
Sasha membuka matanya perlahan. Dia melihat sekeliling hanya ruangan serba putih yang terlihat.
"Kakak sudah bangun...?"
Sasha mencoba untuk duduk tapi rasa nyeri menjalar di tubuhnya.
"Pelan-pelan saja kak.."
"Mana bayiku...?"
"Ada.. sebentar aku panggilkan suster dulu"
Tora meninggalkan Sasha yang masih meringis menahan sakit. Tak lama kemudian dua orang suster dan seorang dokter perempuan masuk sembari tersenyum ke arah Sasha.
"Bagaimana Bu..."
"Rasanya nyeri sekali dokter"
"Iya..itu prosesnya memang,tapi harus belajar untuk bangun dan berjalan ya"
Dokter memeriksa beberapa catatan yang diberikan oleh suster dan segera meninggalkan ruangan setelah memberikan sedikit wejangan pada Sasha.
Tok tok tok
Seorang suster masuk kembali sembari mendorong tubuh mungil yang diletakkan didalam box bayi.
Tubuh mungil itu di angkat dan diletakkan perlahan di samping Sasha. Tanpa disadari olehnya air mata mengalir begitu saja dari kedua matanya.
Suster kembali keluar dari ruangan setelah memberi tahu Sasha posisi untuk menyusui bayi mungil itu.
Bayi merah itu menggeliat dan bibirnya yang merah tersenyum walaupun matanya masih terpejam.
Tora memalingkan wajahnya saat menatap kedua perempuan di atas ranjang itu. Dia mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Aku keluar dulu"
"Tora..bisa pinjaman aku ponselmu"
__ADS_1
"Ibu sebentar lagi pasti kesini.."
"Aku mau menelpon kakak"
Tora mengambil ponselnya dari saku celana dan memberikannya pada Sasha. Gadis itu menekan tombol panggil saat nama Sarah sudah di temukan.
Nada panggil terdengar beberapa kali,namun Sasha masih menunggu dengan sabar.
"Kakak"
Wajah Sarah terlihat di layar,dia masih menggunakan handuk di rambutnya.
"Kakak...ini anakmu sudah lahir"
Sarah hanya mematung menatap wajah mungil itu.
"Dia perempuan..dia cantik"
"Apa kamu sehat..?"
Tangis Sasha pecah begitu saja, Tora yang ada di depan pintu kembali meneteskan air mata saat mendengar tangisan kakak keduanya itu.
"Maafkan semuanya.. maafkan semua kesalahanku, maafkan aku kak.."
"Sudahlah...kamu jangan menangis,anggap semua yang terjadi sebagai pelajaran untuk kita semua"
"Kakak... apakah kakak tidak ingin melihatku dan anak kakak ini..?"
"Itu anakmu Sasha.. berhentilah untuk terus mengatakan itu anakku"
"Tidak kak...ini anakmu,saat akan melahirkan aku meminta pada Tuhan supaya anak ini lahir dengan sehat dan sempurna dan aku berjanji akan memberikannya pada orang yang benar-benar bisa mencintainya"
"Sasha..."
"Aku mohon rawat bayi ini supaya dia bisa menjadi manusia yang mempunyai hati malaikat seperti kakak"
"Sudah...kamu jangan menangis lagi,nanti aku akan kesana. Sekarang kamu istirahat dan jangan lupa makan"
__ADS_1
Sasha mengangguk dan tersenyum saat Sarah mengatakan akan mengunjungi mereka secepatnya. Gadis itu mematikan panggilan telepon dengan hati lega. Dia seperti orang yang baru saja meminta pengampunan pada orang yang sudah terlalu sering disakiti olehnya.
"Hey...kamu memang lahir dari rahimku..tapi kamu akan hidup dengan banyak cinta dari kakakku.."
Bayi perempuan itu kembali menggeliat dan tersenyum seperti mengerti apa yang ibunya bicarakan.
Pintu terbuka dan Yunita masuk bersama Tora dengan raut wajah yang tidak enak di pandang.
"Kamu gak usah menyusui bayi itu"
"Kenapa Bu"
"Sebentar lagi akan ada orang yang datang mengambilnya"
"Ibu.."
Tora menatap tajam pada ibunya.
"Aku hanya ingin kakakmu bisa melanjutkan hidupnya"
"Tapi tidak dengan memberikan bayi yang tidak berdosa ini Bu"
"Sudahlah..anak kecil tau apa.."
"Benar kata Tora Bu...aku tidak akan memberikannya pada siapapun"
"Apa maksudmu..kamu mau membawanya kerumah..?aku tidak setuju"
"Tidak...bayi ini akan dibawa oleh ibunya"
Yunita menatap putrinya karena dia tidak mengerti ucapan gadis itu. Tora hanya diam saja tanpa mengatakan apapun lagi.
"Ini bayiku..aku yang mengandungnya,jadi aku yang berhak untuk memberikannya pada siapapun"
"Aku tidak perduli..yang penting bayi itu tidak dibawa masuk kedalam rumah kita"
Sasha memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan mata ibunya. Dia tidak ingin ibunya melihat dia menangis, karena jujur dihatinya yang paling dalam dia sudah jatuh hati pada bayi mungil itu.
__ADS_1