Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
Teka-teki


__ADS_3

Aku mengotak-atik ponsel mencari-cari di aplikasi biru untuk mencari nama Sasha tapi nihil. Tak ada nama Sasha muncul di pencarian aplikasi itu.


Sudah dua bulan ini, ibu juga tak menelpon ku bahkan transferan uangku selalu gagal tak terkirim. Berkali-kali pula aku menghubungi kedua nomor mereka tapi tak pernah tersambung.


Walaupun ibu sering menyakiti hatiku tapi aku tidak bisa diam begitu saja saat tak ada kabar darinya. Tak biasanya ibu seperti ini, meskipun ibu mencaci maki tetap saja ibu akan menanyakan uang padaku. Dua bulan ini uang untuk ibu tetap utuh di rekeningku.


Ingin bertanya tapi pada siapa, karena aku tau ketika bertanya pada orang lain akan ada beberapa kemungkinan. Mereka membantu atau mereka menggosip,aku tak tahan dengan semua itu.


Aku memejamkan mata berusaha mencari cara untuk mengetahui keadaan ibu dan adik-adikku. Aku kembali membuka kontak di ponsel dan mencari nomor telepon tante Tiara.


Tut...Tut...Tut....


Hanya nada panggil saja yang terdengar,tak ada tanda-tanda panggilan teleponku diangkat. Berkali-kali aku menelpon tapi tetap tak ada jawaban.


Aku semakin meringkuk di tempat tidur, kepalaku tiba-tiba pusing karena memikirkan keadaan ibu dan adik-adikku. Apakah ibu benar-benar membenciku karena aku menolak perjodohan itu??


Ponselku bergetar dan aku segera mengambilnya dari atas nakas. Nama tante Tiara tertulis disana.


"Assalamualaikum tante"


*Waalaikum salam nak...*


"Apa kabar tante, sehat kan?"


*Alhamdulillah sehat nak..maaf tadi tante sedang diluar rumah*


"Iya tan..gak apa-apa"


*Ada apa Sarah menelpon malam-malam begini*

__ADS_1


"Sarah hanya mau tanya kabar ibu tante.. soalnya nomor ibu dan Sasha tidak aktif"


*Ohh..tante kira ada apa nduk, mungkin ibumu sedang sibuk nduk*


"Iya.. mungkin tante, yasudah Sarah tutup dulu ya tante.."


*Iya nduk..nduk terimakasih ya nak kamu sudah membuat ibu dan adik-adikmu bahagia. Rumah kalian sekarang masih di renovasi tapi sudah kelihatan mewah*


"Rumah..."


*Hehehe kamu gak usah malu nduk..tante tau kamu bukan orang yang suka pamer., assalamualaikum...*


"Waalaikum salam.."


Panggilan telepon ditutup dan aku hanya bisa bengong dengan percakapan kami tadi. Tante Tiara membicarakan pembangunan rumah ibu, sedangkan dua bulan ini ibu tidak mengabariku apapun. Darimana ibu mendapatkan uang untuk renovasi rumah kami.


Drtttt....


Nada pesan masuk ke ponselku dan aku segera membukanya.


{Sudah tidur..?}


(Belum pak..ada apa?)


{Buka pagar}


Aku langsung loncat dari tempat tidur dan mengintip dari jendela rumah. Benar saja sebuah mobil sedang terparkir disana. Aku mengganti celanaku dengan celana tidur yang panjang sebelum keluar rumah.


Aku membuka pagar, pria itu sudah berdiri di depanku dengan membawa paper bag di kedua ditangannya.

__ADS_1


Dia melewatiku begitu saja dan langsung duduk di kursi kayu di teras rumah.


"Ambil sendok dan air dingin.."


Aku masuk kembali kedalam rumah untuk mengambil apa yang dia perintahkan. Walaupun hatiku kesal tapi entah mengapa aku tidak bisa menolak permintaannya.


Aku ikut duduk di depannya dan memperhatikan pria itu yang sedang mengeluarkan beberapa kotak makanan.


"Mami memasak semua ini untuk kita jadi tolong habiskan"


Aku hanya bisa menghela nafas mendengar ucapannya. Kenapa pria ini senang sekali datang tak di undang dan memaksa aku untuk menuruti semua ucapannya.


"Mulai sekarang kamu tidak boleh makan dengan pria manapun selain aku, tidak boleh menerima ajakan pacaran ataupun pernikahan dari orang lain... karena kamu sudah menjadi calon istriku..."


"Hah...sejak kapan..?"tanyaku kaget.


"Mulai hari ini sampai kamu mati..."


"Siapa tau bapak mati duluan.."ketusku.


"Dan arwahku akan terus mengikutimu.."ujarnya lagi.


Tiba-tiba aku merinding mendengar ucapannya. Mungkinkah pria di depanku ini seorang psikopat..


"Aku bukan psikopat..tapi aku pria yang ingin menikahimu.."


Sepertinya Panji Gumilang ini seorang dukun atau peramal yang bisa membaca pikiran.


"Bodo amat..."ucapku kesal.

__ADS_1


__ADS_2