Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
Sasha


__ADS_3

Sarah tengah asik menikmati makan siangnya bersama Sasha. Walau bagaimanapun dia harus tetap menemani adik perempuannya itu. Masakan khas kampung halaman tersedia di meja makan. Sarah sengaja memasak untuk mereka berdua karena dia tidak ingin Sasha terlalu sering keluar rumah.


"Kakak.."


"Hmm"


"Kapan aku bekerja..?"


Sarah terdiam dan menunda suapannya.


"Nanti setelah kamu melahirkan"


"Aku bosan selalu dirumah"


"Kamu mau dibelikan apa supaya tidak bosan..?"


"Nikahkan saja aku dengan anak nyonya Ivone "


Sarah tidak siap untuk jawaban sasha sehingga tanpa sadar dia menjatuhkan sendok yang dipegangnya.


"Hah..?"


"Aku ingin menikah saja "


"Tapi kamu masih hamil Sha.."


"Kami hanya akan menikah,bukan berhubungan suami istri "


"Memangnya kamu kenal anaknya nyonya Ivone?"


Sasha menggelengkan kepalanya dan melanjutkan suapan ke dalam mulutnya.


"Kakak kan bisa mengenalkanku padanya"


Sarah diam saja tanpa mengatakan apapun.Jujur dia sangat kesal saat ini tapi Sarah tidak ingin menunjukkannya didepan sasha.


"Makanlah dan jangan banyak tingkah, nanti kamu menyesal "


Sasha memilih untuk berpura-pura tidak mendengar ucapan kakaknya itu.


Ponsel Sarah berbunyi dan perempuan cantik itu segera menghentikan suapannya. Dia tersenyum saat melihat nama kekasih di layar ponselnya.

__ADS_1


"Hmm.."


"Dimana..?"


"Makan"


"Aku jemput?"


"Gak usah,nanti kita ketemu dirumah saja"


"Rumahku..?"


"Boleh"


Ponsel disimpan kembali oleh Sarah setelah sang empunya penelpon mengakhiri panggilan. Wajah Sarah berubah ceria setelah mendengar suara kekasihnya.


"Siapa..?"


"Hah..."


"Telepon dari siapa..?"


"Apa salahnya jika aku tau?"


"Salah.. karena itu melampaui batas"


Sarah beranjak dari duduknya dan segera meninggalkan Sasha yang tersulut emosi.


"Kakak hanya ingin bahagia sendiri.."


Sarah menghentikan langkahnya dan berusaha untuk tidak terpengaruh dengan ucapan adik perempuannya.


"Kalau aku hanya ingin bahagia sendiri,aku tidak akan menampungmu disini"


Mata sasha membulat sempurna mendengar ucapan Sarah. Dia benar-benar merasa tersinggung dengan kata-kata yang Sarah ucapkan.


"Menampung..? Kakak bilang menampung..?"


"Iya.. kenapa kamu marah..?"


"Aku adikmu bukan pengemis yang butuh tampungan"

__ADS_1


"Hahaha sudahlah Sasha, hentikan ocehanmu nanti kamu sakit hati"


Sarah memutar anak kunci dan berniat untuk segera meninggalkan rumah itu.


"Aku pikir kakak berubah,aku pikir kakak tulus membantuku"


Sarah mengernyitkan keningnya dan kembali memutar tubuhnya untuk menatap adik perempuannya.


"Aku yang harus berubah...? memangnya aku kenapa..? bukankah kamu yang harusnya berubah"


"Cihhh..."


Sasha tersenyum mengejek.


"Harusnya kamu yang berubah,jangan masih seperti dulu,seperti ular bermuka dua"


"Aku akan pergi setelah melahirkan bayi sialan ini dan aku berjanji tidak akan lagi muncul dihadapanmu"


"Kamu masih membutuhkanku jadi diamlah..Dan Simpanlah kata-kata itu untuk beberapa bulan lagi"


Sarah tersenyum sinis dan segera keluar dari rumah. Sedangkan Sasha merasa kesal dan berteriak seperti kerasukan.


"Dia pikir dia siapa.."


Sasha termenung sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia segera mengambil ponselnya dan mencari nomor telepon seseorang.


Nada dering terdengar beberapa kali tapi tak ada jawaban sama sekali. Sasha mendengus kesal dan kembali menelpon nomor yang sama.


"Sayang.."


"Cepat datang kemari,aku butuh bantuan"


"Jangan menjebak ku"


"Untuk apa..?kamu tidak punya uang untuk menghidupiku"


"Katakan dimana alamatmu"


Sasha segera mengatakan alamat rumahnya pada pria di seberang sana. Setelah berbasa-basi sebentar panggilan itu pun di akhiri dengan senyum tersungging di bibir gadis belia itu.


"Kamu yang memulai genderang perang jadi jangan salahkan aku..."

__ADS_1


__ADS_2