Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
Maaf


__ADS_3

Setelah jauh dari kantor Sarah,pria mancung itu segera memutar mobilnya untuk kembali. Dia sangat membenci dirinya saat ini, kenapa dia marah-marah yang tidak penting. Mobilnya melaju sangat cepat dan setelah tiba di parkiran dia pun melihat sekeliling,tak ada Sarah dimanapun.


Panji segera keluar dari mobilnya untuk menanyakan Sarah pada asistennya karena ponsel Sarah tidak bisa dihubungi.


Nihil.. gadis itu tidak ada di kantor, bahkan asisten Sarah menatap heran karena Panji menanyakan bos mereka, saat sudah ada konfirmasi kalau gadis cantik itu tidak akan masuk kantor.


Panji masuk kembali ke dalam mobilnya dan memukuli kemudi sampai tangannya terasa sakit. Berkali-kali dia menghubungi Sarah tapi ponsel gadis itu sepertinya mati total.


Pria itu segera mengemudikan mobilnya untuk segera menemukan Sarah. Rumah bergaya Jepang itu sangat sunyi. Mobil berwarna merah milik Sarah terparkir di depan rumah.


Panji menekan bel pintu berkali-kali, karena tidak sabar pria jangkung itu segera mengambil kunci cadangan dari dalam mobilnya. Pintu terbuka dan Panji segera menaiki tangga dengan tergesa-gesa.


Pintu kamar dibukanya tapi Sarah tidak ada disana. Kamar mandi tak luput dari perhatian pria tiga puluh tujuh tahun itu.


"Kemana kamu sayang...?"


Panji duduk di atas tempat tidur sembari mengusap wajahnya.


"Sarah pasti terluka.."


Setelah setengah jam dia hanya duduk tanpa berbuat apapun, aroma masakan menguar begitu harum tercium olehnya. Panji segera berlari menuruni tangga dan dia menuju ke dapur. Pria itu melihat Sarah sedang membelakanginya sambil mengaduk sesuatu di atas kompor.


"Sayang..."


Sarah menoleh sembari tersenyum. Dengan handuk yang masih melilit di kepalanya dia tersenyum tanpa mengatakan apapun.


"Maafkan aku"

__ADS_1


Panji memeluk tubuh gadis itu dari belakang. Sarah hanya diam tak bersuara. Panji memutar tubuh gadis itu menghadap ke arahnya.


"Sayang..pukul aku atau katakan sesuatu supaya aku lega"


Sarah masih terdiam menatap wajah Panji dengan lekat. Tiba-tiba air matanya mengalir begitu saja dan itu membuat Panji semakin merasa bersalah.


"Maafkan aku... tolong maafkan aku"


Panji mengusap air mata di kedua mata indah kekasihnya.


"Katakan sesuatu atau kamu bisa meneriakiku. Atau kamu bisa menyiramkan makanan itu di wajahku"


"Tolong lepaskan aku.."


"Kamu jangan bicara seperti itu..aku memang salah tapi tolong jangan bicara seperti itu"


Panji segera melepaskan tangannya yang masih menggenggam erat kedua tangan Sarah.


"Duduklah.. biar aku siapkan makanan"


Panji duduk tanpa berkomentar apapun, dia menuruti semua ucapan Sarah dan itu sangat menggemaskan.


Sarah menyajikan steak daging sapi lengkap dengan sup jagung dicampur daging kepiting di dalamnya.


"Tadi aku pulang,kamu tidak ada dirumah"


"Aku mandi dikamar tamu, ketiduran"

__ADS_1


"Sarah... Mas minta maaf"


"Iya mas...gak apa-apa,aku yang harusnya minta maaf karena sudah membuat hidup kamu serumit ini"


"Kamu jangan bicara seperti itu,aku semakin merasa bersalah"


"Hmmm"


Sarah mengerucutkan bibirnya dan melanjutkan suapan ke dalam mulutnya. Mata Sarah yang masih bengkak membuat Panji kembali menatap wajah gadis itu.


"Kenapa.. makanannya gak enak..?"


"Maaf..kamu pasti tadi menangis karena aku"


"Gak papa... sekali-kali kamu bikin aku nangis,biar aku sadar aku masih tinggal di bumi"


Panji hanya tersenyum mendengarnya,dari sorot matanya gadis itu begitu terluka. Tapi entah mengapa gadis itu begitu cepat memberikannya maaf...


Kedua tangan Sarah di raihnya dan di genggamnya.


"Aku lapar mas..."


"Terimakasih sudah mau bertahan dengan sikapku yang seperti ini"


"Aku juga mau berterima kasih karena mau dengan gadis broken home ini"


Keduanya tertawa bersamaan, setelah dewasa rasanya tidak elok harus bertengkar hanya karena ego sesaat..

__ADS_1


__ADS_2