
Minggu pagi aku sudah bersiap untuk joging seperti biasa. Rasanya pagi ini bibirku tak berhenti tersenyum. Entah mengapa semua beban di kepala rasanya menghilang begitu saja.
Tok tok tok
Pintu rumah di ketuk seseorang, entah siapa yang datang sepagi ini. Dengan malas aku membuka pintu dan alangkah terkejutnya aku saat membuka pintu. Ibu dan Sasha sudah berdiri disana.
"I..ibu..."ucapku tergagap.
Tanpa kuminta mereka sudah masuk begitu saja meninggalkan aku yang masih sedikit terkejut.
"Kecil banget kontrakan kamu,ibu gak akan betah"
"Sasha laper Bu.."
"Kamu ngapain sih masih berdiri disana,gak sopan banget"ucap ibuku lagi.
Aku mendekati ibu dan Sasha mencoba menetralkan jantung yang masih berdetak cepat.
"Tumben ibu kemari.."ucapku sambil tersenyum.
"Kenapa..kamu gak suka?"
__ADS_1
"Enggak bu..Sarah hanya kaget saja"
"Banyak tanya deh kakak ini..aku laper tau"repet Sasha.
Aku beranjak ke dapur dan memasak air untuk membuat teh dan dua mie instan. Senyum yang tadi tersungging di bibirku telah hilang entah kemana. Apa yang mereka lakukan sehingga tiba-tiba saja datang kemari.
"Ibu kemari ingin mengajak kamu pulang"
"Ada apa Bu.."tanyaku.
"Ibu sudah menerima lamaran haji zaenal,ibu harap kamu menurut keinginan ibu"
Aku melotot tak percaya dengan apa yang ibu katakan. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba ibu memintaku untuk menikah dengan pria yang harusnya menjadi ayah atau kakekku. Aku bergidik di buatnya.
Ibu membanting sendok yang sedang di pegangnya. Raut wajahnya berubah tidak seperti saat pertama kali datang.
"Kamu kira kamu siapa bisa membantah ucapanku..aku yang melahirkan kamu,aku yang bertaruh nyawa untuk kamu.Tega sekali kamu menyakiti hatiku"
"Ibu...coba ibu kasih alasan satu saja apa yang membuat ibu tega ingin menikahkan Sarah dengan beliau.."ucapku lembut.
"Karena ibu capek hidup susah,ibu capek hidup miskin.."ucapnya sambil menangis.
__ADS_1
"Bu...Sarah kan kerja, sebentar lagi Sasha juga lulus. Kita berdua akan membantu perekonomian keluarga "ucapku penuh harap.
"Dih...jangan bawa-bawa gue ya,gue masih mau kuliah. Bukan jadi babu atau kacung macam kakak "ujar Sasha menimpali.
Darahku seperti mendidih mendengar ucapan Sasha. Mengapa dia tidak membelaku sama sekali bahkan dia seolah-olah setuju dengan apa yang ibu lakukan padaku.
"Kamu pikir gajimu cukup untuk hidup kami bertiga..? Daripada kamu capek-capek kerja lebih baik kamu menikah Sarah "
"Enggak bu..Sarah minta maaf, Sarah benar-benar menolak "
Plakkkkkkk
Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.Rasa kaget dan sakit bercampur menjadi satu. Aku tidak menyangka ibu setega itu padaku,demi memuaskan nafsunya sendiri ibu rela menyakiti hatiku.
"Anak tidak tahu diri.. semestinya aku tidak melahirkanmu, harusnya kau mati dengan ayahmu"
Aku hanya bisa terdiam mendengar sumpah serapah ibu. Rasanya sakit sekali tapi sakit itu tak bisa ku gambarkan.
"Aku bersumpah selama aku masih hidup,kamu gak akan bahagia"
Ibu berdiri dan keluar dari rumah di ikuti Sasha di belakangnya. Sebelum keluar dari pagar ibu membalikkan badannya dan menatap tajam padaku sembari berteriak.
__ADS_1
"Kamu anak durhaka..kamu akan hidup sendirian tanpa siapapun di sampingmu"
Sasha meludah dan menggandeng tangan ibu meninggalkan rumah. Hatiku berdenyut sakit,air mata mengalir semakin deras. Sampai aku tak sadar ada seseorang melangkah masuk ke dalam rumah.