
Akhirnya aku mengalah pada keadaan. Rencana akan libur seminggu ku percepat menjadi dua hari saja. Aku kembali ke kota dengan hati yang sangat nelangsa. Aku sedih karena ibu seakan tidak menginginkan kepulanganku.
Aku sampai di rumah kontrakan menjelang pagi karena berangkat dari rumah malam hari. Rasa lelah menggelayuti tubuhku. Setelah membersihkan diri akupun merebahkan tubuhku di tempat tidur.
Tak lupa kunyalakan ponsel yang dua hari ini kumatikan. Rencana ingin istirahat terganggu karena ponselku tak kunjung henti berdering. Pesan bertubi-tubi masuk dan pengirimnya tidak lain adalah sosok menyebalkan itu.
Berkali-kali aku memijit pelipis membaca pesan darinya. Banyak sekali pesan ancaman yang dia kirimkan. Aku hanya bisa menghela nafas dan meletakkan kembali ponselku ke tempatnya semula.
Tok tok tok
Mataku terbuka saat mendengar ketukan pintu. Ku melihat jam dinding, ternyata waktu sudah sore hari. Tak terasa aku tertidur begitu lama.
Dengan malas aku membuka pintu setelah mengintip lewat jendela.
"Lama sekali.."
Aku hanya diam tak menjawab, kepalaku masih terasa pusing dan nyawaku belum terkumpul semua sepertinya.
"Mandi sana..aku tunggu di depan"
"Pak..saya lelah"
Pria itu mengamatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Baiklah..kita gak usah pergi,makan disini saja"
Dia duduk di kursi kayu dan mengambil ponselnya. Tangannya memencet tombol berkali-kali, entah apa yang dia lakukan.
__ADS_1
"Mandilah sana.. sebentar lagi makanan akan sampai"
Aku tak bisa membantah lagi,aku hanya menurut saja dan langsung masuk kedalam kamar mandi.
Makanan sampai setelah aku selesai berganti pakaian. Seperti biasa aku membawa piring dan air dingin. Rupanya Panji memesan Chinese food sehingga kami tidak perlu memakai piring atau sendok dari rumah.
"Kamu dari mana..?"
"Pulang.."
"Kenapa tidak memberi tahu terlebih dahulu padaku.."
"Maaf.."
"Untuk.."tanyanya lagi.
"Why...?"
"Aku tidak punya siapa-siapa selain ibu dan adik-adikku tapi sekarang mereka membuangku begitu saja .."
Pria itu memeluk tubuhku dan mengusap pucuk kepalaku.
"Siapa yang memberimu hak untuk menangis..? siapa yang bilang kamu tidak punya siapa-siapa..? Aku ada disini..kamu milikku.."
Aku semakin menangis mendengar ucapannya. Bahkan orang yang baru dekat denganku beberapa bulan ini menganggap ku miliknya. Sedangkan ibu..ibu membuangku dengan begitu mudahnya.
"Kenapa setiap bersamaku kamu selalu menangis..?"
__ADS_1
Aku masih saja terisak di pelukannya.
"Bisakah kita bercinta atau yang lainnya selain menangis.."ucapnya lagi.
Aku melepaskan pelukannya dan memukul lengannya kesal.
Pria itu tersenyum dan mengusap wajahku dengan kedua tangannya.
"Berhentilah menangis.. karena itu sangat menyakitiku"
Aku menatap wajah pria itu,pria yang selalu memberikan kejutan tak terduga padaku. Dia tidak pernah mengatakan gombalan cinta,melainkan perhatian dan perbuatannya yang membuatku merasa menjadi wanita yang istimewa.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu..?"
Aku menggelengkan kepalaku dan menyeruput minuman dingin yang berada di depanku.
"Aku tahu kamu sudah jatuh cinta padaku...kamu hanya tidak ingin mengakuinya saja"
"Makanlah.. sebelum makanannya dingin.." ucapku mengalihkan pembicaraan.
Dia hanya tersenyum melihat aku yang salah tingkah. Kami melanjutkan makan siang yang kesorean dalam keheningan.
"Kamu mau ikut..?"
"Kemana..?"tanyaku.
"Menginap dirumahku.."
__ADS_1
Tanpa sadar aku menganggukkan kepalaku dan itu membuatnya tercengang...