tora ingin sekali menjawab,jika saja ibu dan kakaknya baik pada Sarah tidak mungkin semua ini terjadi. Tapi Tora tahu jika semua unek-unek di kepalanya di ungkapkan akan membuat ibunya semakin murka.
Walau bagaimanapun,dia tidak ingin ibunya sakit karena memikirkan semua masalah ini.
"Ibu jangan khawatir,nanti aku akan bertanya pada temanku"
Yunita sedikit bernafas lega setelah mendengar ucapan putranya yang sedikit menenangkan.
"Makanya lain kali berpikirlah sebelum bertindak"
Semua orang yang berada di ruangan itu menoleh ke arah pintu. Mereka mendapati Ivone sedang berdiri sembari melepaskan kacamata hitamnya..
__ADS_1