
Sarah kembali mengusap wajah dengan kedua tangannya. Dia sudah meminta ijin pada Panji untuk pulang ke kampung halamannya. Pria itu awalnya memaksa untuk ikut serta tapi Sarah menolak secara halus.
Perjalanan yang begitu melelahkan semakin membuat tubuhnya tidak karuan. Tora yang mengetahui mobil kakak'ny sudah terparkir segera berlari menghampiri.
Pintu mobil diketuk dan Sarah segera turun dari mobil. Mereka beriringan memasuki rumah sakit yang terlihat sangat lengang.
Detak jantung Sarah tak beraturan,dia memegang tangan Tora untuk sekedar memberikan sedikit ketenangan. Pintu kamar dibuka dan Sarah mengikuti langkah kaki Tora untuk masuk.
"Kakak"
Yunita menatap tajam pada Sarah dan segera bangkit dari tempat duduknya.
"Siapa yang mengundangmu kemari..?"
"Ibu sudahlah.."
"Tora... pasti kamu yang mengundang anak durhaka ini"
"Bukan Tora Bu...tapi aku"
Yunita memalingkan wajahnya dan berganti menatap tajam pada Sasha.
"Untuk apa...? dia bukan bagian dari keluarga kita lagi"
"Saya kesini mau mengambil anak saya.."
Dengan tenang Sarah mengatakan itu. Wajah Yunita memerah saat mendengar Sarah berbicara begitu formal padanya.
"Kamu tak ada hak untuk mengambil bayi itu,kamu bukan siapa-siapa. Lagi pula kamu tidak pernah memberikan apapun pada kami sebagai ganti pengambilan bayi Sasha"
__ADS_1
"Jelas ada... dengarkan saya nyonya Yunita,saya yang sudah mengeluarkan banyak uang untuk kehamilan dan proses melahirkan putri anda. Jadi anda tidak bisa mencegah saya membawa bayi itu"
Yunita kembali memasang wajah tidak percaya saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut Sarah.
"Tora.. bukankah kamu meminjam uang untuk Sasha melahirkan "
Tora menggelengkan kepalanya sembari menunduk.
"Jadi kamu membohongi ibu..?"
"Bu.. sudahlah, lagipula kita tidak menginginkan bayi itu"
"Berikan bayaran untuk kehidupan putriku selama sembilan bulan ini"
"IBU..."
Sarah mengeluarkan map biru dan segera mengeluarkan kertas juga sebuah bolpoin. Dia mendekati Sasha dan memberikan kertas itu supaya Sasha membacanya.
Tanpa melihat isinya Sasha segera menandatangani kertas itu.
"Apa...kamu mau berbuat apalagi..?"
"Saya akan mentransfer uangnya setelah kalian menandatangani surat perjanjian adopsi ini.."
Mata yunita membulat sempurna,dia tidak menyangka Sarah sudah menyiapkan segalanya untuk mengambil bayi yang baru lahir itu.
Yunita segera menandatangani kertas itu begitu juga dengan Tora.
"Kedepannya kalian tidak bisa mengambil ataupun mengakui bayi itu sebagai keluarga, karena kita bukan keluarga "
__ADS_1
Tora memalingkan wajahnya begitu juga Sasha. Tak ada satupun orang di ruangan itu yang berbahagia kecuali Yunita.
"Sasha...apa kamu yakin bayi itu akan kamu berikan padaku..?"
"Iya kak... karena aku akan keluar negeri setelah badanku pulih"
"Sasha apa yang kamu bicarakan..?"
"Maaf Bu...tapi keputusan ku sudah bulat,aku ingin membuka lembaran baru"
"Memangnya kamu punya uang..? bukankah hidupmu selalu bergantung padaku"
Tok tok tok
Pintu terbuka dan seorang perawat masuk mendorong bayi berbalut kain berwarna pink.
"Hari ini saya sudah bisa pulang ya sus..?"
"Iya Bu... setelah dokter visit,ibu bisa segera pulang"
"Bagaimana dengan bayinya..?"
"Bayinya sudah selesai dengan cek yang terakhir dan dinyatakan sehat"
Setelah perawat itu keluar ruangan, Sasha segera bangun secara perlahan dan menuntun Sarah untuk mendekati bayi merah itu.
"Bawalah pulang kak..bayi itu sudah menjadi milikmu"
Sarah memindai wajah kecil yang sedang terlelap itu. Dia sudah jatuh hati saat pertama kali melihat wajah mungil itu terpampang di ponselnya..
__ADS_1