
Pagi-pagi sekali Panji sudah duduk di teras rumah Sarah. Dia begitu tampan dengan baju batik berwarna hitam bercorak tokoh pewayangan berwarna gold.
Beberapa kali dia menutup mulutnya karena rasa kantuk yang mendera.
"Sayang...ini sudah jam berapa..?"
Tak ada sahutan karena kata-kata itu hanya terdengar seperti gumaman saja. Karena dia tahu kalau perempuan sudah berhias,jangan pernah di ganggu.
"Aku sudah siap.."
Panji kembali menguap dan menoleh ke asal suara.
"Sudah sayang...?"
"Kenapa mas...?marah?"
"Gak kok sayang...ayo kita berangkat"
Sarah tertawa melihat tingkah Panji yang menahan diri untuk tidak mengomel. Mereka bergandengan tangan menuju mobil dan dengan sigap pria jangkung itu membukakan pintu mobil untukku kekasihnya.
"Sudah tanya dimana lokasinya..?"
"Sudah.."
Panji pun segera mengemudikan mobilnya supaya tidak terjebak macet. Karena tempat yang di berikan oleh Dimas adalah tempat yang sangat private.
"Jauh tak sayang..?"
"Lumayan.."
"Kamu deg-degan gak?"
"Gak tuh,aku cool gini..gak lihat..?"
"Iya sih yang paling cool"
Mereka berdua tertawa bersama, mentertawakan ucapan mereka sendiri. Mobil melaju dengan kecepatan sedang,tak henti mereka mengobrol dari satu topik ke topik yang lainnya.
"Kamu bawa baju ganti gak..?"
"Di mobil kamu kan ada baju aku"
"Apa iya..."
"Apa sih..?"
"Sebel banget ya kalau lagi ngomong serius dijawab begitu"
__ADS_1
Sarah mencubit pinggang pria di sampingnya. Mereka kembali tertawa seperti tak ada beban, padahal di hati mereka sama-sama memiliki ketakutan tersendiri.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit,mobil berwarna putih itu pun berhenti di sebuah parkiran yang masih lengang.
"Gimana makeup aku..?masih bagus kan?"
"Hu'um"
"Sayang..."
"Apa sayang..?"
"Lihat aku dulu..make up aku nih di wajah"
Panji nyengir kuda menahan gemas karena gadis itu tahu sedang tidak di perhatikan.
"Iyaaa...masih bagus, masih cantik"
"Gombal.."
Panji merapikan bajunya dan melihat sekilas di kaca spion untuk melihat rambutnya. Sarah begitu cantik dengan kebaya berwarna senada di ikuti Panji yang terlihat sangat gagah. Mereka berdua turun dari mobil dengan perasaan yang campur aduk.
Dimas yang melihat mereka berdua memasuki ruangan,segera menghampiri. Karena memang sejak pagi dia sudah menantikan kehadiran keduanya.
"Selamat ya Dim..."
Sarah memeluk tubuh Dimas dan itu membuat Dimas sedikit gugup. Karena dia tidak menyangka Sarah akan memeluknya didepan Panji.
"Terimakasih pak.."
Mereka berdua berjabat tangan dan tanpa di duga Dimas memeluk Panji dengan erat.
"Terimakasih sudah hadir disini..."
"Aku yang harusnya berterima kasih karena kamu sudah mengundang kami"
"Ayo ku kenalkan pada tunanganku"
Mereka bertiga beriringan menghampiri seorang gadis yang begitu cantik. Senyumnya yang manis dengan lesung pipi di kedua pipinya.
"Sayang...ini.."
"Saya kakak dan ini kakak ipar kamu"
Dimas melotot mendengar ucapan Panji,dia tidak menyangka Panji akan mengatakan itu di hadapan kekasihnya.
"Halo kakak...saya Reina, terima kasih sudah datang kemari"
__ADS_1
Sarah segera memeluk tubuh gadis cantik itu, mereka saling memuji satu sama lain.
"Nak Panji sudah sampai.."
Mereka serempak menoleh dan terlihat Rahayu sedang tersenyum sangat cantik di atas kursi roda.
"Apa kabar Bu...?"
Panji menghampiri dan mencium tangan wanita paruh baya itu. Sarah diminta untuk mendekat oleh Panji dan Rahayu segera memeluk gadis itu.
"Cantik.."
Rahayu melihat wajah Sarah lekat,lalu dia menoleh sekilas pada Dimas.
"Ayo kita masuk.. acara akan segera di mulai"
Mereka beriringan memasuki sebuah ruangan yang lebih besar lagi. Dimas dengan wajah sumringah mendorong kursi roda milik Rahayu.
MC segera memberitahu seluruh tamu untuk segera memasuki ruangan. Tanpa diberi aba-aba semua tamu masuk dan keheningan tercipta. Sebelum memulai acara pria yang memakai kemeja berwarna maroon itu bertanya pada Dimas. Apakah ada yang masih di tunggu.
Dimas menatap pintu yang tertutup dengan wajah sendu. Dia pun segera menggelengkan kepalanya dan meminta pembawa acara untuk melanjutkan susunan acara.
Saat pembawa acara sedang sibuk berbicara panjang lebar, pintu terbuka dan wanita cantik berkebaya tosca memasuki ruangan. Tak ada yang memperhatikan karena mereka sedang mendengarkan pembawa acara di depan.
Kecuali satu orang,Rahayu. Wanita itu tersenyum dan meminta pembawa acara memanggil wanita paruh baya itu.
"Ibu Ivone, silahkan kedepan untuk menyerahkan cincin pada calon menantu"
Seluruh mata menoleh kebelakang termasuk Panji dan Sarah. Dimas yang sedang menunduk begitu terkejut dan segera berdiri dari kursinya.
Ivone segera melangkahkan kakinya dan Dimas sedikit berlari untuk menuntun ibunya.
"Terimakasih sudah hadir..."
Dimas berbicara lirih dan Ivone hanya tersenyum menggamit tangan pria itu.
Ivone dan Rahayu menyerahkan cincin pada orang tua Reina. Mereka saling memakaikan di tangan kedua pasangan yang sedang bahagia itu.
Rangkaian acara telah selesai di lakukan. Semua tamu di minta untuk mencicipi makanan yang sudah di sediakan di luar.
"Mami..."
Panji memeluk Ivone bergantian dengan Sarah.
"Jangan cerita sekarang.. nanti mami menangis,gak enak sama besan"
"Siap..."
__ADS_1
Mereka tertawa bersama. Di kejauhan Dimas memeluk tubuh Rahayu dan menangis di pelukan ibunya.
"Kamu tahu sekarang..Tuhan itu mboten sare"