
Panji menelpon Ivone dan meminta wanita paruh baya itu untuk menemui dirinya dan Sarah. Entah mengapa saat itu hatinya mengatakan bahwa sudah saatnya Sarah dan dunia tahu yang sebenarnya.
Setelah menunggu setengah jam akhirnya Dimas muncul di susul oleh Ivone. Keduanya begitu terkejut saat mengetahui mereka datang bersamaan.
Dimas yang tampak begitu tenang langsung duduk di kursi kayu yang berada di sana. Tapi tidak dengan Ivone, badannya lemas seperti tak bertulang.
Wanita itu bahkan tidak ingin duduk sama sekali, kalau bukan karena Sarah mungkin dia sudah berlari dari sana.
"Ayo mau pesan apa..?"
Sarah yang tidak mengetahui apapun tampak biasa saja dan terlihat begitu ceria.
"Aku spaghetti saja.."
"Tante mau pesan apa..?"
"Mami pesan es jeruk saja"
Walaupun Sarah terlihat bingung tapi dia tetap berusaha menikmati kebersamaan mereka.
"Ada apa ini pak Panji..?"
"Gak ada apa-apa, bukannya kamu tadi mau bicara dengan pacar saya..?"
"Iya..tapi tidak ramai-ramai begini"
"Jadi...kamu maunya berduaan saja dengan calon istri saya?"
Dimas menghela nafas dan berusaha untuk tidak marah di depan Sarah.
"Gak apa-apa Dim..kita bisa ngobrolin kerjaan sambil makan"
Sarah berusaha untuk membuat suasana menjadi biasa saja. Ivone tidak berhenti menatap ponselnya,dia terlihat begitu gelisah.
"Mi.. kenalkan ini Dimas,putra tante Rahayu"
Ivone membelalakkan matanya saat mendengar Panji mengatakan hal yang tak terduga.
"Ini tidak lucu nak.."
__ADS_1
"Memang Panji sedang tidak melawak Mi.."
Panji begitu tenang, walaupun raut wajahnya sudah berubah semenjak keduanya datang. Makanan sudah tersedia dan Sarah meminta semuanya untuk menikmati hidangan yang telah di sajikan.
Dimas makan dengan santai tanpa berbicara sepatah kata pun. Ivone menyeruput minumannya, walaupun terlihat tangannya bergetar saat memegang gelas.
"Apakah ada yang mau kamu sampaikan..?"
Panji menoleh pada Dimas dan menatap pada pria pemilik mata coklat itu.
"Tidak ada.. saya hanya ingin bicara dengan Sarah saja"
"Mih..ada yang mau mami sampaikan?"
"Lang.. berhentilah sebelum semuanya menjadi rumit"
"Tak ada yang rumit.. harusnya yang bersalah yang meminta maaf secara terbuka"
Tiba-tiba ucapan itu meluncur begitu saja dari mulut Dimas. Ivone dan Sarah kompak menoleh pada Dimas. Kedua perempuan itu begitu terkejut mendengar penuturan Dimas.
"Dimas.."
"Kamu siapa..berani sekali ikut campur obrolan kami"
"Saya anak yang di buang...anda dengar ucapan saya..?saya anak yang di buang"
Sarah benar-benar terkejut mendengar Dimas menjawab ucapan Ivone. Dia merasa ada yang tidak beres dengan mereka bertiga.
"Sarah... inilah kebenaran yang harus kamu ketahui"
Panji menggenggam tangan gadis cantik itu. Sarah yang belum mengerti hanya bisa menatap wajah kekasihnya.
"Lang.. mami tidak suka dengan tindakanmu"
Ivone segera menyambar tas yang ditaruhnya di atas meja.
"Mau kemana..? melarikan diri lagi..?"
Langkah Ivone berhenti dan tubuhnya kembali duduk di sebelah Dimas.
__ADS_1
"Apakah seumur hidup anda akan membiarkan dosa anda begitu saja..?"
"Siapa kamu sehingga berani mengatakan itu pada saya..?"
"Saya putra bungsu anda.. apakah anda amnesia,saya putra yang sudah anda buang.. apakah anda tidak ingin meminta maaf sekali saja dalam hidup anda. Sebelum saya atau anda pergi duluan untuk menghadap sang pencipta.."
Rasanya jantung Sarah akan copot dari tempatnya. Dia benar-benar terkejut mendengar penuturan Dimas. Walaupun pria itu mengatakan semuanya dengan tenang. Terlihat jelas ada luka disana.
Sarah meremas tangan Panji dan pria itu hanya bisa mengusap punggung tangan Sarah tanpa mengatakan apapun.
"Dengarkan saya baik-baik..kamu sudah bukan bagian dari hidup saya semenjak kamu saya lahirkan. Jadi jangan berharap sekarang kamu akan menjadi bagian dari hidup saya lagi"
"Hahahaha.... memang, inilah yang akan anda katakan. Ibu saya sudah mempersiapkan hati saya untuk kemungkinan terburuk ini"
"Sarah...Aku dan Dimas adalah saudara kandung,kami lahir dari ibu yang sama"
"Tidak...kalian berbeda,kalian hanya lahir dari rahimku tapi hanya Panji Gumilang yang akan menjadi anakku sampai aku mati nanti"
"Mami.. tolong berhentilah.."
"Ini benar-benar tidak lucu Lang..mami benar-benar kecewa sama kamu"
Ivone berlalu dari hadapan mereka bertiga, meninggalkan kekecewaan di hati kedua putranya. Sedangkan Sarah hanya bisa menatap sendu pada Dimas yang masih saja berpura-pura menikmati makanan yang tanpa dia sadari sudah tandas sedari tadi...
"Terimakasih karena anda sudah menunjukkan siapa sebenarnya wanita yang melahirkan saya itu. Walaupun begitu cepat tapi ini membuat saya lega"
Dimas bangun dari duduknya dan berpamitan pada Sarah.
"Dim..Dimas.."
Pria itu sama sekali tidak menoleh saat Sarah memanggilnya. Air matanya luruh begitu saja menghalangi pandangannya. Dia tidak ingin Sarah ataupun dunia mengetahui bahwa dirinya terluka.
"Pergilah,kejarlah Dimas.."
Tubuh Sarah tidak bergeming, rasanya dia ingin sekali mengejar pria itu tapi disini ada hati yang juga terluka.
Sarah memeluk tubuh Panji dan pria itupun meneteskan air mata..
"Aku akan tetap disini.."
__ADS_1