Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
Bukan ibu rumah tangga biasa


__ADS_3

Ivone hanya tersenyum melihat anak semata wayangnya pulang dengan raut wajah yang sangat kusut. Dia duduk di sofa dengan memejamkan mata dan satu tangannya disimpan di atas kening.


"Ada apa Lang..?"


Panji membuka matanya dan menatap ibunya tanpa berkedip.


"Apakah Sarah akan pergi begitu saja..?"


Ivone hanya tertawa mendengar putra semata wayangnya itu yang terdengar cemas. Dia memanggil maid untuk membawakan minuman hangat dan juga meminta untuk menyiapkan makan malam.


"Sarah hanya pulang kerumah orang tuanya..jadi kamu jangan berlebihan.."


"Hah...."


Panji langsung duduk dengan tegak saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut wanita kesayangannya itu.


"Mami tau dari mana..?"


Ivone hanya mengibaskan sebelah tangannya tanda dia tak setuju dengan pertanyaan itu.


"Kasian Sarah kalau kamu mengikatnya seperti itu.. bebaskan dia, supaya dia tidak merasa terbebani dan dia akan jujur tanpa dipaksa.."


"Ck...mami gak tau sih.."ucapnya kesal.


"Apa yang mami gak tau..?"

__ADS_1


Panji hanya memijit pelipisnya tanpa menjawab pertanyaan ibunya.


"Udah...makan dulu sana,abis itu istirahat. Kamu cukup percaya sama mami.."


Dengan langkah gontai Panji meninggalkan ibunya menuju ruang makan. Ivone hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku bayi besarnya itu.


Ivone kembali ke ruang kerjanya dan mengambil berkas yang sangat tebal. Di atasnya tercantum nama Sarah Ayunda. Dia membuka kembali tali yang melilit di atas kertas itu.


Foto-foto Sarah ada disana, dengan siapa saja dia pergi dan berteman. Semuanya tak luput dari jepretan kamera anak buah Ivone.


Ivone membaca lagi biodata dan profil calon menantunya itu. Ada nyeri dihatinya saat dia tahu gadis manis itu tak beruntung dalam hidupnya. Bahkan orang yang harusnya menjaga dan melindunginya selalu bersikap buruk padanya.


Panji adalah sosok lelaki yang pendiam, terkesan dingin dan angkuh. Sedangkan Sarah dia gadis periang, selalu ceria dan sedikit cerewet. Wanita paruh baya itu hanya tersenyum memikirkan betapa cocoknya kedua pasangan itu.


Hanya satu ganjalan dihati Ivone, dia hanya takut Sarah tidak akan mau menikah dengan putranya karena sepertinya gadis itu menyukai pria lain.


Ivone memasukkan kembali berkas itu ke dalam brankas miliknya.


"Masuk Lang.."


Panji masuk membawa dua gelas kopi ditangannya.


"Bagaimana mami bisa tahu itu aku..?"


"Karena kamu anak mami.."kekeh Ivone.

__ADS_1


"Sudah makan..?"


Panji mengangguk sembari menyeruput kopi miliknya.


Ibu dan anak itu berbincang sampai larut malam. Banyak topik yang mereka bahas dari mulai berita kriminal sampai naik turunnya saham.


"Panji gak nginep ya mam.."


"Loh.. kenapa..?ini sudah malam Lang.."


"Besok pagi ada meeting.. nanti kesiangan "


Ivone hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tidak bisa memaksa Panji untuk tidur disana karena jarak rumahnya dengan kantor sangat jauh. Beruntung setelah mengenal Sarah, Panji kembali rutin mengunjunginya.


"Bawa makanan ya.. untuk besok dimakan saat sarapan"


"Gak usah mih..Sarah gak ada"


Ivone menepuk bahu putranya itu. Dia sangat gemas melihat Panji seperti anak kecil yang sedang kehilangan mainannya.


"Dari tadi hanya nama Sarah yang mami dengar.."


Panji tersenyum dan wajahnya memerah saat ibunya mengatakan itu.


"Jangan mencintai terlalu berlebih-lebihan.."

__ADS_1


"Karena berlebihan itu gak baik.."ucap keduanya kompak.


Ivone tertawa dan langsung memeluk Panji. Dia menepuk-nepuk punggung putranya itu. Dia tahu begitu panjang proses yang dilewati Panji hingga sampai dimana dia akhirnya mau berkomitmen dengan Sarah...


__ADS_2