Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
Bingung


__ADS_3

"Maaf..."ucapku lirih.


"Apa yang harus di maafkan?"


"Saya belum ingin menikah pak.."


Pria itu hanya tersenyum sembari melanjutkan suapan demi suapan ke dalam mulutnya.


"Makanlah,jangan terlalu banyak berfikir"


Aku kehilangan nafsu makanku,hari ini aku menolak dua orang. Bukan..bukan aku sok cantik tapi aku tidak ingin mengajak orang lain masuk kedalam hidupku yang rumit.


"Kamu punya pacar..?"


Aku menggelengkan kepalaku tanpa menoleh padanya.


"Apa alasanmu menolak ajakanku menikah..?"


"Kita belum mengenal satu sama lain"


"Kita bisa pacaran setelah menikah.."ujarnya lagi.


Aku hanya bisa diam tanpa berniat untuk mendebat ucapannya.


"Aku anak satu-satunya, keluargaku hanya tinggal ibu saja itupun jarang sekali bertemu karena kesibukanku"


Dia menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Beberapa bulan ini beliau sibuk memintaku untuk menikah karena takut aku menua tanpa seorang teman.. jujur seumur hidup baru sekali ini saya mengajak seorang perempuan menikah, itupun di tolak.."kekehnya.


Aku mendengarkan semua yang dia ucapkan rasanya aku hatiku semakin nyeri saja.


"Bapak bisa cari perempuan yang lebih baik dari saya.."


"Tapi saya pengennya kamu yang jadi istri saya"


"Kenapa..?"tanyaku lagi.


"Entahlah..tapi saya yakin kamu yang paling tepat"


Setelah lama saling berdiam diri panji bangun dan menuju kasir untuk membayar semua pesanan makanan kami.


Dia mengulurkan tangannya untuk ku genggam,aku pun menurut saja karena kupikir tak ada salahnya.


Mobil melaju dengan cepat membelah jalanan malam yang sedikit lengang. Aku tak tahu dia akan membawaku kemana tapi aku tidak protes sama sekali,heran.


Dia mengajakku turun dan kamipun masuk dengan bergenggaman tangan.


Pintu rumah terbuka lebar dan seorang perempuan cantik muncul sembari tersenyum pada kami.


"Mimpi apa mami malam ini?.."ucapnya sembari memeluk pria di sampingku.


Aku berusaha keras untuk tidak pingsan karena ternyata aku langsung dibawa menemui ibunya.


Wanita cantik itu mengalihkan pandangannya padaku. Aku hendak mencium tangannya tapi dia lebih dulu memelukku erat.

__ADS_1


"Ayo duduk..."ajaknya sembari menarik tanganku.


"Nginep ya Lang..." sahutnya lagi.


Panji hanya mengangkat bahu dan pergi begitu saja dari hadapan kami. Rasanya aku ingin menghilang saja dari muka bumi ini karena ditinggalkan berdua saja dengan orang yang baru kutemui.


"Terimakasih Ayu mau menyempatkan waktu untuk menemui mami.."


Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya,pria kulkas itu ternyata sudah memprovokasi ibunya untuk memanggil namaku dengan sebutan Ayu..


"Maafkan sikap Gilang yang cuek dan menyebalkan "kekehnya.


"Gilang...?"sahutku lirih.


Ibunya tertawa mendengarnya.


"Iya...mami biasa memanggilnya Gilang..itu panggilan sayang"


Panji kembali di ikuti seorang maid dibelakangnya dengan membawa nampan berisi minuman dan cemilan.


"Loh..mami lupa Lang.."kekehnya lagi.


Panji dan aku hanya mendengarkan celotehan ibunya. Beliau menceritakan semua hal dan senyum tak pernah lepas dari bibirnya.


"Kalau nak Ayu belum mau menikah,mami gak apa-apa yang penting kalian akur terus"


Aku sangat heran, sepertinya semua hal tentangku sudah di ketahui oleh wanita cantik ini.

__ADS_1


Bahkan dia menyinggung tentang bagaimana seorang anak harus tetap menghormati orang tua walaupun tidak di perlakukan layaknya seorang anak.


Apa sebenarnya yang terjadi..akupun bingung dibuatnya.


__ADS_2