
"Hah...dia putri pertama nyonya Yunita..?"
"Iya bos"
"Seperti ada yang ganjil disini"
"Yang penting kita dapat uang bos, masalah betul atau tidak itu urusan belakangan"
"Hey... pengacara seperti kamu ini yang akan membuat orang-orang tidak percaya lagi pada yang lain"
"Iya..maaf bos"
Pria itu tersenyum malu-malu karena ucapan Yoga langsung mengenai sasaran. Pria bernama Geri itu meninggalkan ruangan Yoga setelah mengatakan beberapa informasi penting tentang Sarah.
"Cantik sekali"
Foto-foto yang di ambil Geri betul-betul candid yang sangat bagus. Yoga tersenyum sembari mengusap foto-foto itu.
"Siapapun kamu...aku pasti akan membuatmu bertekuk lutut"
Yoga meminta Geri untuk mengosongkan jadwalnya hari ini. Karena dia akan menuju cafe yang hari ini didatangi Sarah. Asistennya itu hanya bisa menggelengkan kepala karena dia tahu saat bos besarnya itu menginginkan sesuatu. Segala cara pasti akan di tempuhnya, apalagi seorang perempuan. Tak ada yang bisa menolak pesona lelaki tiga puluh lima tahun itu.
Pria perlente itu menatap satu persatu pengunjung cafe itu,tapi tidak ditemukan Sarah di manapun. Dia sudah sangat kesal dengan informasi yang ternyata hanya hoax belaka. Baru saja dia akan meninggalkan meja nya seorang perempuan cantik berambut lebat memasuki cafe dengan berkas di tangannya.
"Bu Sarah..."
Seseorang melambaikan tangan pada gadis itu, perempuan cantik yang sedari tadi duduk tak jauh dari Yoga berada.
Yoga kembali duduk dan meminta minuman lagi pada pelayan. Entah mengapa jantungnya berdetak tak beraturan.
"Hey santai bro"
Dia membisikkan kata-kata itu untuk dirinya sendiri. Bermacam pertanyaan berkelebat di benaknya tapi satu yang paling dia inginkan, segera mengencani gadis cantik itu.
Tak lama seorang pria dan wanita duduk bersama keduanya. Yoga yakin keduanya adalah klien Sarah, karena mereka begitu tenang saat berbincang.
__ADS_1
Empat gelas di meja sudah mewakili betapa lamanya pria itu duduk disana. Sampai pada akhirnya dia memesan makanan untuknya karena rasa lapar yang datang menghampiri.
Setelah kedua klien itu pergi Yoga segera mengambil kesempatan untuk mendekati Sarah.
"Permisi..."
Sarah dan temannya menatap Yoga dengan heran.
"Iya..ada apa mas..?"
"Boleh saya pinjam.."
"Maaf mas...kami tidak merokok"
"Oh...maaf,saya pikir pria tadi.."
"O,iya itu klien kami mas.. sudah pulang"
Hanya temannya yang menjawab sedangkan Sarah hanya tersenyum sekilas sembari membuka satu persatu berkas di depannya.
"Iya Ra... hati-hati di jalan"
Perempuan itu beranjak pergi meninggalkan Sarah yang masih sibuk dengan dirinya sendiri.
"Sarah..."
Sarah mengangkat wajahnya dan kembali menatap Yoga dengan penuh rasa heran.
"Mas kenal saya..?"
"Siapa yang tidak kenal Sarah Ayunda, pengusaha muda yang semakin sukses"
"Terimakasih...ada apa ya mas..."
"Saya Yoga...Yoga Pratama"
__ADS_1
Yoga mengulurkan tangannya dan disambut baik oleh Sarah.
"Boleh saya duduk disini..?"
"Silahkan"
"Ada yang mau saya tanyakan..apa hari ini kamu ada waktu..?"
"Tentang apa ya mas...?"
"Tentang Nyonya Yunita dan Sasha"
Mata sarah membulat sempurna mendengar kedua nama itu disebut.
"Anda...?"
"Saya pengacara yang diminta untuk membantu ibu dan saudara anda"
Sarah mengehentikan kegiatannya,dia menaruh kedua tangannya di atas meja.
"Saya tidak ada kaitannya dengan masalah mereka,jadi anda salah orang"
"Saya hanya ingin tahu kebenarannya"
"Kebenarannya adalah tidak ada yang terjadi antara Panji Gumilang dengan Sasha"
"Apakah karena anda kekasih Panji Gumilang sehingga anda menutupi semuanya"
Sarah tersenyum dan menatap lekat kedua mata Yoga.
"Anda akan bawa kemana saja kasus ini,Panji Gumilang tetap tidak bersalah"
Yoga berdebar di tatap sedemikian rupa oleh gadis cantik itu, sehingga dia tidak bereaksi apapun ketika Sarah menjelaskan panjang lebar tentang kasus yang sedang Yoga tangani.
"Mengapa pesona gadis ini begitu kuat, sepertinya aku jatuh cinta"
__ADS_1